Sunday, November 14, 2021

Remarried Empress (#269) / The Second Marriage

 



Chapter 269: Antara Tugasnya Sebagai Kaisar dan Tugasnya Sebagai Suami (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Melawan bandit Seribu Abadi seharusnya tidak menimbulkan kesulitan besar bagi kakakku. Dia telah mengejar mereka selama bertahun-tahun sebagai hobi ...

Namun, mau tidak mau aku merasa khawatir meskipun aku yakin dengan kemampuan kakakku. Ada banyak situasi tak terduga dalam pertempuran. Bagaimana jika saudaraku terperangkap dalam jebakan?

Selama beberapa hari terakhir, aku mencemaskan hal itu. Para dayangku khawatir melihatku seperti ini.

Pada awalnya, aku akan menjawab, “Tidak apa-apa,” setiap kali dayangku bertanya ada masalah apa.

Tapi, karena mereka sangat khawatir, aku akhirnya mengungkapkan perasaanku kepada mereka dengan jujur.

Mendengar kegelisahanku, Mastas secara mengejutkan melangkah maju,

Saya akan pergi memeriksanya sebelum saya kembali dari liburan saya. Saya akan melihat bagaimana keadaannya.”

Mastas pernah memberi tahuku kalau dia akan segera berlibur ... tetapi kakakku pergi ke kota perbatasan yang terpencil. Apakah dia akan pergi jauh-jauh ke sana untuk melihat kakakku?

“Nona Mastas, apakah rumah Anda jauh dari sana?”

Bagiku itu terlalu berlebihan, jadi aku bertanya kepada Mastas. Jika dia menjawab kalau itu jauh, aku akan memberitahunya agar tidak pergi.

Anehnya, Mastas bergumam dengan murung mendengar ucapanku.

“Ah, itu…”

"Kalau begitu, kamu tidak perlu pergi ke sana."

"Jangan khawatir. Saya juga ingin tahu tentang bagaimana dia bertarung melawan bandit Seribu Abadi.”

Aku hendak menolak lagi, tapi aku menahan diri.

Mastas tertarik pada kakakku dan mungkin itu sebabnya dia menawarkan diri untuk pergi. Meskipun dia tidak bertingkah layaknya bangsawan, Mastas adalah orang yang sangat baik.

Bagaimanapun, aku tidak ingin secara sepihak menghalangi ketertarikan Mastas pada kakakku.

Akhirnya aku mengucapkan terima kasih dengan tulus, dan Mastas terkejut,

“Tidak perlu Yang Mulia, toh saya akan tetap pergi ke sana. Sungguh."

Setelah aku selesai berbicara dengan Mastas, aku pergi mencari kedua orang tuaku.

Orang tuaku tidak akan tinggal lama di Kekaisaran Timur. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan mereka sebelum mereka pergi.

'Di sana mereka.'

Saat aku naik ke teras lantai dua aku bisa melihat kedua orang tuaku. Mereka berjalan bersama Heinley di sepanjang jalan setapak yang terlihat jelas dari teras.

Melihat mereka bertiga berjalan bersama, angin sepoi-sepoi bertiup di sudut dadaku.

Perasaanku tiba-tiba membuncah, jadi aku meletakkan tanganku di dada ketika aku melihat orang tuaku dan Heinley.

Apakah ada adegan yang lebih menyentuh daripada melihat orang-orang yang kau cintai akur satu sama lain?

Jika orang tua Heinley masih hidup... Aku bisa menjadi sebaik Heinley kepada orang tuaku.

Sedih rasanya memikirkan hal ini. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa orang tuaku. Aku akan merasa cepat kesepian.

Apakah ada kesepian yang mendalam di bawah wajah tersenyum Heinley?

Ketika Heinley mengatakan sesuatu, orang tuaku mulai tertawa.

Saat aku melihat pemandangan itu, aku mengambil keputusan. Aku akan membuatnya bahagia seperti dia membuatku bahagia.

Aku masih tidak percaya cintanya akan bertahan selamanya. Tapi selain itu, dia sudah menjadi suamiku dan keluargaku.

