Wednesday, December 8, 2021

[Spoiler] Trash of the Count’s Family (#763)




Chapter 763: Karma (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Saat Cale hendak membaca buku itu, dia mendengar suara anak-anak. Eruhaben mengerutkan kening ketika dia melihat bola di atas kuil bertingkah aneh. Cale menyadari semua naga yang ada di sekitar kuil berada dalam wujud manusia mereka. Bola itu mengeluarkan suara aneh, dan pecahannya menghilang dan menjadi satu. Sesuatu seperti cairan merah berlumpur membesar di dalam bola.

Cairan itu mendidih seperti lava dan terus-menerus mengeluarkan suara aneh. Saat cairan merah itu melipatgandakan diri, ia mulai menyerang dinding bola seolah-olah mencoba memecahkan bola dan melarikan diri. Cale melihat ke bawah kuil dan melihat Puzzle City. Cale menyadari tatapan tajam Raon dan merasa canggung ketika melihat anak-anak menatapnya, jadi dia menghindari tatapan mereka.

Raon menyuruhnya untuk menyingkirkan tangannya dan Cale kebingungan. Raon memindahkan lengan Cale dan membuka kancing kemejanya. Anak-anak hanya melihat lukanya yang sudah sembuh. Eruhaben berpikir beruntung anak-anak tidak melihat Cale menusuk jantungnya. Dia mendecakkan lidahnya dan berpikir kalau Cale adalah b*jingan bodoh, bukannya b*jingan yang malang. Dia perlahan melangkah mundur tetapi berhenti ketika dia mendengar suara Cale.

Cale berkata itu akan meledak, dan naga yang kebingungan menoleh ke Cale yang mengerutkan kening melihat buku Dewa Kematian. Alberu bertanya dengan tenang apa maksud Cale. CH yang mendekat tersentak dan berhenti saat melihat ekspresi Alberu. Alberu masih tidak kehilangan akal sehatnya, tetapi api di matanya membuatnya terlihat garang. Cale menyuruh mereka menunggu saat dia membaca buku Dewa Kematian yang menyampaikan kata-kata Dewa Kematian melalui benda suci.

Sementara itu, Mary, Rosalyn, dan CH terus menghancurkan tangan-tangan yang mencoba menuju ke Cale. Cale membaca kata-kata Dewa Kematian. Dewa Kematian berkata kalau bola itu adalah mata SG, dan bola itu akan segera meledak. Tujuannya adalah para makhluk hidup di kota. Salah satu dari sekian banyak momen yang dialami seseorang dalam keputusasaan adalah saat mendekati kematian. Jadi memakan keputusasaan dari orang yang tidak bersalah adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh dewa yang telah dipermalukan oleh para pemburu dan menggunakan semua kekuatan yang dihematnya untuk memecahkan segel.

Daya ledakan bola itu tidak diketahui, tapi itu akan cukup untuk menghancurkan Puzzle City. Dewa Kematian berhenti memberikan penjelasan rinci karena situasinya mendesak. Bola itu akan meledak dalam lima menit, jadi Cale berteriak kepada Eruhaben kalau kota akan ada dalam bahaya jika bola itu meledak. Alberu menutup mulutnya dan menatap cairan merah lengket yang memenuhi bola itu. Itu terlihat sangat mengerikan bagi semua orang.

Alberu mengeluarkan perangkat komunikasi videonya dan menyuruh semua mage di kota untuk mengaktifkan lingkaran sihir perisai besar. Cale bertanya apakah itu 'mengaktifkan' bukannya 'membuat.' Alberu menjawab waktu telah berlalu sekian lama. Rosalyn menghela napas ketika dia menyadari bahwa sekarang sudah sepenuhnya masuk musim dingin dan bukan lagi awal musim dingin. Alberu berkata dia telah mempersiapkan semua skenario 'bagaimana kalau terjadi sesuatu'.

Alberu memberi tahu Cale kalau Deruth telah mendengar tentang Cale yang dipenjara di kuil di mana kelangsungan hidupnya tidak diketahui. Dan kemudian melihat adegan Caleb menusuk jantungnya. Deruth pingsan saat melihat itu. Untungnya, Violan berada di ruang bawah tanah balai kota, memimpin para mage di wilayah Henituse, jadi dia tidak melihat Cale menusuk jantungnya. Deruth akhirnya sadar dan melihat putranya dalam kondisi baik. Jika ada orang yang mengagumi Cale karena bertahan dan berada dalam kondisi yang baik, ada orang lain yang tidak menyukainya.

