Friday, December 31, 2021

[Spoiler] Trash of the Count’s Family (#775)

 



Chapter 775: Bisakah Aku Istirahat Sekarang? (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Tasha bertanya kepada Alberu apa yang harus mereka lakukan. Kanselir Caro bertanya apa yang terjadi, dan menteri Askosan juga ingin mendengarnya karena mereka adalah sekutu. Alberu melihat ke sekeliling ruangan dan berpikir kalau tidak mungkin menyembunyikan berita tentang benda suci yang muncul di kuil Dewa Kematian. Sejauh ini, belum ada catatan resmi kalau Dewa Kematian mengirimkan sesuatu ke kuilnya. Mereka juga tidak memiliki Saint atau benda suci saat ini.

Kuil Dewa Kematian tidak berpengaruh di kedua benua itu meskipun Dewa Kematian adalah dewa yang menguasai kematian. Gereja Dewa Matahari yang dominan di benua barat telah kehilangan kewenangannya dan sedang berusaha memulihkannya. Itu mungkin memakan waktu cukup lama, jadi golongan agama yang lain ingin sekali menggantikan gereja Dewa Matahari.

Alberu berpikir mau bagaimana lagi dan menyuruh Tasha untuk membiarkan orang itu masuk. Dia memberi tahu semua orang kalau mereka semua harus tahu tentang informasi ini. Litana penasaran karena Alberu tidak pernah menggunakan nada tidak pasti seperti itu. Saat dia menatap Alberu, dia memperhatikan kalau Alberu tampak kesal. Pendeta itu masuk dan beberapa pendeta mengikutinya.

Clopeh terkejut melihat pendeta itu mengenakan jubah uskup. Satu-satunya pendeta di Puzzle City sekarang adalah para penyembuh. Ada beberapa Pendeta berpangkat tinggi, tetapi tidak ada uskup. Jadi seorang uskup berada di sini berarti mereka buru-buru menggunakan teleportasi untuk datang ke sini demi menyampaikan pesan. Menteri Askosan juga kebingungan. Pendeta itu menyapa Alberu dan memperkenalkan dirinya sebagai uskup dari kuil Dewa Kematian, mengabdi di ibu kota kerajaan.

Alberu memperhatikan kalau mata uskup itu dipenuhi dengan kegilaan dan keserakahan. Mungkin uskup itu ingin menjadi paus berikutnya. Uskup dengan banyak rambut putih itu berseru kalau Dewa Kematian mengirimkan benda suci ke kuilnya di ibu kota Kerajaan Roan. Keheningan memenuhi ruangan sejenak sebelum menjadi kisruh. Bahkan perwakilan Kerajaan Breck dan Whipper yang pendiam mulai berbicara.

Uskup itu tersenyum dan berkata kalau benda suci itu datang bersama firman dewa. Seseorang bertanya apakah uskup mendengar firman dewa itu, tetapi dia menyangkalnya, dengan mengatakan kalau firman dewa itu hanya ditulis di atas perkamen yang datang bersama dengan benda suci. Alberu mendesaknya untuk memberi tahu mereka lebih banyak. Uskup menutup matanya dan mulai menceritakan apa yang terjadi. (

Uskup mengatakan kalau hari ini adalah hari doa bersama, jadi mereka berkumpul bersama untuk berdoa kepada Dewa Kematian dan untuk semua makhluk hidup di dunia ini. Menteri Askosan berkata, “Lalu?” dan uskup mengerutkan kening, tetapi melanjutkan. Dia mengatakan kalau mereka berdoa untuk kesejahteraan benua timur dan barat. Menteri Askosan berkata “Lalu?” lagi dan uskup berkata, “Ahem! Karena itu!" dan mengabaikan menteri Askosan. (

Kegelapan tiba-tiba menyelimuti kuil, dan cahaya terang jatuh di altar di tengah kuil. Askosan berkata, “Lalu?” dan uskup terbatuk dan mengabaikan menteri itu lagi. Sebuah perkamen kemudian muncul bersama dengan benda suci. Kanselir Caro tidak dapat menahan ketidaksabarannya dan menanyakan benda seperti apa yang menjadi benda suci itu, tetapi uskup menggelengkan kepalanya, dengan sedih mengatakan kalau ia tidak dapat menyentuhnya.

