Sunday, March 27, 2022

Remarried Empress (#322) / The Second Marriage




Chapter 322: Ketakutan Sovieshu (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

'Bukankah Evely penyihir yang Kaisar Sovieshu ingin jadikan selir?!'

Viscount Roteschu melompat kegirangan.

Jika ini benar, ini akan menjadi peristiwa yang luar biasa.

Orang-orang akan berpikir bahwa kedua putri Keluarga Isqua akan menjadi istri kaisar, sementara Rashta akan merasa bahwa semuanya telah diambil darinya oleh Evely.

Viscount Roteschu memutuskan untuk berhati-hati. Hal ini harus ditangani dengan hati-hati.

Begitu dia meninggalkan panti asuhan, dia memanggil tentara bayaran yang telah dia perkenalkan kepada Rashta dan memerintahkan,

“Ada seorang gadis bernama Evely di Istana Selatan. Calon selir Kaisar Sovieshu. Bawakan aku sedikit darahnya.”

Viscount Roteschu memberinya sebuah botol kecil yang telah dia siapkan sebelumnya.

Selama beberapa hari berikutnya, Viscount Roteschu memfokuskan untuk menemukan petunjuk apa pun tentang Rivetti sementara menunggu kembalinya tentara bayaran itu.

***

Sementara itu, Duke Zemensia dari Kekaisaran Barat telah meninggalkan ibu kota menuju Compshire. Dia pergi menemui putrinya, Christa.

Jika Permaisuri Navier benar-benar hamil, dia harus mengubah rencana. Itulah mengapa dia ingin menghibur putrinya sebelum memikirkan tindakan ke depannya.

‘Dia pasti sangat marah.’

Dia ingat terakhir kali dia melihat putrinya.

Saat di ruang rapat. Putrinya menatapnya beberapa kali dengan pandangan kosong, tetapi matanya berteriak minta tolong.

Hasilnya mungkin berbeda jika dia ikut campur. Tetapi bahkan jika hasilnya telah berubah, Christa tidak akan meraih kejayaan sebelumnya. Jadi sang Duke menyerahkan Christa demi cucunya yang memiliki potensi lebih besar.

Akibatnya, dia menjadi marah. Christa pergi ke Compshire bahkan tanpa melihat wajahnya. Sejak itu, dia terus mengirimkan surat meskipun Christa tidak membalasnya.

Sang Duke menghela napas. Dia telah memilih jalan yang paling menguntungkan bagi keluarganya, tetapi itu tidak berarti dia tidak mencintai putrinya, sehingga hatinya hancur.

Akhirnya, kereta berhenti di depan Rumah Compshire.

Menjadi tempat di mana mantan ratu menghabiskan sisa hidup mereka, rumah itu didekorasi dengan mewah.

Ketika sang Duke hendak keluar dari kereta, dia menyadari bahwa kereta belum memasuki rumah, jadi dia duduk kembali dan meminta kusir,

“Masuklah sedikit lebih jauh.”

Tapi alih-alih jawaban si kusir, dia mendengar pertengkaran kecil.

Saat dia membuka jendela dan mengintip ke luar, dia melihat para kesatria, yang menjaga batas pinggir rumah bagaikan tembok, mendesak si kusir untuk mundur.

"Apa yang terjadi?"

Ketika sang Duke bertanya dengan bermartabat, si kusir mendekat dan menjawab dengan cepat,

"Tuan, mereka bersikeras bahwa kereta tidak bisa masuk."

Sang Duke mengerutkan kening. Dia telah mendengar bahwa para kesatria dari Rumah Compshire tidak membiarkan siapa pun masuk, tetapi dia tentu saja tidak berharap itu termasuk ayahnya.

"Apakah kamu memberi tahu mereka siapa aku?"

"Ya. Mereka tetap menolak.”

Salah satu kesatria yang telah memblokir jalan kereta mendekati sang Duke dan meminta maaf dengan tegas.

“Maafkan saya, Duke. Christa memerintahkan untuk tidak membiarkan siapa pun masuk.”

"Aku ayahnya."

"Dia menginstruksikan agar tidak ada pengecualian, bahkan untuk anggota keluarganya."

"Pergi, tanya dia lagi."

Atas perintah dingin sang Duke, kesatria itu melirik kesatria lain seolah-olah tidak ada pilihan lain.

Kesatria yang menerima sinyal itu berlari ke rumah. Namun, jawaban yang dia bawa kembali sama,

"Christa tidak ingin melihat siapa pun, bahkan ayahnya."