Alberu memandang Cale lagi dan mendecakkan lidahnya. Dia menyebut Cale b*jingan gila karena melakukan hal yang begitu sembrono. Tapi itu satu-satunya cara, sehingga Alberu merasa tidak kompeten dan tidak berdaya karena dia tidak ingin mengalami kehilangan seseorang lagi. Alberu menghela napas dan berkata kalau mereka akan menangani bola itu dan Cale tidak boleh melakukan segalanya.

Menghadapi mata gemetar Cale, Alberu memasang ekspresi lelah sebelum dia berkata, "Kamu telah bekerja keras." Tapi ekspresinya berubah kembali menjadi acuh tak acuh dan dingin saat dia berkata, “Jangan pernah lakukan itu lagi. Komandan. Itu perintah.” Alberu menuju kuil dan Cale melihat Eruhaben yang tersenyum menepuk bahunya.

Duchess Violan memimpin para mage di kota. Hilsman (yang asli) dan para kesatria membawa karung berisi batu sihir bermutu tinggi. Para kesatria mengeluarkan semua batu sihir, dan para mage menggunakannya untuk mengaktifkan lingkaran sihir. Itu dibuat dengan bantuan naga untuk situasi darurat. Salah satunya untuk melindungi kota, dan yang lainnya bertindak sebagai penghalang untuk menjaga agar situasi buruk tidak memengaruhi kota.

Eruhaben tersenyum melihat mana skala besar yang digunakan di seluruh kota. Naga lainnya juga membuat perisai di sekitar bola. Eruhaben kemudian memandang Cale dan berkata bahwa ini sudah cukup. Cale setuju, tetapi di dalam hati berpikir itu mungkin tidak cukup. Dia merasa bahwa kekuatan dalam bola itu sekarang cukup kuat daripada serangan yang dilakukan SG di dalam kuil.

Dewa Kematian berkata ini akan menjadi langkah terakhir SG. Dia menambahkan hanya tersisa dua menit. Dewa Kematian terus berbicara dan berkata kalau dewa tidak bisa mati. Cale tahu itu jadi dia mengkhawatirkan bagaimana menghadapi SG. Tapi Dewa Kematian menyuruh Cale untuk menggunakan kemampuan Embrace-nya, menyebabkan Cale mengerutkan kening karena SG juga mengatakan itu. Dewa Kematian melanjutkan kalau Cale harus menggunakan buku itu sebagai media untuk kemampuannya.

Jika kuil adalah domain SG, maka buku itu adalah domain Dewa Kematian. Cale sudah berlari dengan buku terbuka. Dewa Kematian berkata kalau dia ingin menempatkan dewa keputusasaan di bawah kakinya. Jadi kecuali SG dilepaskan, SG selamanya tidak akan bisa melakukan apa pun di domain Dewa Kematian. Hanya satu menit tersisa. Bola itu retak dan cairan merah mengalir keluar.

Orang-orang dievakuasi dan lingkaran sihir perisai diaktifkan sepenuhnya. Litana memanggil Toonka yang mengayunkan tongkatnya dan menghancurkan tangga yang menghubungkan kuil dan tanah. Setelah itu, keduanya naik ke kuil. Cairan merah dengan cepat menghancurkan perisai mana yang berwarna krem, dan Mila membeku. Rosalyn terbang di udara dan mengatakan kalau itu tetaplah kekuatan dewa meskipun telah disegel.

Eruhaben menggunakan debu emasnya untuk mendukung Mila. Sinar merah itu terasa mengerikan dan aneh, dan bukan dari dunia ini. Jadi Eruhaben terbang ke udara juga untuk menghentikannya. Sinar merah itu bersinar lebih terang, dan bola itu retak dan hancur seolah-olah matahari telah meledak. Mila mengerutkan kening dan Eruhaben membantunya. Raon berteriak kepada manusianya yang berlari ke arah tangan-tangan itu.

Dewa Kematian berkata kalau hanya tersisa 30 detik, jadi Cale berteriak kepada Mary untuk melepaskan tangan-tangan itu. Tangan-tangan itu kemudian menangkap Cale dan dia merasakan kesakitan. Tetapi Cale berbisik kepada patung di dinding kalau dia akan melakukan apa yang diinginkannya. Tangan-tangan itu melepaskan Cale dalam sekejap, tetapi Cale meraih satu tangan ketika halaman-halaman buku Dewa Kematian berputar.