***

Mereka tidak tahu kalau Navier mengawasi mereka dari atas.

Mereka melintasi jalan setapak yang indah yang ditumbuhi bunga lavender dan jagung, dan memasuki taman yang penuh dengan bunga tulip.

Bahkan Navier tidak dapat melihat mereka di sini. Mungkin untungnya.

Suasana di antara ketiganya menjadi berat saat mereka memasuki taman.

Pasalnya, topik tersebut beralih dari urusan keluarga dan pribadi, menjadi terfokus pada urusan negara.

“Bisa ada dua kerajaan di benua yang sama. Bahkan ada catatan tentang keberadaan empat kerajaan sekaligus.”

“Maksud Anda waktu perang antara empat kaisar. Kaisar Timur, Kaisar Barat, Kaisar Utara, dan Kaisar Selatan.”

“Ya… Mungkin bisa ada banyak kaisar. Tetapi semakin banyak kaisar, semakin ketat persaingannya.”

Duke Troby melanjutkan dengan prihatin.

Mengenyampingkan Sovieshu, Navier memiliki rasa sayang yang mendalam terhadap Kekaisaran Timur. Terlepas dari apa yang terjadi, itu masih negara tempat dia dibesarkan.”

"Itu benar."

“Peran Anda sebagai kaisar dan peran Anda sebagai suami tidak akan selalu selaras. Itu yang membuat kami khawatir.”

“…”

Heinley tidak bisa dengan mudah menanggapi kata-kata Duke Troby.

Duchess Troby juga menambahkan dengan berat.

“Bahkan jika Kekaisaran Timur dan Kekaisaran Barat berhasil hidup berdampingan secara harmonis, posisi kerajaan dan kekuatan sekutu lainnya akan berubah karena akan ada dua kaisar. Kalian akan saling berhadapan secara langsung atau tidak langsung.”

Mereka berdua benar, jadi Heinley tidak tahu harus menjawab apa.

Awalnya, Heinley tidak berniat menikahi Navier. Bukan rencananya untuk jatuh cinta pada Permaisuri Kekaisaran Timur dalam perjalanan pengintaiannya ke sana.

Bagi Heinley, bertemu Navier adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya, tetapi juga benar bahwa beberapa rencana hidupnya berubah sebagai akibat dari cinta ini.

Melihat menantunya tenggelam dalam pikirannya, Duke Troby berbicara dengan hati-hati dan ramah,

“Mudah-mudahan itu tidak akan terjadi, tetapi bahkan jika perannya sebagai kaisar dan perannya sebagai suami berubah di masa depan, saya harap Navier tidak akan terluka.”

* * *

Sementara Rashta mencari cara untuk pergi ke Rimwell Estate, dia mengetahui sesuatu yang tidak terduga.

'Permaisuri sedang mencari untuk sesuatu yang sangat penting.’ Desas-desus ini perlahan menyebar ke seluruh istana kekaisaran.

Namun, Rashta baru mendengarnya sekarang.

"Kamu bilang apa?!"

Rashta berteriak, kakinya mati rasa.

Setelah menghadiri pernikahan di Kekaisaran Barat, Rashta sibuk mencari sertifikat yang disebutkan Koshar.

Dia tidak menyuruh orang lain melakukannya, karena itu adalah sertifikat yang berisi kelemahan besarnya, jadi dia mencarinya sendiri.

'Aku tidak percaya rumor telah beredar mengenai ini!' Rashta dengan marah memerintahkan Viscountess Verdi,

"Cari tahu segera siapa yang memulai rumor itu!"

Ketika dia mencari ke kamar-kamar atau taman-taman, Rashta merasa sulit melepaskan diri dari tatapan orang-orang di sekitarnya. Namun, fakta bahwa dia diketahui 'mencari sesuatu', jelas merupakan rumor yang dimulai oleh seseorang yang dekat dengannya.

Seperti yang diduga, pelakunya tertangkap dalam waktu singkat.

“Maafkan saya, Yang Mulia! Maafkan saya!"

Dia adalah salah satu pelayan Rashta yang baru direkrut.