Wajah sang Duke menjadi kaku. Tapi bukannya berteriak, dia bertanya dengan tenang.

"Jadi, tidak ada seorang pun dari luar yang pernah bertemu Christa?"

***

“Ada yang tidak beres. Ini aneh."

Duke Zemensia, yang menyewa seluruh penginapan, bergumam ketika dia memasuki kamar tidur di lantai paling atas.

"Christa tidak bertemu dengan siapa pun?"

Setelah seorang pelayan menurunkan barang bawaan dan menutup pintu, bawahan itu menjawab,

“Dia sepertinya ingin tenang.”

Bukankah itu bisa dimengerti? Jika dia memiliki harga diri, dia mungkin ingin bersembunyi selama satu tahun atau lebih.

“Tuan, apa yang ingin Anda lakukan sekarang? Apakah Anda akan mengirim seseorang beberapa kali lagi sebelum Anda kembali?”

Namun, sang Duke menggelengkan kepalanya.

"Tidak."

"Lalu…"

"Cari tentara bayaran yang gesit."

"Apa?" Bawahan itu terkejut dan bertanya, "Apakah Anda berencana untuk menyusup ke tempat itu?"

“Apa menurutmu aku bisa menghindari para kesatria itu dengan tubuh ini? Itu sebabnya aku ingin kamu mendapatkan tentara bayaran yang gesit. Aku ingin dia masuk untukku.”

"Tapi Christa tidak ingin bertemu siapa pun ..."

"Aku tahu."

Sang Duke mengulurkan jari dan menunjuk ke bawahannya. Selanjutnya, dia bertanya dengan tatapan bingung.

“Bukankah itu aneh? Christa suka bersosialisasi dengan orang lain. Dia sangat memerhatikan orang lain sampai-sampai dia mengabaikan dirinya sendiri.”

Mata sang Duke menyipit.

"Aku bisa mengerti bahwa dia marah padaku, tapi itu tidak wajar jika dia tidak ingin bertemu siapa pun."

Fakta bahwa dia meninggalkan takhta dan pergi ke Compshire tidak berarti dia akan dikurung.

Mantan ratu menjalani kehidupan impian bahkan setelah meninggalkan takhta, dan bangsawan dari dalam dan luar negeri mengunjungi untuk memberi penghormatan.

Pengaruh mantan ratu di masyarakat kelas atas tidak berkurang hanya dengan pergi ke Compshire.

‘Jadi mengapa dia tetap diam?’

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 321          

>>>             

Chapter 323

===

Daftar Chapters 


Ingin memberi dukungan? Klik https://saweria.co/storylover


Thursday, March 24, 2022

Remarried Empress (#321) / The Second Marriage




Chapter 321: Penyangkalan (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Begitu aku bangun keesokan harinya, pikiran pertama yang muncul di benakku adalah, 'Aku lapar.'

Aku ingin makan roti panggang Heinley. Roti tipis dan renyah itu. Baru ketika keinginan untuk makan roti sedikit mereda, aku ingat apa yang terjadi kemarin.

Sementara aku dikejutkan oleh kenyataan yang tidak terduga, Heinley dengan lembut memanggilku "Ratuku".

Ketika aku duduk dengan tergesa-gesa, aku melihat Heinley masuk dari kamarnya dengan troli makanan.

"Apakah kamu bangun lebih awal?"

“Ratuku, aku tahu kamu belum bisa makan dengan baik akhir-akhir ini. Aku membuat sarapan dengan memikirkan makanan yang kamu sukai.”

“Bau ini…”

"Ah, apakah kamu tidak suka aroma sarapan?"

Aku menggelengkan kepalaku dan berjalan cepat ke depan troli makanan. Melepaskan kain kuning muda yang menutupi piring, aku bisa melihat telur dadar, sup sayuran, dan roti panggang yang ingin aku makan.

Aku tidak bisa menghentikan tanganku untuk langsung menyambar roti, aku merobek sepotong roti, mencelupkannya ke dalam sup dan mengunyahnya. Indera pengecapku, yang tidak dapat merasakan rasa selama hampir sepuluh hari, akhirnya mulai bekerja.

"Sangat lezat."

“Aku sedih melihat Ratuku makan dengan terburu-buru.”

"Bukankah wajar makan seperti ini jika enak?"

"Aku merasa kamu ingin makan, tapi tidak bisa."