Buku hitam itu memancarkan warna-warna aneh. Itu adalah warna kegelapan. Cale bergumam kalau menggunakan kemampuan Embrace-nya pada dewa berbeda sementara kegelapan mengelilinginya. Cale menggunakan kekuatan kuno angin dan menendang lantai. Dia menginjak altar dan terbang, melakukan kontak mata dengan patung itu. Dia berkata, "Ayo kita selesaikan ini." Saat buku hitam yang terbungkus kegelapan menutupi wajah patung itu, bola di atas kuil hancur total dan sinar merah bersinar seperti iblis yang kelaparan. Cairan merah lengket mulai memakan mana para naga.

***

[Baca Spoiler TCF Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Sumber: https://adarterra.wordpress.com/ 


<<<

Chapter 762        

>>>            

Chapter 764

===

Daftar Spoiler 


Sunday, December 5, 2021

Remarried Empress (#275) / The Second Marriage




Chapter 275: Huru-Hara Hantu (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Setelah menugaskan si pembunuh untuk menjadikan Rivetti sebagai budak, Rashta segera kembali ke vila Moire.

Beberapa hari pertama terasa menyakitkan karena bayangan kepala pria yang mati itu terus-menerus muncul di benaknya, tetapi seiring berjalannya waktu, keterkejutannya memudar, dan bayangan Rivetti menjadi budak membuatnya merasa sangat bahagia.

Berkat ini, dia dapat menghabiskan sisa waktu dengan bahagia menikmati pedesaan, dan hanya ketika semuanya menjadi membosankan dia kembali ke istana kekaisaran.

Viscount Roteschu mengunjunginya sehari setelah kedatangannya.

'Ah, benar. Aku juga meminta Viscount Roteschu untuk menemukan tentara bayaran.'

Rashta teringat fakta ini yang telah dia lupakan.

Saat Viscount Roteschu menunggu di ruang tamu, Rashta merenung sejenak.

Dia telah menemukan seorang pembunuh untuk menculik Rivetti. Apakah aku benar-benar membutuhkan tentara bayaran dari Viscount?

Dia pikir itu akan membuang-buang uang.

Namun, dia dengan cepat berubah pikiran, 'Aku membutuhkannya'.

Dia membutuhkan banyak orang untuk digunakan sebagai lengan dan kakinya.

Selama aku membuat permintaan yang tidak akan jadi masalah meski Viscount Roteschu menjadi kaki tanganku, tidak apa-apa menggunakan tentara bayaran ini.

Dia membulatkan keputusannya, Rashta akhirnya meninggalkan kamar tidur.

Saat dia memasuki ruang tamu, Viscount Roteschu duduk di tempat yang biasanya dia duduki, dan di sampingnya ada seorang pria dengan jubah berkerudung yang menutupi wajahnya.

"Apa yang membuatmu begitu lama untuk keluar?"

Viscount Roteschu kesal dan menunjuk pria di sebelahnya,

“Ini adalah tentara bayaran yang aku temukan. Dia sangat terampil. Dia dapat melakukan apa pun yang kamu inginkan, selama dia menerima jumlah uang yang sesuai.”

Rashta bertanya, menatapnya dari atas ke bawah,

"Tidak bisakah kamu melepas tudungmu?"

Hal yang sama terjadi dengan si pembunuh. Mengapa mereka menutupi wajah mereka?

Namun, tentara bayaran itu menolak.

Karena pekerjaan yang mereka lakukan, mereka tidak pernah mengungkapkan wajah mereka di depan umum. Banyak orang menaruh dendam terhadap mereka.

“Lalu bagaimana aku bisa mengenalimu?”

Rashta bertanya dengan cemberut.

Adapun pembunuh yang dia sewa secara pribadi, dia tahu nama panggilannya dan lokasi serikat pembunuh, jadi tidak apa-apa. Selain itu, dia cukup ramping dan tinggi, sosok yang bisa dikenali secara sekilas, bahkan dari kejauhan.

Namun, orang di depannya tidak memiliki sosok yang tidak biasa, jadi tidak mungkin untuk mengenalinya dengan jubah.