Alberu memintanya untuk mengklarifikasi, dan uskup mengatakan kalau ketika dia mencoba menyentuh benda suci di altar, arus listrik padam. Dia pikir akan berbahaya jika dia menyentuhnya sembarangan. Perwakilan Breck bertanya apa yang harus mereka lakukan dengan benda tersebut. Uskup mengatakan kalau firman dewa menulis tentang siapa yang akan memiliki benda suci itu.

Uskup berbicara dengan suara tenang dan jelas kalau pemilik benda suci adalah satu-satunya orang yang hidup meskipun jantungnya ditikam, dan orang yang menyelamatkan benua. Seseorang menghela napas ketika mereka tahu siapa orang itu. Litana memejamkan mata dan merinding ketika dia menyadari betapa hebatnya Cale.

Sementara itu, Clopeh menggumamkan sesuatu seperti Dewa Kematian mengakui Cale dan memberinya benda suci, namun orang-orang di sini mengatakan hal lain. Litana terdiam saat mendengarnya dan membuka matanya. Dia melihat Clopeh dengan kepalan tangan bergetar sambil memelototi orang-orang di ruangan itu dengan menakutkan. (Singkatnya, Clopeh marah karena para perwakilan hanya ingin memberi Cale medali. Padahal, bahkan Dewa Kematian saja memberi Cale benda suci!) Uskup dan para pendeta membungkuk ke Alberu dan berkata kalau mereka harus bertemu Komandan Cale.

Alberu mengatakan kalau Cale tidak dalam kondisi untuk bertemu siapa pun. Ekspresi Uskup menjadi muram karena dia sudah mengetahuinya. Dia telah pergi ke paviliun tempat Cale berada, tetapi kembali ketika para kesatria menyuruhnya pergi mencari Alberu terlebih dahulu. Uskup dengan sungguh-sungguh memohon kepada Alberu karena hanya Cale yang bisa mengetahui barang apa itu. Para pendeta juga membungkuk dan memohon pada Alberu.

Alberu memberi tahu mereka kalau bukan dia yang memutuskan, tetapi hanya Cale. Tetapi dia bertanya apakah itu sesuatu yang bisa diterima Cale jika dia pergi ke kuil Dewa Kematian. Dia bertanya karena dia tidak ingin menyusahkan Cale dengan masalah apa pun dari kuil Dewa Kematian. Uskup menjawab kalau Cale bisa segera mendapatkannya. Alberu mengangguk dan berpikir kalau Cale tidak akan mengalami masalah kalua begitu.

Namun, uskup menambahkan kalau semua orang di benua itu akan senang melihatnya. Alberu terkejut dan melihat uskup tersenyum cerah dan mengatakan dengan penuh semangat apa yang dia bayangkan. Itu akan menjadi pemandangan yang luar biasa di mana benda suci itu akan bertemu dengan pemiliknya, jadi semua orang harus bersukacita dan merayakannya ketika mereka menyaksikannya. Uskup membayangkan dalam benaknya kalau dia akan selangkah lebih dekat ke posisi paus.

Dia terus mengatakan kalau orang-orang telah menderita perang selama beberapa tahun terakhir. Jadi pemandangan seperti itu akan menjadi titik awal awal perdamaian. Uskup dengan sungguh-sungguh mengungkapkan keinginannya yang kuat akan kekuasaan sambil menutupinya sebagai tujuan mulia. Uskup berseru untuk memercayai dia dan golongan agamanya karena mereka akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk menjadikan komandan sebagai tamu paling agung, dan memberi tahu orang-orang bahwa perdamaian telah datang.

Alberu membalas dalam pikirannya kalau mereka seharusnya tidak melakukan itu. Tasha berkomunikasi dengan matanya kalau apa yang dipikirkan uskup tidak boleh dibiarkan. Alberu berpikiran sama, karena jika itu terjadi, Cale lebih suka menyelinap ke kuil dan mencuri benda suci dan firman dewa. Alberu berkata lagi kalau mereka harus mendengar pendapat Cale terlebih dahulu.

Tapi tempat itu berguncang keras dan Alberu menatap ke luar jendela. Seseorang berteriak 'kuil!' dan mereka semua melihat kuil SG masih mengambang di udara. Kuil itu rusak di sana-sini, dan masih memancarkan aura suci, tetapi kuil itu sekarang sedang berguncang.