“Kebetulan, aku sangat ingin makan ini.”

Memasukkan sepotong roti kembali ke mulutku, aku menunjuk ke apa yang tersisa. Baru setelah aku selesai makan aku mulai mengkhawatirkan citraku.

'Betapa bodohnya aku! Aku memakan semuanya tanpa menunggu Heinley.’

Untungnya, aku tidak makan roti Heinley juga …. Begitu aku memikirkannya, Heinley bahkan menawariku roti panggangnya sendiri.

"Apa yang terjadi dengan Whitemond?"

Setelah aku merasa puas, aku bisa bertanya seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Meskipun di dalam hati aku sangat malu, aku tidak menunjukkannya sama sekali.

Sebenarnya, aku ingin bertanya padanya tentang percakapannya dengan McKenna kemarin. Namun, aku takut dia akan menjawab, 'Aku telah bersiap untuk menyerang negaramu.' Aku belum siap untuk mendengarnya.

Jadi aku akan mengesampingkan pertanyaan itu untuk saat ini. Aku juga sangat penasaran dengan hasilnya dengan Whitemond. Ketika aku tiba, raja sudah pergi.

“Apa yang raja katakan? Karena dia datang sejauh ini, sepertinya dia juga tidak ingin berperang…”

"Raja berkata Whitemond dapat mengizinkan kita menggunakan pelabuhan itu lagi."

“Itu bagus, bukan?”

"Yah, itu agak ambigu."

"Mengapa?"

“Sebelum kita bisa menggunakan pelabuhan, dia menuntut kita menandatangani perjanjian kalau pelabuhan tidak akan pernah digunakan sebagai alasan untuk menyerang mereka. Juga, dia ingin perjanjian tersebut dijamin oleh Aliansi Wol.”

“Jika kita menuruti tuntutan mereka, apakah kita bisa menggunakan pelabuhan seperti dulu? Apakah tidak ada bedanya?”

"Tepat sekali."

"Dalam perjanjian itu akan ada klausul* yang memungkinkan kita untuk melawan jika ada bahaya?" (*klausul : ketentuan tersendiri dari suatu perjanjian … [sumber : KBBI])

"Ya."                    

Itu cukup menyeluruh. Apakah itu bahkan akan memasukkan klausul kalau perjanjian itu tidak akan berpengaruh selama pelabuhan itu tidak digunakan?

Bukan untuk memulai perang, tapi untuk bisa merespon provokasi dari pihak lain.

Tetapi dengan klausul ini, bukankah Whitemond akan setuju untuk diserang selama pelabuhan tersebut tidak digunakan?

"Apa yang akan kamu lakukan?"

“Alih-alih cara yang rumit, kita harus mengambil cara yang mudah…”

Heinley, yang bergumam pada dirinya sendiri, mengalihkan pandangannya dan diam-diam mengubah kata-katanya,

“Aku perlu memikirkannya lagi.”

***

Sementara Navier dan Heinley menyembunyikan pikiran mereka yang sebenarnya.

Ayah Christa, Duke Zemensia, sedang belajar di rumahnya. Di belakangnya, seorang bawahan melihat sekeliling dengan gelisah.

Bawahan itu terkejut karena Duke Zemensia tua tidak melakukan apa-apa meskipun ada desas-desus kuat yang beredar tentang kemungkinan tidak suburnya Permaisuri Navier.

Bukan karena dia telah memutuskan untuk berpihak pada Permaisuri, melainkan karena dia tidak tahu niat Permaisuri karena Permaisuri tidak menunjukkan reaksi apa pun.

“Akan sulit bagi Marquis Ketron untuk bergerak sekarang. Marquis memutuskan untuk sepenuhnya mengubah posisi keluarga setelah skandal Marquis.” Dia menganggap masa depan anak-anaknya lebih penting daripada kesetiaan antara Marquis dan Mantan Ratu, jadi dia sepertinya menekan Marquis agar tetap diam.

Bawahan itu melanjutkan dengan gugup.

“Bukankah kita harus menentukan posisi kita sesegera mungkin? Antara membalas dendam atau mengubah sisi.”

Akhirnya, Duke Zemensia tua berbicara dengan suara keras sambil diam-diam menatap sampul buku.

“Kemungkinan besar rumor ketidaksuburan itu adalah jebakan.”

"Apakah maksud Anda Permaisuri tidak infertil?"