“Saya tidak bermaksud memulai rumor aneh! Saya hanya memberi tahu seseorang yang melihat Yang Mulia berjalan dari satu tempat ke tempat lain bahwa Anda sedang mencari sesuatu.”

Pelayan itu menangis dan memohon dengan tangan terkepal. Dia benar-benar tidak memiliki niat buruk, dia hanya berpikir tidak apa-apa untuk membicarakannya.

Mata Rashta berkobar dengan ganas, dia meraih dagu pelayan itu dan menggeram,

"Bukankah aku sudah memberitahumu dengan jelas bahwa di istana kekaisaran kamu harus berhati-hati dengan tindakanmu?"

Pelayan itu berulang kali memohon pengampunan, tetapi Rashta tidak memiliki simpati.

Selain itu, dia adalah pelayan baru pertama yang menyebabkan masalah.

Untuk mencegah kasus serupa terjadi di masa depan, Rashta merasa perlu memberikan hukuman berat sebagai peringatan kepada yang lain.

Rashta, dengan tekad kuat, memerintahkan Viscountess Verdi,

“Viscountess Verdi. Apa yang kamu ketahui tentang ayah gadis ini?”

“Ayahnya dihukum mati. Namun, eksekusi tersebut belum dilakukan, meski telah menghabiskan beberapa tahun di penjara, karena perilakunya yang baik.”

Rashta dengan dingin memerintahkan.

"Suruh dia dieksekusi."

Viscountess Verdi memandang Rashta dengan heran. Namun, Rashta tidak merasa menyesal.

Ini bukan orang yang tidak bersalah, ini adalah orang yang akan dieksekusi cepat atau lambat. Agar seorang narapidana dapat dijatuhi hukuman mati, ia pastinya telah melakukan kejahatan yang serius. Baginya tidak ada masalah.

Pelayan, yang telah mendengar perintah Rashta, merangkak berlutut, meraih kaki Rashta, dan berulang kali memohon padanya untuk memaafkannya, tetapi akhirnya pingsan karena kelelahan.

Setelah sadar kembali, pelayan itu segera pergi ke Rashta dan terus memohon padanya.

Tapi Rashta berbohong kepada pelayan itu.

"Ayahmu sudah meninggal karena digantung."

Meskipun dia belum dieksekusi, dia sengaja mengarangnya untuk menyakiti si pelayan.

Karena pelayan itu baru saja mulai bekerja di istana, dia berpikir bahwa satu kata dari permaisuri akan membuat ayahnya dieksekusi dalam sekejap mata.

Bibir pelayan itu bergetar karena marah.

Ayahnya telah dijatuhi hukuman mati karena pembunuhan, tetapi korban yang dibunuh ayahnya adalah penjahat yang tidak bermoral yang telah menculik dan membunuh adik laki-lakinya untuk uang yang tak seberapa.

Karena alasan ini, ayahnya tidak dieksekusi meskipun telah dijatuhi hukuman mati dan kerabatnya juga tidak diseret melalui sistem asosiasi bersalah.

Dia tidak percaya bahwa semuanya berakhir dengan cara yang tidak masuk akal.

Pelayan itu dengan marah mengangkat kursi di sebelahnya dan menerkam Rashta.

"Matilah!"

* * *

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 268               

>>>             

Chapter 270

===

Daftar Chapters 

Remarried Empress (#268) / The Second Marriage

 



Chapter 268: Antara Tugasnya Sebagai Kaisar dan Tugasnya Sebagai Suami (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Viscount Roteschu juga hadir di acara jamuan makan, jadi tidak sulit memanggilnya.

Rashta memerintahkan Viscount Roteschu agar mengunjunginya setelah jamuan makan selesai.

Roteschu pergi menemuinya sekitar pukul sembilan malam. Rashta membiarkannya masuk ke ruang tamu dan memerintahkan semua pelayannya keluar.

Ditinggal sendirian, mata Viscount berbinar berpikir kalau dia akan membicarakan tentang sebuah rahasia.

Rashta mulai berbicara sambil menyembunyikan niat tergelapnya.

"Bisakah kamu memanggil tentara bayaran yang terampil dan rahasia?"