***

Cale perlahan membuka matanya dan ketakutan. Ron, CH, dan Raon senang melihatnya bangun, tetapi Cale buru-buru memanggil Raon yang tersenyum cerah padanya. Raon berkata, “Manusia! Ini adalah buku menjijikkan yang mengejutkan manusiaku dengan memukul wajahnya, kan? Aku tidak akan membiarkan Dewa Kematian lolos begitu saja!” Raon hampir melempar buku hitam itu ke arah bola api yang melayang di udara.

Tapi Cale dengan tegas dan cepat berkata, "Tidak, itu berharga." Raon terkejut, dan Cale tersenyum. Ron dan CH menyadari kalau itu adalah salah satu senyum lembut Cale yang langka [Omo! Cale senang sekali bisa ketemu LSH ^^]. Cale mengulangi kalau itu sangat berharga baginya. Raon mengatakan kalau dia tidak tahu dan hanya mencoba menakut-nakuti Dewa Kematian. Cale berkata tidak apa-apa dan menerima buku itu. Dia dengan hati-hati membukanya dan membalik halamannya. Dia kemudian menemukan apa yang dia cari.

Tertulis dalam bahasa Korea adalah kata 'Endable'. Itu berarti LSH bereinkarnasi di Kerajaan Endable. Tetapi pada saat itu, Super Rock memanggil Cale. Super Rock berkata kalau mereka harus mendaratkan kuil SG ke tanah, atau sekarang lebih tepatnya, kuil milik Cale. Cale melihat ke luar jendela dan melihat kuil berguncang. Dia juga merasakan jeritan sunyi dari kuil dan rasa sakitnya. Cale memejamkan mata karena dia ingin pergi ke Endable saat ini juga, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

***

[Baca Spoiler TCF Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Sumber: https://adarterra.wordpress.com/ 


<<<

Chapter 774      

>>>            

Chapter 776

===

Daftar Spoiler 

Thursday, December 30, 2021

Remarried Empress (#287) / The Second Marriage

 



Chapter 287: Navier Marah (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Aku merasa dua kali lebih bersalah. Kata-kata, 'Apakah kamu berakting lagi?' muncul di ujung lidahku, tetapi keinginan untuk menarik bibirnya yang imut bersama dengan betapa tampannya dia membuatku tidak bisa berbicara.

Heinley, mungkin berpikir aku masih 'marah', mengangkat tangan kananku dengan kedua tangannya dan dengan lembut menggosok pipinya ke telapak tanganku.

“Jangan marah. Ya?"

Bagaimana aku bisa marah melihat wajahnya yang tampan? Akhirnya, aku memutuskan.

"Aku tidak marah."

"Apakah kamu serius?"

“Hanya saja…”

Setelah ragu-ragu, aku mengaku dengan jujur,

"Aku pikir apa yang kamu katakan saat itu mungkin benar."

Aku baru saja memikirkan hal ini. Aku berusaha keras untuk tidak mencintai Heinley, tetapi mau tidak mau aku merasa dia tampan. Dalam arti tertentu, bukankah aku sangat menyukai tubuhnya? Tapi kemudian, karena aku merasakan beban ini di hatiku…

Sedikit ersenyum, Heinley menggerakkan bibirnya beberapa kali. Kemudian, tepat ketika dia akhirnya akan mengatakan sesuatu, sebuah teriakan datang entah dari mana. "Tuan Muda, Anda tidak bisa pergi ke sana!"

Begitu aku melihat ke arah datangnya suara dengan rasa ingin tahu, seorang anak kecil muncul dari semak-semak.

Siapa dia?

Aku menatap bingung pada bocah lelaki yang belum pernah kulihat sebelumnya, dan Heinley berkata, 'Ah,' mengerutkan kening.

"Apakah kamu kenal dia?"

Ketika aku bertanya kepadanya dengan bingung, Heinley menjawab dengan kepala miring, “Ya. Aku pernah melihatnya sebelumnya…”. Meskipun anak itu tampak tidak asing, dia tidak mengingatnya dengan baik.

Sebaliknya, anak itu langsung mengenali Heinley dan berteriak,

"Ayah!"

… Ayah?

Melihat Heinley dengan bingung, dia menggelengkan kepalanya dengan tergesa-gesa dan berseru seolah dia ingat,

"Ah. Ini keponakan McKenna!”

"Jadi kamu…"

"Tidak, anak ini tidak ada hubungannya denganku."

Terlepas dari kata-katanya yang kasar, Heinley tersenyum dan segera menggendong anak itu ketika dia berlari, berseru, "Ayah!"

