Sunday, December 19, 2021

Remarried Empress (#283) / The Second Marriage




Chapter 283: Sang Iblis Menunjukkan Keramahannya (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Dalam beberapa jam akan ada pesta teh.

Rashta mengatur poni yang menutupi bekas lukanya dan mengenakan gaun yang ringan dan nyaman yang tidak menekan perutnya buncit.

Belakangan ini, dia merasa tubuhnya lebih berat, kakinya mati rasa dan perutnya sering terasa ditarik-tarik. Dia pergi ke kamar mandi lebih sering dan anggota tubuhnya bengkak bahkan ketika dia tidak bergerak.

Terlepas dari upaya Viscountess Verdi untuk mengurangi ketidaknyamanannya, itu tidak berhasil.

"Bayiku. Sepertinya kamu akan segera lahir.”

Rashta berbisik kepada bayi itu saat dia membelai perutnya.

Akhir-akhir ini, dia juga mengkhawatirkan jenis kelamin bayinya.

Sejauh ini dia tidak peduli apakah itu laki-laki atau perempuan. Tidak apa-apa jika dia laki-laki karena itu sekaligus akan memperkuat posisinya sebagai penerus, tetapi bahkan jika itu perempuan, dia bisa memiliki anak laki-laki nanti.

Sebaliknya, dia pikir akan lebih baik untuk punya anak perempuan dan kemudian anak laki-laki.

Namun, sekarang setelah dia jauh dari Sovieshu, dia tahu kalau bayinya haruslah laki-laki.

Kekaisaran Timur tidak pernah diperintah oleh seorang kaisar wanita.

Demi anaknya dan juga dirinya, bayi yang akan lahir haruslah laki-laki.

Pada saat itu, seseorang mengetuk pintu.

Itu adalah seorang pelayan.

“Seorang kesatria meminta saya untuk mengantarkan amplop ini kepada Anda.”

Pelayan itu mengulurkan amplop itu ke Rashta, lalu menambahkan dengan ragu-ragu,

"Dia meminta saya untuk menyerahkan amplop ini kepada Anda dan agar Yang Mulia membalasnya ... dia juga memberi saya uang untuk melakukan ini."

"Berapa banyak?"

"Sangat banyak."

Apa isi surat itu? Rashta membuka amplop dan mengeluarkan surat itu, sementara si pelayan menunggu di samping.

Matanya menelusuri surat itu dengan cepat. Setelah begitu banyak teguran dari Sovieshu, dia sekarang bisa membaca dan menulis dengan lancar.

Setelah membaca surat itu, senyum kegembiraan muncul di wajah Rashta.

“Apakah itu kabar baik?”

"Ini berita yang menyenangkan."

Rashta pergi ke mejanya dengan surat di tangannya, mengeluarkan selembar kertas kosong dan mencelupkan ujung pena ke dalam tinta.

[Aku tidak tahu pasti apakah Navier tidak subur. Namun, meskipun dia menikah untuk waktu yang lama dengan Yang Mulia Sovieshu, dia tidak dapat memiliki anak, itu sebabnya aku percaya. Yang pasti, alasan Yang Mulia menceraikan Navier adalah karena masalah ketidaksuburan].

'Jika Sovieshu mengira Navier tidak subur, dia tidak akan menceraikannya untuk menikah denganku.'

Rashta berpikir kalau perceraian Sovieshu dengan Navier adalah bukti nyata ketidaksuburannya.

Rashta merasa senang menulis ini.

Dia berpikir sejenak dan menulis kalimat terakhir yang terdengar sedikit lebih ramah.

[Tapi sayang sekali jika dia kehilangan posisinya hanya karena asumsi yang tidak pasti. Navier akan menjadi permaisuri yang baik, jadi aku harap dia tidak akan terpojok oleh ketidakpastian].

Setelah memasukkan surat itu ke dalam amplop dan membubuhkan segelnya, Rashta menyerahkannya kepada pelayan.

Viscountess Verdi mulai menyisir rambut Rashta lagi, sementara dia bersenandung dalam suasana hati yang lebih baik.