Viscount Roteschu tersenyum bangga,

"Tidak sulit bagiku untuk memanggil tentara bayaran."

"Seorang tentara bayaran yang mampu membunuh demi uang."

Viscount Roteschu sedikit terkejut, tetapi kali ini dia menjawab dengan senyum sinis.

"Tentu saja."

Begitu Roteschu pergi, Rashta sangat gembira. Aku tidak percaya aku bisa menggunakan tangan Viscount Roteschu sendiri untuk membunuh Rivetti yang hina!

Jika semuanya berjalan lancar, Rivetti akan mati, dan Viscount Roteschu akan senang tidak mengetahui apa yang telah dia lakukan. Bagaimana jika aku mengakui yang sebenarnya kepadanya nanti? Bukankah dia akan menjadi gila?

Tetapi ketika dia bangun setelah tidur malam yang nyenyak, kegelisahan menghampirinya. Bagaimana jika Viscount Roteschu mencoba menggunakan ini untuk melawannya di masa mendatang? Dia terlanjur memiliki hubungan dengannya yang tidak dia sukai, apakah tidak apa-apa menambahkan kelemahan lain ke dalam daftar ini?

Setelah banyak berpikir, Rashta memutuskan untuk mengunjungi Duke Elgy. Bagaimanapun, dia ingin memberitahunya tentang Sovieshu dan Baron Lant yang melarang persahabatan mereka.

Ketika Rashta memberitahunya tentang kekhawatiran Sovieshu dan Baron Lant, Duke Elgy tersenyum acuh tak acuh.

“Terserah Rashta untuk memutuskan apakah akan mempercayai rumor itu atau tidak. Bukan rumor yang penting, tapi kebenarannya.”

"Duke Elgy adalah pria hebat, aku tidak mengerti mengapa rumor buruk beredar."

"Rasa dengki."

"Ya. Kau adalah salah satu pria paling tampan yang pernah aku lihat. Kau memiliki pesona kuat yang tidak bisa dilampaui orang lain.”

Rashta mengaku, menatap Duke Elgy, yang santai meskipun ada rumor buruk.

Namun, ekspresi Duke Elgy menjadi sangat serius ketika Rashta memberitahunya bahwa dia meminta Viscount Rostechu untuk memanggil tentara bayaran.

Melihat ekspresi itu, Rashta semakin gelisah dan bertanya.

“Tidakkah menurutmu itu permintaan yang cocok untuk Viscount Roteschu?”

“Itu tergantung pada apa yang kamu ingin tentara bayaran itu lakukan. Apa yang ingin kamu perintahkan?

Rashta ragu-ragu, tidak dapat mengatakan, 'Aku akan menyuruhnya membunuh putri Viscount Rostechu.'

Melihat keraguan Rashta, Duke melanjutkan seolah itu tidak mengganggunya,

"Apa pun yang kamu perintahkan, kamu harus memastikan bahwa tentara bayaran yang dibawa oleh Viscount Roteschu bukanlah bawahannya."

Rashta khawatir. Viscount Roteschu memiliki pikiran jahat, dan dia tidak sabar untuk menemukan kelemahan lain untuk digunakan melawannya.

Tentara bayaran yang dibawa oleh Viscount Roteschu kemungkinan besar adalah bawahannya.

“Akan sulit untuk memercayai tentara bayaran yang dibawa oleh Viscount Roteschu. Apa yang harus aku lakukan?"

"Aku tidak tahu."

"Dan jika kamu memanggil seseorang ..."

"Itu bukan masalah."

"Baguslah!"

Rashta senang, tetapi Duke Elgy menggelengkan kepalanya.

Aku bisa memanggil seseorang, tetapi masalahnya sama. Pertama-tama kamu harus memastikan orang itu bukan bawahanku.”

"Tapi Duke berbeda dari Viscount jahat itu, kan?"

"Betul sekali."

Duke Elgy tersenyum halus.

"Tapi Rashta, bukankah kamu mencari seseorang untuk melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa kamu katakan padaku?"

Itu benar.

Rashta kembali ke kamarnya dan merenung sambil minum teh.

Tidak peduli melalui siapa dia mendapatkan tentara bayaran, dia harus sangat berhati-hati.