“Bukan hanya tidak subur, tapi mungkin saja dia sedang hamil. Kalau tidak, dia tidak akan begitu percaya diri dalam memasang jebakan ini.”

Mata bawahan itu melebar.

“Bukankah Marquis Ketron yang memulai rumor itu? Selain itu, setiap kali membicarakan penerus, Permaisuri mengubah topik pembicaraan dengan ekspresi serius.”

"Apakah menurutmu Permaisuri Navier, yang pernah memerintah Kekaisaran Timur, bahkan tidak bisa mengatur ekspresinya?"

“Ah…”

“Si kaisar yang licik bagai rubah itu juga membiarkan rumor itu berlalu. Mereka pasti merencanakan sesuatu.”

"Saya mengerti. Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Bawahan itu bertanya dengan wajah khawatir.

"Saat ini yang terbaik adalah berhati-hati, jadi kita akan tutup mulut."

Duke Zemensia berbicara dengan berat, perlahan berbalik dan melihat bingkai foto di atas meja di ruang kerjanya. Di bingkai foto, Christa kecil sedang duduk di pangkuannya sambil tersenyum lebar.

Sang Duke, dengan air mata di matanya, membuka mulutnya tanpa daya,

“Yang aku inginkan sekarang adalah melihat putriku. Apakah Christa masih tidak membalas?”

"Tidak. Sepertinya dia sangat kesal karena Duke tidak ikut campur untuk membelanya.”

Sang Duke, yang berdiri tertegun sejenak seperti pohon mati, mengangkat bingkai foto yang tergeletak di atas meja.

"Kalau begitu aku harus pergi langsung."

***

Viscount Roteschu telah menetapkan perbatasan Palme yang gersang sebagai titik awal dalam pencarian Rivetti dan juga untuk 'saudara perempuan Rashta'.

Palme adalah tempat di mana kelompok bandit terkenal beroperasi, Seribu Abadi. Meskipun mereka saat ini tidak seaktif di sekitar tempat ini, dulunya mereka aktif ketika Viscount dan Viscountess Isqua kehilangan putri mereka.

Viscount dan Viscountess Isqua tidak kehilangan putri mereka di Kekaisaran Timur, tetapi mereka telah mengatakan kalau mereka terperangkap dalam serangan oleh seribu bandit abadi, jadi ada kemungkinan putri mereka yang lain telah sampai sejauh ini.

Viscount Roteschu terlalu sibuk dengan kedua pencarian tersebut. Tidak berlebihan apa yang dia katakan pada Rashta, dia bahkan tidak tahu bagaimana kabar Alan belakangan ini.

Terkadang dia mengkhawatirkan apa yang mungkin dilakukan Alan karena kepribadiannya yang bodoh, tetapi dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau tidak ada hal buruk yang bisa terjadi.

Alan selalu tinggal di rumah untuk merawat putranya.

Setelah beberapa hari mencari, Viscount Roteschu akhirnya menemukan petunjuk tentang putri asli Keluarga Isqua. Dia mengetahui kalau gadis itu mungkin telah dikirim ke Panti Asuhan Derose setelah melalui dua orang tua asuh.

Itu bukan petunjuk yang dia inginkan setelah menghabiskan berhari-hari mencari informasi tentang Rivetti.

Tapi dia tetap pergi ke panti asuhan itu. Dia berharap menemukan petunjuk tentang putrinya sendiri saat mencari putri Keluarga Isqua.

“Mari kita lihat… Berapa rentang usianya? Apakah Anda tahu ciri-ciri fisiknya? Jika Anda tidak tahu apa-apa tentang kepribadiannya, itu tidak masalah, kepribadian anak-anak terus berubah. Selain itu, jika dia terjebak dalam sekelompok bandit, kemungkinan besar kepribadiannya telah berubah secara drastis… Hmm. Anda bahkan tidak tahu ciri-ciri fisiknya.”

Saat direktur panti asuhan mencari-cari catatan waktu ketika Keluarga Isqua kehilangan putri mereka, Viscount Roteschu menatap dengan bingung pada potret Permaisuri Navier yang tergantung di dinding kantor direktur.

Malahan, panti asuhan ini disokong oleh Empress Navier. Itu juga panti asuhan yang disokong Rashta dengan uang Navier.

“Oh, betapa beruntungnya.”

Pada saat itu, direktur menghela napas dan tersenyum. Kemudian dia menyerahkan dokumen yang sedang dia periksa ke arah Viscount Roteschu.