Namun, suasana hati itu berubah begitu dia menghadiri pesta teh.

Topik bayi yang akan segera lahir muncul ke permukaan, tetapi itu karena kata-kata seorang bangsawan yang berkata dengan prihatin,

“Saat bayinya lahir, semoga dia bisa tumbuh kuat…”

Itu terdengar seperti harapan, tetapi jika seseorang mendengarkan dengan seksama, seseorang dapat menyadari kedengkian dalam kata-katanya.

Bahkan bangsawan lain menambahkan,

“Keluarga Troby telah setia kepada Keluarga Kekaisaran selama beberapa generasi. Tapi mereka mungkin tidak akan setia kepada kaisar berikutnya.”

Apakah para bangsawan ini mengutuk masa depan anakku?

Jijik, Rashta menatap mereka dengan cemberut. Bangsawan yang mengangkat topik Keluarga Troby melambaikan tangannya dan berkata dengan cepat,

"Yah, itu hubungan yang sulit untuk ditangani."

Bahkan setelah alasan ini, Rashta masih dalam suasana hati yang buruk. Tapi di dalam hati, dia tahu orang itu benar.

Keluarga Troby tidak senang dengannya, jadi tentu saja mereka tidak akan setia kepada anaknya.

Bahkan ketika anak itu dibesarkan sebagai putra mahkota, atau bahkan ketika dia dewasa dan menjadi kaisar, mereka mungkin masih tidak senang dan menghalangi jalannya.

Rashta merasa merinding hanya dengan membayangkannya.

Meskipun anggota Keluarga Troby jarang bekerja sebagai pejabat pemerintah, mereka memiliki pengaruh besar di masyarakat kelas atas.

Juga, Marquis Farang. Bagaimana dengannya?

Dia mewarisi posisi marquis sejak masih muda, memiliki kepribadian pemberontak dan menyimpan dendam mendalam terhadap Rashta atas pengusiran temannya Koshar.

Pria ini juga tidak akan mendukung anaknya.

‘Aku harus mengurus ini.’

Begitu dia kembali ke kamarnya setelah pesta teh, Rashta tahu apa yang harus dia lakukan.

Dia sudah melakukan beberapa hal buruk untuk bertahan hidup di istana kekaisaran. Dia tidak punya masalah menambahkan beberapa hal lagi ke daftar.

‘Aku akan melindungi bayiku.’

Dia akan melenyapkan siapa saja yang mungkin menghalangi jalan anaknya. Begitu Rashta mengambil keputusan, dia memanggil tentara bayaran Viscount Roteschu.

Tentara bayaran itu muncul kurang dari tiga jam kemudian. Rashta melemparkan kalung permata besar ke tentara bayaran itu dan memerintahkannya,

"Kamu bilang kamu juga membunuh demi uang, kan?"

"… Iya."

"Kamu bisa membunuh bangsawan?"

Tentara bayaran itu tertawa seolah-olah dia telah mendengar sebuah lelucon.

"Tidak ada perbedaan antara membunuh bangsawan atau rakyat jelata."

Rashta senang mendengar kata-kata itu.

"Kalau begitu bunuh Duke dan Duchess Troby."

"!"

“Mereka pergi ke Kekaisaran Barat untuk sementara waktu, tetapi mereka akan segera kembali. Kamu tidak perlu terburu-buru membunuh mereka. Lakukan saja sebelum bayi Rashta lahir. Jadi bunuh mereka sesukamu saat kamu siap.”

Tentara bayaran itu menjawab setelah berpikir sejenak.

“Jika Anda ingin saya membunuh Duke dan Duchess Troby, Anda harus membayar lebih. Ini lebih sulit dan berbahaya.”

“Jangan pedulikan uangnya.”

"Bayarannya sepuluh ribu krang."

"Sepuluh ribu krang?"

Rashta terkejut. Jumlahnya lebih tinggi dari yang dia harapkan.