Tentu saja, tidak bisa melalui Viscount Roteschu. Dan jika dia melakukannya melalui orang lain, dia mungkin akan mendapatkan Roteschu kedua (T/N: orang lain yang tahu kelemahan Rashta dan memerasnya seperti Roteschu).

'Rashta harus mendapatkan tentara bayaran.'

Setelah banyak berpikir, Rashta mengambil keputusan.

Kalau tidak, aku tidak akan bisa tetap tenang.

Meskipun mungkin sedikit berbahaya, Rashta memutuskan pergi ke tempat dia dulunya tinggal sebagai budak secara pribadi.

* * *

Sementara itu.

Koshar, yang telah memimpin kavaleri dan menyerbu barak sementara bandit Seribu Abadi, berada di tengah-tengah konfrontasi dengan Penguasa Surgawi dari bandit Seribu Abadi, Kelderek.

Penguasa Surgawi dari bandit Seribu Abadi telah mundur ke barisan belakang dengan rekan-rekannya yang terluka dengan tergesa-gesa, dan semua kavaleri yang dibawa Koshar berbaris dalam tiga barisan.

Kelderek menyeka tangannya di dahinya untuk menyeka keringat, tetapi mengutuk marah ketika dia menyadari itu adalah darah.

"Apa yang kamu lakukan di sini?! Tidak bisakah kamu hidup tanpa melihat wajah kami? Hah?!"

"Apakah kamu tidak terlalu kasar kepada teman yang sudah lama tidak kamu temui?"

“Teman? Kamu seorang b*jingan! ”

"Aku bahkan datang sejauh ini karena aku merindukanmu."

"Pergi! Tolong pergi dari hidupku!”

Kesatria Kekaisaran Barat yang mengikuti Koshar saling bertukar pandang. Sungguh menakjubkan melihat pemimpin bandit Seribu Abadi yang ditakuti mengamuk di depan Koshar seperti anak berusia tujuh tahun.

Pada saat yang sama, mereka senang melihat Koshar mengejeknya dengan sinis.

“Kasih sayangmu tidak lagi sama? Aku akan tinggal di sini supaya aku bisa melihat wajahmu.”

"Dasar bajingan kotor!"

Kelderek mendengus sambil menyeka darah. Tapi Koshar masih tersenyum dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur.

Dia tampak seperti seorang kesatria yang baik hati dengan penampilannya yang tampan, tetapi Kelderek tahu lebih baik daripada siapa pun betapa gilanya Koshar.

Selama tinggal di perbatasan Kekaisaran Timur. Dia awalnya mengira Koshar adalah seorang bangsawan muda yang malang dengan rasa keadilan yang membara.

Tetapi setelah melihat Koshar muncul dari waktu ke waktu di medan perang mengayunkan pedangnya, dan memintanya untuk bermain dengannya karena dia bosan, Kelderek menyadari bahwa dia adalah orang gila sejati!

Kelderek juga menyadari hal ini pada satu kesempatan ketika dia menyusup ke kota dan melihat Koshar dalam pakaian bangsawannya. Dia bukan bangsawan dengan rasa keadilan yang membara, tetapi orang gila yang telah belajar sopan santun dan mengendalikan kegilaannya!

Di depan bangsawan lain, dia berpura-pura menjadi 'kesatria muda yang tidak bisa beradaptasi dengan baik dengan bangsawan'.

"B*jingan keji!"

Kelderek mengutuk lagi, dan memberi isyarat agar bawahannya mundur.

"Sudah mau pergi?"

Koshar bertanya, mengangkat alisnya dengan kecewa.

Kemudian Kelderek menarik tali kekang kuda dan kuda itu meringkik. Pemimpin bandit, menunggang kuda, berteriak dengan marah.

“Aku akan pergi ke tempat lain. Aku akan pergi ke tempat lain di mana kamu tidak ada!"