“Bagaimana kabarmu, Selly?”

"Namaku bukan Selly."

Tapi sepertinya dia bahkan tidak ingat namanya.

"Jadi, namamu Sen?"

Saat itu sebuah suara datang dari belakang, "Ini Sebastian, Yang Mulia."

Saat aku menoleh, McKenna muncul dengan tangan di pinggang, seolah dia kesal.

Anak itu juga berteriak kepada McKenna, "Ayah!"

“Maaf, Yang Mulia Permaisuri. Dia keponakanku, dia tidak ada hubungannya dengan Kaisar. Dia ingin melihat istana kekaisaran, jadi aku mengizinkannya pergi ke tempat-tempat tertentu. Aku tidak tahu bagaimana dia sampai di sini.”

Memanggil McKenna dengan sebutan ayah, anak itu berlari ke arahnya. McKenna menggendongnya dan mencoba menenangkan anak yang gelisah di pelukannya sambil mengatakan bahwa bocah lelaki itu suka menghentikan orang lain untuk menikah. Kata-katanya tidak baik, tapi jelas dia mencintai keponakannya.

Saat aku tersenyum berpikir itu adalah pemandangan yang lucu, kali ini anak kecil itu memanggil aku, "Ayah!"

Heinley berbisik, "Ayah," tertawa seolah-olah dia menganggapnya lucu.

Setelah melirik Heinley dengan dingin, aku berjalan ke arah anak dalam pelukan McKenna dan mengelus kepalanya, lalu anak itu merengek meminta McKenna untuk menurunkannya, dan kali ini dia mendatangiku. Dia adalah anak yang sangat baik.

"Nak, berapa umurmu?"

“Dua belas tahun…”

“Kenapa kamu malah lagi-lagi berbohong? Yang Mulia, dia berusia tiga tahun.”

“Dua belas tahun!”

"Kamu berusia tiga tahun!"

Saat aku melihat McKenna berdebat dengan keponakannya, seorang wanita yang belum pernah aku lihat sebelumnya dibawa secara paksa oleh para kesatria.

Dia berulang kali mengklaim, "Aku benar-benar bukan orang yang mencurigakan!" Tetapi ketika dia melihat McKenna, dia berteriak dengan wajah yang sepertinya akan menangis, "Tuan!"

"Bagaimana bisa kamu ditangkap lagi?"

"Saya ditangkap karena membuat keributan di istana kekaisaran saat mengejar tuan muda, tuan, tolong beri tahu para kesatria ini kalau saya bukan orang yang mencurigakan!"

Semua anggota Keluarga McKenna bersuara lantang.

Mau tak mau aku tertawa ketika McKenna mengungkapkan identitas anak dan wanita itu kepada para kesatria.

Setelah beberapa saat, McKenna meminta maaf kepada kami, membawa anak dan wanita itu ke tempat lain. Saat aku melihat mereka pergi, mataku tiba-tiba tertuju pada Heinley.

Sovieshu tidak sabar untuk memiliki anak. Bagaimana dengan Heinley? Dari cara dia menggendong anak yang namanya bahkan tidak bisa dia ingat dengan baik, mungkinkah Heinley juga menginginkannya?

Ketika aku mengkhawatirkan apakah aku bisa punya bayi, Heinley memberi tahuku tentang rahasia ranjang mana dan kata-katanya membuatku berpikir kalau, bahkan jika aku benar-benar tidak subur, kali ini aku bisa punya bayi. Namun, meski sudah sering berhubungan intim, masih belum ada tanda-tanda kehamilan.

Tanpa sadar, aku meletakkan tanganku di perutku. Itu datar ... datar.

Aku bergidik saat mengingat kata-kata Sovieshu. Hanya karena tempat tidur mana memulihkan tubuh, bisakah aku benar-benar hamil? Saudara laki-laki Heinley dan Christa tidak pernah bisa punya bayi, kan?

Jika kami juga tidak bisa memiliki anak…

***

Seorang bayi…

Duduk di kursi goyang, aku meletakkan tangan di perut dan mencoba memikirkan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.

Aku tidak bisa membayangkannya. Apakah akan berbeda jika aku memiliki adik perempuan? Aku juga tidak menghabiskan banyak waktu dengan anak kecil.

Tiba-tiba, aku ingat betapa bahagianya Heinley ketika dia menggendong bocah lelaki itu, yang namanya bahkan tidak aku ketahui.