"Apakah kamu mengatakan kalau untuk membunuh satu orang kamu membutuhkan sepuluh ribu krang?"

“Itu bukan satu orang, itu dua orang. Selain itu, ini tidak seperti membunuh dua orang yang sedang lewat. Pasti ada banyak penjaga di sekitar mereka, dan untuk membunuh mereka aku harus melewati mereka semua.”

'Tetap saja, bukankah sepuluh ribu krang terlalu banyak?'

Rashta menggigit bibir bawahnya.

Dia adalah tentara bayaran yang dibawa Viscount Roteschu, dan sayangnya dia sama serakahnya dengan si Viscount,

“Setelah aku membunuh mereka, aku juga harus melarikan diri, dan Keluarga Troby akan mengirim orang untuk membunuhku. Putri mereka, yang berada di Kekaisaran Barat, mungkin mencoba membunuhku juga. Jika Anda harus mempertaruhkan hidup Anda dan bahkan memikirkan keselamatan Anda setelah itu, sepuluh ribu krang benar-benar tidak seberapa, bukan?”

Dia tidak bisa menyangkalnya.

Rashta akhirnya mengirim tentara bayaran itu pergi dengan mengatakan kalau dia setujua.

'Sepuluh ribu krang ...'

Tapi sepuluh ribu krang masih jumlah yang terlalu banyak.

Ketika dia meminta uang kepada Baron Lant, dia akan segera memberikannya, tetapi jika dia mengatakan kepadanya kalau dia membutuhkan sepuluh ribu krang, dia akan menanyakan alasannya. Dia adalah pria yang menyebalkan.

'Apa yang harus aku lakukan?'

Pada akhirnya, Rashta memutuskan untuk meminta bantuan Duke Elgy lagi. Tidak ada orang lain yang bisa memberinya uang sebanyak itu.

Untungnya, kali ini Duke Elgy meraih tangan Rashta sambil tersenyum,

"Tentu saja aku akan memberikannya padamu."

“Aku selalu menyesal…”

“Tidak apa-apa. Kamu akan membayarku kembali untuk semuanya, kan?”

"Tentu saja. Jangan khawatir."

Setiap kali Duke Elgy meminjamkan uangnya, dia memastikan untuk menuliskannya di sebuah dokumen.

Rashta menulis namanya di dokumen dan menatap Duke.

Ketika tatapan mereka bertemu, Duke Elgy bertanya sambil tersenyum, "Ada apa?"

Rashta menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya berpikir kalau Duke benar-benar tampan."

"Kamu juga cantik."

“Tidak, sebenarnya… jika iblis itu ada, aku pikir dia akan terlihat sepertimu.”

"Iblis?"

Sudut mulut Duke Elgy terangkat seolah-olah dia menganggapnya lucu.

"Tanpa bermaksud menyinggung. Hanya saja aku teringat apa yang aku dengar di suatu tempat. Iblis itu rupawan agar dia bisa memikat orang-orang…”

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]


Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 282            

>>>             

Chapter 284

===

Daftar Chapters 


Remarried Empress (#282) / The Second Marriage




Chapter 282: Sang Iblis Menunjukkan Keramahannya (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Tubuh kecil Queen terbaring lemah di tempat tidur, lebih terentang dari biasanya, dengan paruhnya yang sedikit terbuka dan kepalanya yang terkulai. Dia tampak seperti rumput laut.

“Heinley. Heinley? Heinley!”

Aku mencoba membangunkannya beberapa kali, tetapi Queen tidak bergerak sedikit pun. Aku pindah dari tempat tidur berlutut dengan Queen di lenganku. Dokter istana! Dokter istana!

Tidak, bukan dokter istana! Saat ini Heinley bukanlah Heinley! Tapi itu rahasia, aku tidak bisa mengungkapkan kalau dia adalah seekor burung.

Jadi, haruskah aku membawa dokter hewan? Apakah tubuh Queen sama dengan burung biasa? Apa yang biasanya dilakukan dalam situasi ini? Biasanya… McKenna!