Tentara bayaran itu menunjukkan jari telunjuk, tengah, dan manisnya di mana dia memakai cincin yang sama. Dia sepertinya ingin Rashta mengenalinya melalui cincin-cincin itu.

“Baiklah, tapi aku tidak bisa langsung mempekerjakanmu. Aku ingin melihat seberapa terampil dirimu terlebih dahulu.”

Tentara bayaran itu mengangguk seolah bertanya apa yang harus dia lakukan.

Rashta menahan keinginan untuk berteriak, 'Bunuh orang di sebelahmu!'

Sebaliknya, dia memikirkannya dan berkata,

“Pergi malam ini ke Duke Elgy dan bawakan aku gelang yang dia pakai di pergelangan tangannya. Namun, kamu tidak boleh, untuk alasan apa pun, menyakitinya.”

Setelah Viscount Roteschu pergi dengan si tentara bayaran. Rashta bergegas mengunjungi Duke Elgy.

Dia ingin memberitahunya terlebih dahulu dan memintanya untuk memahaminya.

Rashta percaya bahwa Duke Elgy akan memberitahunya, sambil tersenyum, agar tidak khawatir karena itu tidak terlalu berbahaya.

Tetapi ketika Duke Elgy mendengarnya, dia merespons dengan dingin.

"Rashta, kamu benar-benar memanfaatkanku."

Suaranya penuh dengan ketidaksenangan.

"Duke Elgy?"

Rashta memanggilnya, bingung.

“Tidak pernah, sama sekali tidak pernah. Kamu adalah orang yang paling dipercaya Rashta, itu sebabnya Rashta menyerahkan hal ini kepadamu. Sungguh."

"Kamu menyerahkan sesuatu kepada orang yang paling kamu percayai yang membahayakan nyawanya?"

Namun, Duke Elgy masih terlihat dingin. Dengan senyum pahit yang khas, dia melipat tangannya dan melihat ke dinding.

Rashta sedih karena Duke Elgy bahkan tidak ingin menatap matanya.

Tes tentara bayaran akan dilakukan malam ini. Tidak ada banyak waktu tersisa, tapi sepertinya dia tidak bisa membatalkannya sekarang.

Pada akhirnya, dia mundur selangkah dan dengan sedih kembali ke Istana Barat. Dia berpikir untuk berbicara dengan Duke Elgy lagi setelah amarahnya menghilang.

Duke Elgy berdiri di dekat jendela dan menatap punggung Rashta.

Tak lama, tidak ada jejak kemarahan di ekspresinya, tapi sebuah senyum lebar.

Ketika Duke Elgy benar-benar tidak bisa melihat Rashta lagi, dia memanggil pengawalnya dan memerintahkannya,

"Urus persiapannya."

***

Cemas, Rashta tidak bisa tidur sepanjang malam. Dia tidak bisa berhenti memikirkan apakah tentara bayaran itu akan membawa gelang itu dengan benar dan apakah Duke Elgy masih akan marah.

'Tidak apa-apa. Setelah aku besok pergi untuk meminta maaf, kemarahannya akan hilang sepenuhnya.’

Rashta tahu yang terbaik adalah menunggu Duke Elgy menjadi sedikit tenang, jadi dia memaksakan dirinya untuk bersantai.

Tetapi pada pukul 4:00 pagi, ketika tentara bayaran muncul dengan gelang Duke Elgy, Rashta sangat marah.

Ada darah di gelang itu.

Saat dia mengulurkan gelang, tiga cincin di jarinya bersinar merah di bawah cahaya lilin.

"Apa artinya ini?!"

Ketika Rashta berteriak dengan marah, tentara bayaran itu dengan santai membuat alasan,

"Duke Elgy terlalu kuat dan memiliki penjaga, jadi aku tidak punya kesempatan untuk mengambil gelang itu tanpa pertumpahan darah."

Meskipun Rashta mendidih karena marah, dia setidaknya mengakui keahliannya. Duke Elgy tampak kuat bahkan jika dilihat sekilas. Mampu mengalahkan tidak hanya Duke Elgy, tetapi juga mengatasi para penjaga, tentu saja tentara bayaran itu pastilah sangat kuat.

Setelah sarapan, Rashta segera pergi ke Istana Selatan.

Seperti yang diduga, Duke Elgy lebih marah daripada kemarin.

Dia memasang ekspresi dingin dan bahkan tidak tersenyum ketika melihat Rashta.