“Hanya dua gadis yang memasuki panti asuhan kami saat itu.”

"Hanya dua orang?"

“Kami tidak ingin menerima orang lain karena sudah penuh, tetapi kami tidak punya pilihan selain menerima dua orang lagi karena keadaan yang tidak menguntungkan yang dialami gadis-gadis itu.”

Viscount Roteschu buru-buru melihat dokumen yang ditunjukkan direktur kepadanya.

Ada dua potret kecil berdampingan. Di bawah salah satu potret tertulis 'ditarik kembali'.

"Gadis ini…"

“Seperti yang saya katakan, dua orang diterima. Satu orang pergi lima tahun lalu karena untungnya orang tua kandungnya datang untuk menjemputnya. Jadi ini satu-satunya gadis yang ada.”

Direktur mengarahkan jarinya ke gadis tanpa catatan di bawahnya dan tersenyum lebar.

“Dia adalah kebanggaan panti asuhan kami. Namanya Evely.”

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 320          

>>>             

Chapter 322

===

Daftar Chapters 


Remarried Empress (#320) / The Second Marriage




Chapter 320: Penyangkalan (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Heinley memanggil McKenna ke kantornya di tengah malam. Begitu dia masuk, Heinley memberitahunya,

"Kurasa kita punya masalah."

McKenna bertanya dengan getir.

"Ada masalah di jam selarut ini?"

"Ini terkait dengan fenomena penurunan penyihir."

McKenna memiringkan kepalanya.

"Bagaimana bisa ada masalah?"

Logika untuk mencuri mana dari seorang penyihir itu sederhana. Namun, tidak mudah untuk memenuhi semua syarat tersebut, sehingga orang tidak menyadari logika sederhana itu. Hanya karena kecelakaan mengerikan di masa kecilnya, Heinley bahkan menyadari kondisi ini.

"Itu karena kalung mana."

"Ah."

McKenna menghela napas pelan.

"Masih belum pasti kalau kalung itu yang jadi masalahnya."

"Saya mengerti."

McKenna mengangguk dan bertanya,

"Jadi, haruskah saya pergi ke sana untuk memeriksa situasinya?"

Dia ingin pergi memeriksa situasi sehingga dia bisa istirahat. Pekerjaan menjadi berat akhir-akhir ini. McKenna mengajukan diri lagi, senang dengan ide bagus yang dia buat.

 “Tidak ada yang lebih baik dari saya untuk melakukan ini. Saya akan memeriksa untuk melihat apakah kalung itu benar-benar menjadi masalahnya, Yang Mulia.”

"Kau punya pekerjaan yang harus dilakukan, McKenna."

“…”

"Cuma bercanda. Anda akan menarik terlalu banyak perhatian. Anda sudah terkena panah.”

Ekspresi Heinley berubah antara kekhawatiran dan keseriusan, lalu dia berpikir sejenak sebelum melanjutkan.

"Aku ingin mengirim seseorang yang tidak mencolok dan berhati-hati."

“Apa pendapat Anda tentang burung gagak? Dia kecil dan cepat.”

“Baiklah, kirim burung gagak untuk memeriksa situasinya. Jika dia berpikir kalau kita akan ketahuan karena kalung itu, dia harus melakukan apa saja untuk mendapatkannya kembali.”

"Saya mengerti."

"Jika dia tidak bisa membawanya kembali, maka dia harus menghancurkannya."

“Akan saya pastikan begitu.”

Setelah Heinley selesai dengan masalah ini, dia menepuk pundak McKenna dan menuju pintu untuk pergi.

Pada saat yang sama, McKenna menghela napas dalam hati.

Dia sudah selesai dengan pekerjaannya hari ini. Dia sekarang akan kembali ke kamarnya untuk beristirahat dan mencoba menyelesaikan beberapa masalah dengan Heinley dalam mimpinya.

Namun, Heinley tetap berdiri di depan pintu alih-alih membukanya. Meskipun dia hanya perlu memutar kenop pintu, dia menatapnya dengan kedua tangannya di bawah.

Saat McKenna mendekat, dia bertanya,

"Ada apa, Yang Mulia?"

Saat itulah Heinley berseru, "Ahh". Tidak ada tanggapan lain.

Begitu McKenna melihat gagang pintu yang dilihat Heinley, dia langsung berteriak, "Hah?!"

Gagang pintunya berwarna putih.

"Apa yang terjadi?"