McKenna juga bisa berubah menjadi burung. Karena itu, dia pastinya tahu siapa yang biasanya merawat Heinley ketika dia terluka dalam wujud burungnya.

Aku segera meninggalkan kamar tidur bersama setelah menempatkan Heinley kembali di antara bantal-bantal.

“Nona Rose, tolong panggil McKenna. Cepatlah."

Sementara Rose pergi mencari McKenna, aku segera mandi, mengganti pakaianku yang berbau alkohol, dan mengikat rambutku. Tak lama setelah aku mulai mondar-mandir di sekitar ruangan, McKenna muncul.

“Yang Mulia, ada apa? Saya diberitahu kalau ini adalah masalah yang mendesak.”

Setelah meminta Rose pergi, aku berkata kepada McKenna,

“Tunggu di sini sebentar.”

"Hah?"

Aku segera bergegas ke kamar tidur bersama, memeluk Queen, dan kembali ke kamarku.

Melihat Queen tak berdaya, McKenna terkejut,

"Ya ampun, Yang Mulia mabuk!"

Hah?

Mabuk?

Aku masih belum menjelaskan apa saja yang telah terjadi.

Saat aku menatapnya dengan keheranan, McKenna mengangkat alisnya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Ups, tidak mabuk?"

Ketika aku memberi tahu dia detailnya, alis McKenna mengendur dan dia melepaskan tangannya dari mulutnya,

“Jadi, dia benar-benar mabuk. Dia seringkali berubah menjadi burung ketika dia mabuk. Yah, itu jauh lebih baik daripada orang yang berubah menjadi anjing pemarah.”

"Meski begitu, bagaimana bisa dia masih tidak sadarkan diri setelah satu hari berlalu?"

“Kadang-kadang ini terjadi ketika dia minum dalam wujud burungnya.”

Minum dalam wujud burungnya? Apakah itu mungkin?

"Jika Anda membiarkannya seperti itu, dia akan bangun dengan sendirinya."

McKenna menertawakanku.

"Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia."

Baru saat itulah aku merasa lega.

"Terima kasih."

“Tidak perlu. Ini sudah tugas saya.”

Setelah McKenna pergi, aku membawa Queen kembali ke kamar tidur bersama, menidurkannya, dan kembali lagi ke kamarku untuk meminta Countess Jubel membawakan sup bening.

Sup disiapkan dengan cepat. Ketika aku memasuki kamar tidur membawa sup, Queen masih terbaring lemas di tempat tidur.

Aku meninggalkan mangkuk sup di meja samping tempat tidur, lalu duduk di sebelah Queen dan dengan hati-hati menyentuh tubuhnya.

Melihatnya dari dekat, aku senang. Jelas kalau dia tertidur lelap karena pengaruh alkohol.

Melihat betapa nyamannya dia, aku spontan tersenyum.

Tidak… tidak mungkin.

Aku dalam masalah. Siapa pun bisa tahu kalau aku semakin jatuh cinta pada Heinley setiap harinya.

Jika dari awal aku lebih mengamatinya dengan teliti, aku akan menyadari kalau itu karena dia mabuk. Aku bahkan tidak menyadarinya, jadi aku segera memanggil McKenna.

"Apa yang harus aku lakukan?"

Meskipun aku bertanya dengan suara keras, Heinley sedang tertidur, jadi dia tidak akan bisa menjawab.

Aku membungkuk dan menyandarkan kepalaku dengan pelan di dadanya. Saat kehangatan tubuhnya mencapai dahiku, mataku terpejam sendiri.

“Apa yang harus aku lakukan, Heinley? Kamu punya begitu banyak rahasia. Jika aku mencintaimu, itu pasti akan sulit untuk kutanggung.”

Ini semua karena kamu licik, Heinley.

Setelah memastikan kalau dia tertidur lelap, aku membelai punggungnya, dan mencium keningnya yang lembut.

* * *

Seperti yang dikatakan McKenna, Heinley bangun tiga jam kemudian.

Sangat lucu dan menyenangkan melihatnya mengepakkan sayapnya sambil bertanya dengan matanya apa yang terjadi.