Yang lebih serius adalah dia mengatakan akan meninggalkan Kekaisaran Timur.

"Apa maksudmu kamu akan pergi?"

"Seperti yang aku katakan. Aku tidak punya alasan lagi untuk tinggal, jadi aku akan pergi.”

"Kemana kamu akan pergi?"

"Pulang."

“Jangan pergi!”

Rashta buru-buru menempel pada Duke Elgy.

“Jika Duke pergi, Rashta akan ditinggalkan sendirian di tempat yang kejam dan tanpa ampun ini. Yang Mulia tidak lagi memperlakukan Rashta seperti dulu, dan yang lain hanya memperhatikan mahkota Rashta. Hanya Duke yang memperlakukan Rashta seperti Rashta, jika kamu pergi…”

"Maaf, tapi aku benar-benar kecewa tentang kemarin. Rashta, aku merasa kamu memanfaatkan persahabatanku.”

Ketika Duke Elgy mulai mengemasi barang bawaannya, Rashta menyadari kalau area di mana dia biasa memakai gelangnya dibalut.

"Tolong tinggalkan aku sendiri."

Rashta terpaksa kembali ke Istana Barat. Tapi yang bisa dia pikirkan hanyalah Duke Elgy akan pergi.

Rashta menangis ketika dia melihat gelang berdarah yang diambil tentara bayaran dari Duke Elgy.

Setiap kali para bangsawan di sini memunggunginya, Duke Elgy adalah satu-satunya yang berpihak padanya.

Bahkan setelah dia menjadi selir, bahkan setelah dia menjadi permaisuri.

Dia adalah satu-satunya teman yang tidak berprasangka buruk meskipun tahu dia tidak berasal dari bangsawan.

Orang itu menjadi marah dan hendak pergi. Fakta ini menakutkan dan sulit untuk diterima.

Apakah aku dapat bertahan tanpa Duke Elgy?

Rashta menekan dadanya, dia harus mengakuinya.

‘Kurasa aku suka Duke Elgy.’

Sovieshu adalah pangeran yang menyelamatkannya ketika dia berada di masa yang paling sulit, tetapi dia sangat plin-plan sehingga dia dengan mudah meninggalkan siapa pun.

Namun, Duke Elgy selalu berada di sisinya.

Meskipun dia masih mencintai Sovieshu, dia yakin bahwa cinta ini secara bertahap akan hilang karena sikapnya.

Sebaliknya, perasaannya terhadap Duke Elgy justru semakin tumbuh.

Rashta berbalik dan berlari kembali ke Duke Elgy.

Duke Elgy berada di luar membawa barang bawaannya di dalam kereta.

"Aku harus memberitahumu, aku harus memberitahumu sesuatu!"

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

“Kau harus mendengarkanku! Ini adalah perintah!"

Seru Rashta dengan tegas dan membawa Duke Elgy ke kamar. Tapi Duke Elgy berbalik pergi begitu dia masuk.

Rashta berdiri di belakangnya dan berteriak putus asa dengan air mata bergelinang ...

"Aku suka kamu. Aku mencintaimu. Tolong jangan pergi.”

Rashta, yang berdiri di belakang Duke Elgy, tidak bisa melihat kalau dia tersenyum.

* * *

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 274              

>>>             

Chapter 276

===

Daftar Chapters 


Remarried Empress (#274) / The Second Marriage

 


Chapter 274: Huru-Hara Hantu (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

McKenna memikirkannya sejenak sebelum menjawab,

“Hmm, aku sama sekali tidak menyesal. Bolehkah saya jujur?”

"Tentu saja."

“Meskipun akan bagus kalau kita bisa melanjutkan rencana itu, bukankah butuh banyak waktu dan upaya untuk menstabilkan negara yang telah menjadi sebuah kekaisaran sepenuhnya? Mungkin lebih bermanfaat untuk menstabilkan negara daripada menyulut perang.”

“…”

"Tidak apa-apa memperkuat kekaisaran, dan mewariskan kejayaan untuk generasi mendatang."

Sambil menghela nafas, McKenna memandang Heinley dan menyuarakan pendapatnya sebagai sepupunya.

“Penting untuk memenuhi keinginan seumur hidup, Yang Mulia. Tetapi jika Anda menjadi terobsesi dengan itu sampai mengorbankan kebahagiaan Anda, itu juga akan sangat menyedihkan.”