* * *

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 267               

>>>             

Chapter 269

===

Daftar Chapters 


Saturday, November 13, 2021

[Spoiler] Trash of the Count’s Family (#757)

 



Chapter 757: Semuanya Menyaksikan (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Cale mengendurkan genggaman tangannya, dan Super Rock merasa lega dan memuji Cale. Dia kemudian bertanya kepada SG mengapa para pemburu tampak mengincarnya. SG menjawab bahwa tubuh yang Cale miliki berasal dari garis keturunan Thames. Cale bertanya apakah keluarga Thames adalah salah satu dari tujuh keluarga pemburu, dan SG menjawab ya. SG mengatakan bahwa kerabat sedarah mereka yang hidup dalam pengasingan dan melakukan penelitian adalah orang bodoh yang hanya menjadi mangsa.

Cale mengerutkan kening dan bertanya-tanya apakah itu sesuatu yang tidak sebaiknya dia dengar. SG menghela napas dan menatap mata Cale, berkata, “Aku mengatakannya dengan santai karena kamu bukan Thames, tapi aku minta maaf jika aku menyinggungmu.” Super Rock mengatakan bahwa SG bertindak cukup rendah hati karena SG segera menenangkan Cale dengan meminta maaf. Cale mengeluarkan plakat emas dari sakunya. Di sinilah WS ‘disegel.’

Cale bertanya apakah para pemburu bertanggung jawab atas semua yang dia alami. SG tidak langsung menjawab Cale, tetapi berbicara tentang WS. SG mengatakan bahwa WS dikutuk agar kehilangan sesuatu yang berharga, jadi tidak mungkin WS memiliki pelayan yang setia. Dorph dan Sayeru juga memiliki kekuatan unik yang tidak mudah didapatkan. Sepasang mata merah itu mendekat ke Cale dan membisikkan pertanyaan seperti apakah bawahan itu mendapatkan kekuatan mereka secara kebetulan? Apakah WS benar-benar menemukan sendiri kekuatan kuno yang dia dapatkan?

Sepasang mata merah itu tertawa dan berkata bahwa WS berpikir bahwa itu adalah kemampuan atau keberuntungannya sendiri, bahwa itu adalah kebetulan. SG berbisik dengan suara lesu bahwa memang ada banyak kebetulan di dunia, tapi semua itu bukanlah kebetulan. Cale mengangkat kepalanya dan mencengkeram plakat emas. Dia bertanya apakah WS adalah sebuah bidak catur. Sepasang mata merah itu melengkung seperti bulan sabit dan menjawab bahwa Cale benar.

SG mengatakan bahwa WS berpikir bahwa dia bisa melahap SG dan menjadi dewa, tetapi kenyataannya adalah sebaliknya. SG-lah yang akan melahap WS. SG berbicara dengan sedikit suara bahagia, mengatakan bahwa tidak ada jiwa di dunia ini yang memakan keputusasaan sebanyak WS. Cale menatap plakat emas. SG melanjutkan bahwa WS pasti kehilangan banyak orang yang dia kasihi. Bahkan jika dia tidak mau, sebagai manusia, dia akan menghargai atau menyayangi seseorang atau sesuatu, sehingga telah banyak orang yang mati karena kutukannya.

SG mengatakan bahwa mungkin Dewa Kematian sekarang menyesali mengapa dia membuat kutukan seperti itu. Sepasang mata merah itu menatap plakat emas dan berkata kalau itu sangat disayangkan. Akan sangat bagus jika bisa memakan jiwa WS. Cale mengatakan bahwa seperti yang dia pikirkan, WS adalah pengorbanan yang disiapkan untuk SG oleh para pemburu. Tapi mata merah itu menatap Cale dengan acuh tak acuh.

Mata merah itu segera berpaling, mengatakan bahwa WS adalah pengorbanan untuk dirinya (SG), tetapi dia tidak berpikir bahwa itu dilakukan demi dirinya. Cale bertanya apakah SG dan para pemburu saling terkait. Mata merah itu tersenyum dan berkata mengapa dia harus memberi tahu Cale itu. Cale bergumam 'sayang sekali' lantas memasukkan kembali plakat emas ke sakunya. SG mengatakan bahwa dia akan memberi tahu lebih banyak ketika mereka membuat kesepakatan. Mata merah dengan hati-hati memperhatikan Cale saat dia merenung.