Tapi sejak hari itu, aku benar-benar menyibukkan diri dengan bekerja.

Aku mencoba untuk tetap sibuk dengan pikiran aku agar tidak jatuh cinta sepenuhnya pada Heinley.

Bahkan jika aku menyukainya, tidak mencintainya, atau bahkan jika aku mencintainya hanya sampai pada titik agar tidak menderita, aku ingin mempertahankan garis itu.

Untungnya, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan, jadi aku tidak perlu membuat-buatnya.

Perdagangan dengan Rwibt juga berkembang pesat, dan tiga tim penguji pertama dibentuk.

Sekarang kami harus menunggu hasil yang akan mereka bawa, dan berdasarkan hasil tersebut menentukan tindakan korektif yang akan diambil.

Setelah aku menyampaikan harapan baikku kepada tiga tim penguji sebelum mereka berangkat ke Rwibt, aku kembali ke kantor dengan kelelahan.

Setelah bekerja selama beberapa hari dengan hanya tidur tiga jam, rasa lelah mulai menguasaiku. Aku minum dua cangkir kopi kental, tetapi kelopak mataku masih terasa sangat berat.

Pada akhirnya, aku sepertinya tertidur. Ketika aku membuka mata, tubuhku miring ke satu sisi.

Mengapa aku tidak terjatuh? Aku sedang bersandar pada apa?

Mendongak, aku bisa melihat kalau aku sedang bersandar di bahu Heinley.

“Heinley?”

Kapan dia sampai di sini? Begitu aku memanggilnya dengan kebingungan, Heinley terkejut dan secara tidak sengaja membenturkan kepalaku dengan kepalanya.

“Itu tidak seberapa.”

"Hah?"

“Apakah kamu merasa terganggu melihatku pingsan seperti itu karena alkohol?”

"Mengapa kamu bilang begitu?"

"Kamu menghindariku sejak hari aku pingsan karena terlalu banyak minum alkohol."

“Aku tidak menghindarimu. Kita selalu bertemu satu sama lain di malam hari.”

“Hanya di malam hari.”

“…”

“Setiap kali aku mengunjungimu di siang hari, kamu sibuk.”

“Aku benar-benar sibuk.”

Itu benar. Aku tidak berusaha menghindari Heinley, aku hanya berusaha menyelesaikan pekerjaan sebanyak mungkin.

"Aku mengerti."

Heinley menatapku dengan cemberut dan berkata,

“Kamu mencoba menghindariku dengan menjadi sibuk, kan? Kamu mengerjakan hal-hal yang bisa dikerjakan nanti.”

"…Itu tidak benar."

Ketika aku menjawab lagi, Heinley memegang tanganku dengan kuat dan bertanya,

"Jadi, apakah itu mengganggumu kalau aku menjadi Queen saat mabuk?"

Saat dia memegang tanganku dengan kuat, dia membelai bagian belakang tanganku dengan ibu jarinya, tetapi dia memasang ekspresi yang sangat khawatir.

"Sama sekali tidak."

Aku menyangkalnya lagi, Heinley menutup mulutnya dan menurunkan pandangannya.

Aku tidak ingin menyakitinya. Sungguh, aku tidak begitu. Aku hanya ingin menjaga garis agar aku tidak hanyut oleh arus.

Hatiku hancur melihat Heinley sedih, aku merasa bersalah.

Haruskah aku mengungkapkan perasaanku dengan lebih jelas? Tapi bagaimana caranya? Aku pikir aku mencintaimu, tetapi aku hanya ingin mencintaimu sekadarnya saja, haruskah aku mengatakan itu?

Tidak dapat menahan dorongan hati, aku menciumnya, meletakkan tanganku di rambut pirang lembutnya dan membelainya, memiringkan kepalaku dan menyandarkan dahiku ke dahinya.

“Kamu sangat tampan, Heinley.”

Aku berbisik, mencium lembut wajahnya.

"Ratuku ... Navier."