Meskipun dia tidak mengatakan apa-apa, apakah Heinley jauh di lubuk hatinya menginginkan seorang anak sebesar Sovieshu? Dengan adanya seorang penerus, tahtanya akan semakin kokoh, bukan?

"Yang Mulia, Kaisar ada di sini."

"Sekarang?"

Ini saat yang tepat, tapi... kenapa dia datang tiba-tiba?

Kami baru saja mengadakan pertemuan tentang Whitemond. Ini bahkan belum waktunya untuk makan malam bersama.

Tidak apa-apa jika dia datang untuk mencoba mengakhiri suasana canggung, tapi... Mau tak mau aku merasa sedikit gugup. Sama seperti Grand Duke Kapmen tiba-tiba datang dengan berita buruk tentang tim yang dikirim ke Whitemond, Heinley mungkin memiliki sesuatu yang mendesak untuk diberitahukan kepadaku, kan?

Dugaanku benar.

"Ratuku, ada sesuatu yang tidak menyenangkan yang harus kukatakan padamu."

Heinley duduk di seberangku dan membuka mulutnya dengan susah payah.

"Ini tentang wanita itu."

Rashtalah yang disebut Heinley sebagai 'wanita itu'. Dan Heinley biasanya tidak membicarakan Rashta atau Sovieshu di depanku kecuali itu penting.

Meluruskan posisi dudukku, aku menahan kecemasan yang tumbuh.

"Apa yang terjadi?"

"Wanita itu menyewa tentara bayaran untuk membunuh."

Fakta bahwa Heinley memberitahuku ini…

"Apakah dia menargetkanku?"

Tanyaku, merasa bingung dan tidak bisa berkata-kata. Tapi Heinley menggelengkan kepalanya.

"Dia menargetkan ayah dan ibu."

"Maksudmu ayah dan ibuku?"

Terkejut, suaraku naik secara otomatis.

Tidak masuk akal jika Rashta ingin membunuhku, tetapi tampaknya lebih tidak masuk akal baginya untuk ingin membunuh orang tuaku.

"Mengapa?"

“Itu aku tidak tahu. Mereka bahkan bukan tipe orang yang akan menghadapi wanita itu secara terbuka.”

Heinley benar. Orang tua aku adalah tipe orang yang akan tinggal di rumah mereka jika mereka tidak ingin melihat Rashta dan Sovieshu. Itu sebabnya itu terasa aneh bagiku. Mengapa orang tuaku? Dan kenapa sekarang?

Hari-hari ketika Rashta seorang selir dan aku adalah permaisuri adalah masa lalu. Aku, aku sudah berada di Kekaisaran Barat, dan dia telah mengambil posisi Permaisuri Kekaisaran Timur. Kenapa dia harus menyerang orang tuaku sekarang….. Ah.

"Dia berpikir kalau keluargaku akan menghalangi anaknya."

"Aku pikir juga itu masalahnya."

"Apakah tentara bayaran itu sangat terampil?"

Aku bertanya dengan tergesa-gesa, sangat khawatir. Tapi kemudian, Heinley berkata sambil tersenyum tipis, seolah membuatku tenang,

“Jangan khawatir, Ratuku. Informanku menukar tentara bayaran yang disewa oleh wanita itu dengan bawahannya.”

“Seorang informan?”

"Ya. Berkat dia aku bisa mengetahui hal itu.”

“Ah.”

Aku menekan tanganku ke jantungku. Mendengar kata-kata Heinley sedikit menenangkan jantungku yang berdebar kencang.

“Batas waktunya juga cukup lama sehingga kamu bisa tenang untuk saat ini.”

Suara Heinley meyakinkanku, tetapi dia masih terlihat serius.

"Tapi wanita itu mungkin telah menyewa lebih dari satu tentara bayaran, jadi tidak ada salahnya untuk mengambil tindakan pencegahan."

“Aku harus memberitahu orang tuaku. Perlu untuk memperkuat keamanan mereka.”

Aku menjawab setenang mungkin, tetapi nyala api membara di dalam diriku.

Ketika aku berada di Kekaisaran Timur, aku mengabaikan tindakan Rashta karena dia berada di bawah tanggung jawab Sovieshu.

Sovieshu memiliki kewenangan yang jauh lebih besar daripada Rashta, dan dialah yang menjadikannya selirnya, jadi Sovieshu harus bertanggung jawab atas tindakan dan kata-kata Rashta.