Cale dengan serius berpikir apakah dia harus berpura-pura setuju atau menghajar SG saja. Dia merasa tes yang terus-menerus itu melelahkan. Dia akhirnya memutuskan untuk menghajar SG saja. Dia tidak peduli jika SG memberikan info tentang para pemburu karena dia bisa saja bertanya kepada Zed atau meminta Cage untuk bertanya kepada Dewa Kematian. Jika itu tidak berhasil, dia bisa meminta Dewa Kematian untuk mengirim CJG. Jika itu CJG, dia mungkin akan memberi tahu Cale segalanya. Cale menoleh ke sepasang mata merah itu dan berpikir kalau dia tidak perlu mengkhawatirkan dewa bermata merah itu.

Dia memperkuat cengkeramannya pada batu di tangannya dan membuat keputusan. Dia hanya akan memercayai seseorang yang bisa dia percayai. SG pasti akan menusuknya dari belakang. SG kemudian mengatakan bahwa dia akan membuatnya mudah bagi Cale, jadi Cale bertanya apakah mereka bisa merahasiakan kesepakatan itu. Mata merah itu tersenyum senang mendengar pertanyaan Cale. Dia menjawab bahwa jika Cale mau, hanya mereka berdua yang tahu tentang kesepakatan itu.

Cale bertanya bagaimana mereka harus membuat kesepakatan, dan SG menjawab bahwa ketika tes selesai, Cale harus pergi ke ujung kuil dan melihat patung di dekat dinding. Cale hanya perlu menggunakan kemampuan Embrace-nya pada patung itu. Cale memiringkan kepalanya dan mengatakan bahwa sekutunya yang menyelesaikan tes terlebih dahulu bisa saja melihatnya. SG meyakinkan Cale bahwa tidak ada orang lain yang menyelesaikan tes lebih cepat dari Cale.

Cale bertanya 'benarkah?' dan SG menjawab, “Itu benar. Aku tidak berbohong hari ini. Aku bahkan bisa bersumpah demi kedewaanku.” Cale bertanya apakah dia harus percaya padanya, dan SG menyadari bahwa Cale tampaknya memercayainya. Jadi SG menjawab bahwa Cale bisa memercayainya. Cale berkata “Oke. Aku akan memercayainya.” Dia mengambil setengah langkah lebih dekat ke sepasang mata merah, dan menambahkan "Bukan kamu, tapi akal sehatku."

SG bingung dan Cale akhirnya melepaskan batu di tangannya. Kekuatan kuno angin ditambahkan ke batu itu. Cale berkata "Meledak" saat dia melemparkan batu itu di depan si mata merah. Batu yang memiliki kekuatan kuno angin, batu berlumuran darah, dan aura dominasi kemudian meledak dan hancur berkeping-keping, mengenai si mata merah. SG menjerit kesakitan, dan Cale tersenyum, mengatakan bahwa amarahnya telah hilang.

SG berteriak marah, tetapi Cale mengabaikan SG. Cale memperhatikan ruangan menjadi gelap dan mengatakan bahwa tesnya sepertinya sudah berakhir. SG membuat tes yang mengikuti aturan tertentu. SG dapat mengganggu tes, tetapi tidak mengubah aturan atau kerangka tes. Mungkin bertemu Cale kali ini karena fakta bahwa SG mendapat banyak kekuatan (keputusasaan). Seluruh ruang bawah tanah kuil bergetar dan Cale melihat Alberu menuruni tangga.

SG masih bisa terdengar menjerit-jerit sementara suara tes mengumumkan bahwa kemarahan Cale telah teratasi. Cale mengucapkan selamat tinggal pada Alberu sebelum menatap mata merah itu. Pembuluh darah di mata merah itu pecah, dan SG berteriak, “Kesepakatan, kesepakatan denganku… Beraninya kamu…!” Cale tersenyum cerah dan menjawab, “Mengapa aku harus memercayaimu? Lebih baik aku memercayai Clopeh.”