Saat aku menyelipkan tanganku ke bajunya dan menggigit daun telinganya, Heinley mengerang pelan.

Aku memasukkan perasaanku ke dalam kotak dengan paksa, tetapi akhirnya keluar, tiba-tiba merasa pria ini sangat manis sehingga sulit untuk kutahan.

Perlahan aku menggerakkan tanganku ke bawah ke arah celananya saat aku membelai seluruh tubuhnya.

“Heinley. Lebarkan kakimu."

Tapi sebelum aku bisa mencapai hartaku, Heinley mengencangkan kakinya dan berbalik ke belakang.

Saat aku bertanya-tanya mengapa dia melakukan ini, dia menatapku dengan pandangan kecewa.

“Heinley?”

Begitu aku menyebut namanya, mulutnya membuka dan menutup beberapa kali.

Aku tidak tahu mengapa, tetapi dia memiliki ekspresi yang sangat rumit. Setelah beberapa saat, Heinley menutupi wajahnya dan bertanya,

“Ratuku. Apakah kamu hanya… tertarik dengan tubuhku?”

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 281           

>>>             

Chapter 283

===

Daftar Chapters 


Saturday, December 18, 2021

[Spoiler] Trash of the Count’s Family (#770)




Chapter 770: Lahirnya Seorang Pahlawan? (4)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Orang-orang di dalam bisa mendengar suara anak-anak yang mengatakan kalau semua orang baik-baik saja kecuali Eruhaben. Pintu terbuka dan Sheritt masuk lantas menutup pintu. Dia mendekati Eruhaben sambil memegang guci itu, berkata dengan suara tenang kalau dia harus hidup dan merawat Raon dan anak-anak lainnya. Cale melihat penyesalan di mata Eruhaben. Sheritt melanjutkan kalau ada anak-anak serigala dan Lock juga. Jadi Eruhaben harus mengurus mereka sendiri.

Sheritt kemudian mengucapkan satu kata terakhir, 'Tolong.' Eruhaben berdiri. Rambut emasnya kini telah berubah menjadi abu-abu kusam. Cale melihat retakan dari ujung jari Eruhaben. Kabarnya ketika seekor naga mati pada waktunya, tubuh mereka akan kembali ke alam. Apakah waktu itu sekarang telah tiba bagi Eruhaben? Tetapi Eruhaben mengatakan kalau dia masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan di tahun-tahun berikutnya.

Dia tersenyum lembut, tapi itu senyum licik. Matanya sepertinya telah membuat keputusan. Dia perlahan mengangkat guci itu dan mengambil napas dalam-dalam. Cale melihat sekeliling dan semua orang tampak gugup juga. Eruhaben mengatakan kalau guci itu penuh dengan air. Dia kemudian membawa guci itu ke bibirnya tanpa ragu-ragu. Cale kemudian terkejut ketika melihat Eruhaben meminum airnya tanpa ragu-ragu. Sheritt bertanya kepada Cale mengapa, dan Cale menjawab kalau Eruhaben telah melupakan sesuatu.

Bud pernah memberi tahu mereka kalau guci itu akan terisi tergantung seberapa besar keinginan seseorang untuk hidup. Tetapi jika mereka minum terlalu banyak, mereka mungkin akan merasa mual dan sakit. Tapi Eruhaben tidak hanya berusaha menyembuhkan lukanya. Dia mencoba untuk memperpanjang hidupnya. Guci itu jelas akan pecah hari ini. Dan bahkan jika Eruhaben sakit akibat guci, itu tidak akan terasa 'sedikit sakit.' Cale berpikir kalau Eruhaben ingat ini, tetapi dari cara Eruhaben meminum airnya, sepertinya dia telah melupakannya.

Cale bertanya-tanya apakah ini baik-baik saja, tetapi Sheritt bersorak, berkata agar terus minum lebih banyak. Mila dan Rosalyn juga bersorak. Tapi Cale bertanya-tanya mengapa dia merasa cemas sementara bagian belakang kepalanya semakin dingin. Air terus-menerus mengalir keluar dari guci itu. Tiba-tiba, retakan muncul di guci. Mila dengan gembira mengatakan kalau warna di rambutnya akan kembali. Rambut abu-abu kusam itu berangsur-angsur menghilang dan mulai bersinar lagi.