McKenna menyelesaikan dengan nada cepat, “Saya tidak ingin Yang Mulia hidup dalam penyesalan. Saya lebih suka Anda bahagia.”

Sepertinya dia malu untuk mengatakan ini pelan-pelan, meskipun mereka bagaikan saudara.

Mendengar pendapat McKenna yang sungguh-sungguh dan jujur, Heinley pun tenggelam dalam pikirannya.

***

"Apa yang Anda pikirkan?"

Pertanyaan Countess Jubel menyadarkanku dari lamunanku.

Melihat ke bawah, sulaman yang mulai aku buat untuk menenangkan diri sedikit berantakan.

"Aku sedang memikirkan huru-hara hantu itu."

"Bukankah Kaisar berkata agar jangan mengkhawatirkannya?"

"Dia bilang begitu, itu benar, tapi ..."

“Itu membuat Anda khawatir?”

Aku mengangguk, menyingkirkan lingkaran sulaman itu dan bangkit dari kursi berlengan.

“Kamu tidak pernah tahu bagaimana rumor kecil dapat mengubah banyak hal. Akan lebih baik menghancurkannya sebelum berkembang. Apalagi jika niat orang yang memulai rumor itu tidak baik.”

Tapi bagaimana aku harus melakukannya?

Ada banyak cara untuk menyerang rumor setelah diketahui siapa yang memulainya. Namun, menemukan orang yang memulai rumor itu tidaklah mudah.

Dengan bantuan Viscount Langdel, aku bahkan menyembunyikan kesatria di tempat di mana hantu itu seharusnya muncul, tapi itu juga tidak berhasil.

Yah, jika mudah ditangkap, Heinley pasti sudah melakukannya. Heinley sepertinya berusaha menangkap pelakunya dengan caranya sendiri.

Namun, jawaban atas pertanyaan ini datang dari orang yang paling tidak aku duga… itu adalah hari di mana aku memanggil Grand Duke Kapmen ke kantorku untuk mendiskusikan, secara langsung, barang-barang yang akan diperdagangkan karena pertemuan itu tidak dapat ditunda lagi.

“Jadi, seperti yang telah kita diskusikan, barang yang akan diperdagangkan dapat berupa barang esensial di benua Hwa dan Wol, barang nonesensial di kedua benua, barang berguna yang tidak tersedia di kedua benua, barang mewah eksotis, beberapa biji-bijian dan buah-buahan, dan sebagainya."

“Siapa yang akan menjadi pedagang yang tepat untuk mengurus riset pasar? Jika itu tentang hatimu, aku ingin mengurusnya sendiri, tapi nyatanya bukan begitu… Sialan.”

“Bantuan Kaisar dibutuhkan di bagian ini. Saya juga belum lama ini berada di Kekaisaran Barat, jadi saya tidak memiliki informasi mendetail tentang kelompok pedagang.”

Meskipun Kapmen masih di bawah pengaruh ramuan yang sama, jauh lebih efisien untuk bertemu langsung daripada berdiskusi melalui surat.

Ketika pertemuan selesai, aku berjalan bersama Kapman ke pintu untuk mengantarnya pergi. Namun, Kapmen berulang kali melirikku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dia sepertinya ragu tentang sesuatu.

Tepat ketika kami mencapai pintu, Kapmen mengemukakan fakta yang benar-benar tidak terduga.

"Itu dipimpin oleh Marquis Ketron, dan Duke Liberty menutup mata dari ini."

Dia tidak berkata apa pun lagi. Setelah itu, dia bergegas pergi.

Tapi aku langsung mengerti apa yang dia maksud.

Huru-hantu hantu itu dipimpin oleh sepupu Christa!

***

"Sangat mungkin kalau dia orangnya."

Ketika aku memberi tahu Heinley kalau aku mengetahui ini dengan bantuan Grand Duke Kapmen, dia mengerutkan kening dan menggerutu.

“Selain itu, dia bisa menggunakan sihir ilusi. Dia pasti menggunakan sihir itu untuk menyebabkan huru-hantu hantu itu.”

"Marquis Ketron adalah seorang penyihir?"

Tanyaku heran. Sampai sekarang aku tidak tahu kalau Menteri Luar Negeri adalah seorang penyihir. Bukankah lebih tepat baginya bekerja di departemen yang berhubungan dengan sihir?