Mata merah itu mulai tertutupi energi hitam, dan Cale tertawa sambil menyeka bibirnya. Tes itu telah berakhir, dan dia tidak lagi berdarah karena sebelumnya itu hanyalah ilusi. SG menyerukan nama Cale dan Cale terus tersenyum. Cale berpikir, “Dewa tersegel. Tunggu saja. Aku akan menghancurkanmu.” Cale berpikir bahwa SG bahkan tidak bisa menggunakan kekuatannya di luar ilusi.

Cale bergumam kalau dia menantikannya dan dia akan memberi tahu SG bahwa kenyataan itu keras. Informasi pemburu? Dia bisa dengan mudah mendapatkan info itu dengan mengancam akan menghancurkan SG menjadi beberapa bagian. Cale tidak peduli jika SG adalah dewa, dia masih bisa mendapatkan info itu dari SG. Tempat itu menjadi gelap dan Cale melihat kilatan lampu merah. Dia menutup matanya pada cahaya yang menyilaukan, dan ketika dia membuka matanya, dia berada di tempat yang penuh dengan marmer putih.

“Tidak ada.”

Aula yang cukup besar itu terbuat dari marmer putih, tetapi tidak ada kehangatan dari siapa pun. Tidak ada satu pun jejak manusia yang terlihat.

Cale melihat sekeliling perlahan.

Aula itu hanya memiliki satu pintu masuk.

"Apakah aku benar-benar yang pertama datang?"

Dewa tersegel itu berkata belum ada yang lulus tes ini kecuali Cale. SG mengatakan kalau dia bahkan bersedia bersumpah atas kedewaannya, jadi itu mungkin saja benar.

-Cale, kamu baik-baik saja?

Atas pertanyaan Super Rock, Cale mengesampingkan pikirannya sejenak dan mengangguk. Dia berjalan perlahan.

Arah yang ditujunya adalah satu-satunya pintu masuk ke tempat ini.

Tidak ada pintu.

Itu hanya koridor marmer panjang yang diukir dengan ukiran hiasan.

Ini adalah akhir dari kuil yang dibicarakan oleh dewa tersegel. Mereka akan keluar dari ruang tertutup itu.

Begitu Cale memasuki koridor, dia menyentuh dinding marmer.

Tuk tuk.

Dia merasakan teksturnya dan segera menggunakan kekuatannya.

-Kamu, jangan-jangan!

Ketika Super Rock terkejut dan tidak bisa menyembunyikan kalau dia mengerti apa yang sedang terjadi.

Krek-

Sebagian dinding marmer mulai retak.

Tempat itu adalah pintu masuk menuju koridor dan aula.

"Asalkan kuil ini tidak runtuh."

-… Aku mengerti. Aku akan menyesuaikannya.

Dddrrrrr. Bummmmm!

Sebagian dari dinding marmer pecah dan menghalangi pintu masuk yang menghubungkan aula dan koridor.

Super Rock bertanya dengan hati-hati.

-Apakah ini untuk menghindari agar sekutumu tidak melihatnya?

Cale melihat ke pintu masuk yang diblokir dan berbalik lantas berjalan menuju koridor.

“Tidak perlu melihat pemandangan seperti itu. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.”

-… .

Super Rock menahan napasnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Tap, tap.

Langkah kaki Cale saat dia berjalan menyusuri koridor marmer putih yang indah, megah, dan abadi tidaklah berat maupun ringan.

Dia mengeluarkan belati hitam kayu kecil dari saku dadanya.

***

“A-Apa yang sedang dia lakukan? Kakek! Apakah kau dengar apa yang dikatakan manusiaku? Apa maksudnya 'pemandangan seperti itu'!"

“Aigo. B-b*jingan sial itu!”

“… Dia berkeliling.”

Alberu terfokus pada satu tempat dan tidak memerhatikan percakapan antara kedua naga itu.

“… Dia pergi kesana kemari.”

Clopeh Sekka yang sampai di ujung kuil sedang memasang alat penyimpan video otomatis di sana-sini. Senyum lembut terpasang di wajahnya.

***

[Baca Spoiler TCF Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Sumber: https://adarterra.wordpress.com/ 


<<<

Chapter 756       

>>>            

Chapter 758

===

Daftar Spoiler