Pada saat itu, Cale bertanya-tanya apakah Eruhaben tidak merasa sakit. Ekspresinya hampir menjadi cerah, tapi Eruhaben tiba-tiba gemetar saat gucinya retak lagi. Rosalyn dan Mila yang terkejut mencoba menyangga Eruhaben, tetapi Cale lebih cepat. Cale dengan tenang mengatakan kalau Eruhaben tidak boleh berhenti. Dia meraih dagu Eruhaben dengan satu tangan, dan guci dengan tangan lainnya.

Cale berkata, “Ketika kamu mengerang, tutuplah mulut dan berhenti minum. Jadi bernapaslah melalui hidung. Kalaupun berhenti sebentar, minumlah sampai habis walaupun sudah kenyang. Jangan berhenti bahkan jika kamu merasa sakit.” Jari-jari Eruhaben yang memegang guci gemetar. Cale bertanya kepada Eruhaben apakah dia ingat kata-kata Bud Illis. Eruhaben menutup matanya dan seluruh tubuhnya bergetar. Dia berkeringat di sekujur tubuhnya, tetapi tidak bisa berhenti sekarang. Eruhaben terus meminum airnya.

Dia menyadari betapa dia sangat ingin hidup. Guci itu terus pecah saat Eruhaben terus meminum airnya. Tubuhnya dipenuhi dengan vitalitas. Cale dengan tenang mengatakan kalau Eruhaben harus melihat Raon tumbuh dewasa. Eruhaben menjawab dengan tidak berhenti minum. Rosalyn memandang Cale. Dia mengkhawatirkan Eruhaben yang gemetar, tetapi merasa lega ketika dia melihat Cale yang sangat tenang. Mila kemudian mengatakan kalau guci itu mulai pecah.

Cale melepaskan tangannya yang memegang guci, dan setengah dari guci itu jatuh ke lantai. Pada saat yang sama, Eruhaben jatuh ke belakang. Mila segera menangkap Eruhaben dan membaringkannya di tempat tidur. Dia terbatuk dan Cale memegang Eruhaben dan memanggil naga itu dengan terkejut. Darah mengalir dari mulut sang naga. Cale tahu kalau efek sampingnya sekadar membuatmu merasa mual, tetapi tidak cukup sampai berdarah.

Darah merah gelap terus mengalir keluar dari mulut Eruhaben. Ini adalah pertama kalinya Cale melihat pendarahan seperti itu di antara rekan-rekannya. Saat dia menjadi khawatir, Kekuatan kuno angin mengatakan kalau Mila telah memperbaiki guci itu dengan baik. Debu emas beterbangan di sekitar Eruhaben saat penampilannya berangsur-angsur berubah. Kekuatan kuno angin berkata kalau naga itu sedang memulihkan diri. Kulit Eruhaben menjadi berkilau dan rambut emasnya berkilauan seolah-olah debu bintang ditaburkan di rambut sutranya.

Cale menghela napas dan menatap Mila yang tersenyum cerah dan berkata kalau Eruhaben telah dipulihkan. Eruhaben berhenti memuntahkan darah dan perlahan membuka matanya. Cale bertatapan dengan Eruhaben yang mengatakan kalau dia akan hidup terlalu lama. Eruhaben dengan canggung tersenyum dan berkata kalau dia pasti ingin berumur panjang. Dia kemudian menghindari tatapan Cale.

Pintu tiba-tiba terbuka, dan anak-anak masuk. Mereka terkejut melihat darah pada Eruhaben. Mereka mengatakan kalau kakek harus hidup lama dan sehat. Eruhaben dengan canggung tersenyum pada anak-anak dan berdehem. Cale tersenyum dan bertanya mengapa anak-anak tiba-tiba masuk. On mengawasi mereka dan biasanya tidak mengizinkannya.