Selain itu, jika aku menggunakan semua kewenanganku untuk menekan Rashta, aku akan dianggap sebagai permaisuri yang jahat. Pada akhirnya, orang-orang bersimpati dengan orang yang lemah.

Namun, Rashta sekarang dalam posisi untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Tapi apa yang dia lakukan begitu dia memiliki kekuasaan adalah mencoba membunuh orang tuaku?

“Aku tidak bisa hanya berdiam diri.”

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 286          

>>>             

Chapter 288

===

Daftar Chapters 

Remarried Empress (#286) / The Second Marriage

 



Chapter 286: Navier Marah (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Sebelum tidur.

Sovieshu berhasil tenang setelah banyak menangis, dan mulai meratap dalam-dalam. Dia menganggap dirinya bodoh karena membeli lukisan Navier dengan impulsif.

'Berapa banyak orang yang datang dan pergi untuk membersihkan kamarku... Lebih buruk lagi, ada orang yang melihat lukisan itu karena itu tergantung di dinding.'

Bersembunyi di balik selimut, Sovieshu bersumpah pada dirinya sendiri untuk mencopot lukisan itu besok.

Namun, apa yang dilakukan Sovieshu keesokan paginya adalah tidak mencopot lukisan itu. Sebaliknya, dia memanggil pelukis istana.

Ketika pelukis istana tiba, dia menunjukkan lukisan itu dan memerintahkan,

"Ubah arah pandangan mata lukisan itu."

“Mata apa yang Anda maksud …?”

Pelukis itu bertanya dengan hati-hati. Ada dua orang di lukisan itu, keduanya melihat ke arah yang berbeda. Navier melihat ke satu sisi sementara Sovieshu melihat ke Navier. Sensasi yang disampaikan oleh lukisan itu akan berubah secara drastis tergantung ke arah mana mana itu memandang .

Pelukis itu mengira Sovieshu akan menyuruhnya mengubah arah pandangan matanya.

Tapi permintaan Sovieshu sangat berlawanan dengan apa yang diharapkan sang pelukis.

"Buat Navier menatapku."

Pelukis itu bingung sejenak. Apakah dia serius?

Sovieshu memasang ekspresi acuh tak acuh. Setidaknya, dia tidak terlihat bercanda.

‘Yah, tidak ada yang akan bercanda tentang hal semacam itu.’

Ketika pelukis itu mengangguk dan melangkah mundur, Sovieshu duduk di tempat tidur dengan perasaan lebih nyaman dan menghargai lukisan itu lagi.

***

Grand Duke Kapmen, Heinley, McKenna, pejabat yang terlibat, dan aku, bertemu untuk membahas apa yang terjadi di Whitemond. Kami mendiskusikannya selama beberapa jam.

“Apakah ada perselisihan baru-baru ini? Bukan dari sudut pandang kami, tetapi dari sudut pandang Whitemond, tindakan yang mungkin membuat mereka kesal.”

“Tidak, sampai sekarang tidak ada masalah.”

“Bagaimana dengan Duta Besar Whitemond? Apa dia tahu sesuatu tentang itu?”

“Dia juga bingung dan menghubungi Kementerian Luar Negeri.”

“Anggota tim mengatakan mereka tidak melakukan kesalahan, tapi mungkin mereka melakukannya secara tidak sadar, Yang Mulia.”

Berbagai pendapat bermunculan, namun alasan penangkapan tim tersebut masih belum diketahui.

McKenna berkata dengan prihatin,

“Skenario kasus terburuk adalah Whitemond bertindak seperti ini karena mereka tidak menyukai proklamasi diri Kekaisaran Barat. Jika itu masalahnya, itu akan menjadi masalah kecil… tidak, itu akan menjadi masalah besar.”

Heinley mengangguk dan menginstruksikan,

"Itu benar. Marquis Ketron, tanyakan kepada orang-orang Whitemond alasan tindakan ini ”

"Ya, Yang Mulia."

"Grand Duke Kapmen, tolong beri tahu bawahan Anda untuk tetap di sana, dan awasi situasinya."

"Saya akan melakukannya."

Setelah hampir tiga jam pertemuan, Marquis Ketron buru-buru pergi bersama para pengikutnya.