Yah, kalau dipikir-pikir, baik Grand Duke Kapmen maupun Heinley, yang merupakan penyihir luar biasa, tidak bekerja di bidang yang berhubungan dengan sihir.

"Bukankah Duke Liberty itu paman dari pihak ibu Nona Mullaney?"

"Ya, Ratuku."

Saudara angkat dan saingan Mullaney adalah putra kedua Duke… Aku akan memikirkannya nanti.

Sekarang aku harus mengakhiri huru-hara hantu itu.

"Heinley, bolehkah aku mengurus masalah ini?"

“Ratuku? Tentu saja kamu bisa, tapi… apa yang kamu rencanakan?”

"Aku akan menggunakan metode mata untuk mata dan gigi untuk gigi."

Mendengar kata-kataku yang penuh tekad, Heinley tersenyum lebar. Dia sepertinya menyukainya.

"Apakah ada cara tertentu yang kamu pikirkan?"

“Aku sudah memikirkannya. Pertama, aku akan meminta Viscount Langdel meminjamkan beberapa kesatria transnasional yang lebih gesit. Lalu aku akan memastikan kalau Marquis Ketron tidak bisa bangun setidaknya selama seminggu.”

Heinley mengangguk dan bertanya dengan ekspresi tidak percaya.

"Apakah itu benar-benar 'mata untuk mata dan gigi untuk gigi', Ratuku?"

"Ya."

"Tidak juga... kedengarannya seperti 'Aku akan menyelesaikannya dengan tinjuku'."

Heinley tertawa, memegangi perutnya seolah itu benar-benar lucu. Tetapi ketika aku memelototinya, dia menyadari ekspresiku dan dengan cepat mengendalikan dirinya.

"Maafkan aku. Aku tidak mengolok-olok, aku hanya tertawa karena aku menyukai keberanian Ratuku.”

“Kamu tidak perlu minta maaf. Aku hanya menunggumu berhenti tertawa.”

“… Maaf, Ratuku.”

Dia benar-benar tidak perlu meminta maaf. Ketika aku mengerutkan kening, Heinley tampak lebih malu.

Agar jangan sampai dia terus salah paham, aku menceritakan rencanaku dengan lebih detail,

“Jika hantu itu berhenti muncul begitu Marquis Ketron kehilangan kesadaran, akan menjadi jelas siapa pelakunya. Kemudian, kali ini, kita akan menyebarkan desas-desus itu.”

Rumornya adalah 'mata untuk mata dan gigi untuk gigi'.

Tentu saja, perbedaannya adalah bahwa Marquis Ketron menyebarkan desas-desus palsu, dan kami akan menyebarkan kebenaran ...

Baru saat itulah Heinley mengerti kata-kataku, tetapi berseru.

"Kamu tidak akan menggunakan tinjumu!"

"Aku kan bilang tidak."

Dia pikir aku ini siapa?

* * *

Ketika Viscount Langdel mendengar permintaanku, dia dengan senang hati menerimanya, mengatakan itu akan mudah.

Sebaliknya, dia memintaku untuk membiarkannya membuat rencana spesifik tersendiri. Kesatria transnasional memiliki cara bertindak yang unik, berbeda dari kesatria lainnya.

Aku setuju. Malam berikutnya, Viscount Langdel datang menemuiku untuk mengumumkan keberhasilan rencana tersebut.

"Hantu itu tidak akan muncul lagi."

"Apakah kamu memastikan Marquis Ketron telah dibuat tidur?"

"Ya, dia akan bangun setelah tujuh hingga sepuluh hari."

"Terima kasih."

Setelah mengucapkan terima kasih, dia segera undur diri, mengatakan kalau itu bukan permintaan yang sulit.

Aku khawatir kalau ajudan Marquis Ketron atau Duke Liberty mungkin menggunakan metode yang berbeda untuk melanjutkan huru-hara hantu ini.

Tapi rupanya ini hanya bergantung pada sihir Marquis Ketron. Sejak Marquis Ketron dibuat tidur, hantu itu tidak muncul lagi.

Baik Heinley maupun diriku tidak perlu menyebarkan desas-desus. Orang-orang mulai bergumam sendiri.

Mereka marah, yakin bahwa Marquis Ketron telah melakukannya sebagai balas dendam atas pengusiran Christa.

* * *

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 273             

>>>             

Chapter 275

===

Daftar Chapters