Raon berkata kalau dia mendapat panggilan dari Tasha. Raja sepertinya sekarang telah memasuki kamar Cale. Cale terkejut dan bertanya-tanya apakah sesuatu yang mendesak telah terjadi. Raon menambahkan kalau dia tidak dapat berkomunikasi dengan Ron dan CH saat ini, jadi hanya Tasha yang dapat menghubungi mereka. Cale segera berdiri dan begitu juga Rosalyn. Dia bertemu mata dengannya, dan Rosalyn memulai mantra teleportasi. Fakta kalau Tasha menyampaikan berita itu kepada Raon berarti sesuatu. Kalau Alberu-lah yang bergerak menghadapi raja.

***

CH dan Ron menundukkan kepala mereka di depan raja. Ron menjelaskan kalau Cale tidak dapat menemuinya sekarang. Pelayan di belakang raja bingung apa yang harus dia lakukan dengan situasi ini. Ada pengawal dan pelayan lain yang memenuhi lorong selain pelayan dan kesatria yang mengawal raja. Pelayan itu bertanya kepada raja apakah mereka harus kembali besok.

Dia mengatakan kalau bahkan jika raja 'peduli' pada komandan, dia tidak boleh menemui seseorang yang sedang pingsan. Ron menebak kalau pelayan itu telah menyampaikan apa yang dia katakan kepada raja. Namun, raja sendiri masih datang ke sini. Tidak ada yang bisa menghentikan raja karena dia adalah raja kerajaan ini. Pelayan ingin menghentikan raja karena itu tidak baik untuk citra sang raja.

Ron berpikir kalau ini adalah perilaku yang tidak biasa bagi sang raja, tetapi dia tutup mulut dan hanya bertanya-tanya apa yang sedang direncanakan sang raja. Sebuah pintu kemudian terbuka dan Ron mengira orang yang bisa menghentikan raja telah muncul. Dia adalah Alberu yang terlihat pucat dan sedang duduk di kursi roda sambil terbungkus selimut tebal.

Alberu mengatakan kalau dia telah menyiapkan teh yang disukai 'ayahnya'. Raja Zed tidak terlalu menikmati teh, dan hanya sedikit yang tahu tentang ini. Alberu adalah salah satu dari orang-orang itu. Jadi raja diam-diam menatap Alberu dan berkata, “Oke. Aku suka teh." Raja menoleh ke Alberu dan dengan acuh tak acuh mengatakan kalau dia ceroboh dan seharusnya melihat putranya terlebih dahulu.

Zed menunjuk ke kesatria di belakang Alberu, mengatakan kalau dia akan mendorong kursi roda itu sendiri. Zed mengambil kursi roda dan perlahan mendorongnya menuju kamar tidur Alberu. Zed bertanya apakah itu tidak apa-apa, dan Alberu menjawab, "Terima kasih, Yang Mulia." Alberu sekarang memanggil Zed sebagai 'Yang Mulia' alih-alih 'ayahanda'. (Orang Korea memiliki kata khusus untuk ayah yang hanya digunakan oleh seorang pangeran untuk memanggil raja mereka sebagai ayah. Alberu tadinya menggunakan kata itu, tetapi kemudian beralih ke 'Yang Mulia'.) Zed mendorong kursi roda tanpa mengatakan apa-apa.

Keduanya memasuki kamar tidur Alberu, dan Zed berbicara lebih dulu dengan suara tanpa emosi, "Apakah kamu terganggu oleh lelaki tua yang berdiam diri di belakang ini?" Alberu menatap lurus ke arahnya dan dengan acuh tak acuh menjawab, “Apa yang harus aku khawatirkan? Tidak ada yang membuatku takut.” Alberu mengangkat kepalanya dan raja menundukkan kepalanya. Keduanya saling menatap.

***

[Baca Spoiler TCF Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Sumber: https://adarterra.wordpress.com/ 


<<<

Chapter 769      

>>>            

Chapter 771

===

Daftar Spoiler