Apakah dia benar-benar bisa dipercaya? Saat aku melihat punggungnya yang menjauh dengan tatapan kosong, Heinley berkata di sampingku,

"Aku tidak berpikir dia sebodoh itu."

Namun, dia sudah bertindak bodoh sekali. Bukankah dia mencoba untuk memperkuat skandal antara Christa dan Heinley?

… Yah. Ada banyak orang yang melihat pertemuan rahasia antara Christa dan Heinley, jadi dia mungkin mempertimbangkan kalau itu adalah kebohongan yang layak untuk dicoba, dan bertindak sesuai dengan itu.

Bagaimanapun, Heinley tahu Marquis Ketron lebih baik daripada aku. Jadi aku mengangguk karena aku mempercayai Heinley, bukan Marquis.

Heinley juga mengangguk, lalu kami saling menatap.

Tapi itu tidak berlangsung lama. Begitu aku ingat bagaimana kami berpisah terakhir kali, aku tersipu. Ketika aku menoleh dengan tajam, Heinley bergegas meraih tanganku.

Pada saat itu. Grand Duke Kapmen tampak terpana pada Heinley, dan pergi seolah-olah dia melarikan diri, mengatakan dia memiliki urusan mendesak yang harus diselesaikan. Aku tidak tahu apa yang ada di kepala Heinley sehingga membuat Grand Duke Kapmen pergi dengan cara seperti itu…

“Ratuku.”

Ketika aku mencoba pergi ke tempat lain, Heinley memanggilku dan meremas tanganku. Kalau dilihat-lihat lagi, dia memiliki ekspresi penuh perasaan.

"Apakah kamu akan meninggalkanku sendirian?"

Meskipun tatapannya mampu membuat jantung siapa pun berdebar, aku sudah tahu kalau Heinley adalah aktor yang hebat. Aku tidak tahu apakah dia bersungguh-sungguh. Lagipula, siapa yang pertama kali membuat kita merasa canggung?

"Bukankah sudah waktunya untuk bekerja?"

Aku berbicara datar dan berbalik. Aku tidak berbohong, jadi aku langsung pergi ke kantorku. Sebelumnya aku berada di ruang tamuku, tetapi sekarang setelah ini terjadi, aku akan mencari beberapa pertanyaan tentang ini.

Ada kemungkinan bahwa kasus tim yang ditahan di Whitemond tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat, jadi aku harus mempertimbangkan untuk membawa tim lain.

Tetapi sebelum aku bisa beranjak ke kantorku, Heinley mendekatiku dari belakang.

"Ratuku, apakah kamu marah?"

"Tidak juga."

"Kamu terlihat marah."

"Aku tidak marah. Aku hanya tidak menanggapi omong kosong.”

"Kamu marah."

“Apakah kamu tidak sibuk? Kamu harus pergi bekerja juga, Heinley.”

Meskipun aku mempercepat langkahku, Heinley tetap ada di sampingku. Mungkin karena kakinya yang panjang.

Akhirnya, aku berhenti dan menatapnya dengan tangan tersilang. Heinley berhenti pada saat yang sama dan dengan ekspresi yang sangat sedih ekspresi berkata,

"Maafkan aku. Aku sangat emosional saat itu. Jika aku tahu kamu akan sangat marah, aku tidak akan mengatakan apa-apa.”

“…”

“Kupikir kita semakin dekat, tapi sekarang kita mulai menjauh… Aku benar-benar minta maaf.”

Heinley meraih tanganku dengan erat dan menggosok punggung tanganku dengan ibu jarinya.

Mendengar permintaan maafnya membuatku merasa bersalah. Akulah yang mencoba mengurangi waktu yang aku habiskan bersamanya di luar keinginanku.

Meskipun aku kesal karena dia mengatakan aku hanya menginginkan tubuhnya, Heinley juga bisa marah. Dia pernah mengatakan kepadaku beberapa kali kalau dia mencintaiku. Mungkin karena takut mencintainya, aku membuatnya kesepian?

Hatiku sakit saat mengingat Heinley tersenyum lebar dengan orang tuaku. Aku telah memutuskan untuk membuatnya bahagia. Bagaimana kami kembali seperti ini lagi?

Heinley meletakkan tangannya di leherku, mengangkat wajahku dengan jari-jarinya dan menatapku.

“Ratuku. Kenapa kamu terlihat sangat sedih? Aku tidak ingin melihatmu seperti ini.”

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 285          

>>>             

Chapter 287

===

Daftar Chapters