Kenop pintu telah berubah menjadi sangat putih sehingga bahkan mata telanjang dapat mengetahui kalau itu membeku, dan es di atasnya tampak setinggi 0,7 cm. Seseorang baru saja membekukan kenop pintu.

McKenna dengan cepat bergumam kaget,

“Penyihir Es…!”

Hanya penyihir yang bisa melakukan ini, tetapi sejauh yang diketahui McKenna, saat ini tidak ada penyihir es di istana kekaisaran. Faktanya, ada sangat sedikit penyihir di Kekaisaran Barat.

“Yang Mulia, sepertinya seseorang memata-matai kita! Apakah itu Kekaisaran Timur? Apakah Kekaisaran Timur menyusupkan mata-mata ke istana kekaisaran?”

McKenna bertanya dengan panik. Namun, ekspresi Heinley tenang. Heinley meletakkan tangannya di kenop pintu tanpa sepatah kata pun. Ketika tangannya menyentuhnya, es itu terlepas dari kenop pintu yang beku dengan mudah.

***

Burung gagak. Kalung. Ketahuan.

Apakah ini ketiga kata kuncinya…?

Alih-alih melarikan diri ketika percakapan tiba-tiba berakhir, aku seharusnya masuk dan bertanya langsung, 'Apa yang kalian bicarakan?'

Setelah aku berkeliaran sebentar, aku kembali ke tempat tidur dan berbaring miring.

Tapi kata-kata Heinley terus muncul di kepalaku. Apakah dia benar-benar terlibat dalam fenomena penurunan penyihir? Apa hubungan antara burung gagak dan kalung? Bagaimana jika Heinley ada hubungannya dengan fenomena seperti itu… Apa yang harus aku lakukan?

Aku ingat bagaimana Evely terisak karena kehilangan mana-nya.

Pada saat itu, aku mendengar suara pintu dibuka. Suara itu menembus setiap inci tubuhku. Aku buru-buru memejamkan mata dan membungkus diri dengan seprai. Saat suara lembut langkah kaki mendekat, detak jantungku semakin cepat.

Lalu aku merasakan kehadiran seseorang di dekat wajahku.

"Apakah kamu tidur?"

Suara yang berbisik di telingaku rendah dan penuh kasih sayang. Suara itu jelas milik Heinley-ku.

"Mimpi indah."

Suaranya lebih hangat dari seprai. Setelah dia mencium pipiku dengan bibirnya, dia dengan hati-hati berbaring di tempat tidur dan menarikku ke dalam pelukannya.

Aku bisa merasakan dada berotot Heinley menyentuh punggungku dan napasnya di belakang leherku.

Memelukku, Heinley tertidur.

Detak jantungku perlahan menjadi tenang. Aku melepaskan tanganku dari seprai dan meletakkannya di lengannya yang melilitku.

Bahkan jika Heinley mencuri mana penyihir, aku tidak bisa menyalahkannya. Dia tampaknya memiliki jiwa kompetitif melawan Kekaisaran Timur. Malahan, itu adalah negara saingan.

Heinley adalah Kaisar Kekaisaran Barat, jadi wajar saja jika dia ingin negaranya berada di puncak.

Para siswa Akademi Sihir datang dari seluruh dunia, tetapi proporsi dari Kekaisaran Timur adalah yang tertinggi. Faktanya, sebagian besar lulusan akademi diserap oleh Kekaisaran Timur …

Aku datang dari Kekaisaran Timur. Orang tuaku, saudaraku, keluargaku, nenek moyangku dan teman-temanku semua ada di sana.

Aku mencintai negaraku sama seperti Heinley mencintai negaranya. Aku akan mencintai Kekaisaran Barat seperti aku mencintai Heinley, aku akan mencintai orang-orang dari Kekaisaran Barat seperti aku mencintai orang-orang dari Kekaisaran Timur, dan jika kedua kekaisaran bertarung demi kepentingan yang sama, aku bertekad untuk memberikan yang terbaik untuk Kekaisaran Barat.

Namun, aku tidak bisa menginjak-injak Kekaisaran Timur untuk mencintai Kekaisaran Barat.

Heinley seharusnya tahu bagaimana perasaanku jika dia terlibat dalam fenomena penurunan penyihir.

Meskipun secara rasional aku bisa mengerti, secara emosional aku tidak bisa tidak membencinya.

Jadi… aku harap tidak.

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 319          

>>>             

Chapter 321

===

Daftar Chapters