Sunday, March 13, 2022

Remarried Empress (#316) / The Second Marriage




Chapter 316: Kenapa Dia Di Sini (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Rashta berulang kali meremas sandaran tangan kursinya.

Matanya tertuju pada permadani indah di dinding seberangnya, tetapi pikirannya tidak benar-benar terfokus pada permadani itu.

Dia mengingat peringatan Joanson.

Rashta akhirnya bangkit dari kursi. Semakin dia memikirkannya, semakin parah sakit kepalanya, jadi dia akan berbaring di tempat tidur untuk tidur siang. Apa lagi tempat yang lebih baik untuk melupakan dan melarikan diri dari kenyataan selain mimpi indah?

“Yang Mulia. Kaisar ada di sini.”

Tapi sekarang sepertinya dia bahkan tidak akan bisa melarikan diri. Mendengar bahwa Sovieshu telah datang, Rashta bergumam dalam ketakutan dan ketidakberdayaan.

“Biarkan dia masuk…”

Di masa lalu, kehadirannya membuatnya merasa baik. Bagaimana itu berubah menjadi hubungan yang tidak menyenangkan dalam waktu kurang dari setahun?

Rashta menatap pria yang masuk itu dengan sedih. Berbeda dengan Rashta yang kuyu, Sovieshu masih memancarkan martabat dan pesona.

Tapi dia memiliki ekspresi yang sangat dingin, yang membuat Rashta semakin ketakutan. Dia telah membaca artikel itu!

"Apa itu benar?"

Sovieshu langsung ke intinya. Dia bertanya segera setelah dia menutup pintu. Seperti yang ditakuti Rashta, dia sepertinya telah membaca artikel di koran hari ini.

“Aku bertanya apakah itu benar, Rashta. Benarkah apa yang diklaim dalam artikel itu?”

Rashta merespons dengan lemah.

"Apakah kamu datang ke sini untuk mencari jawaban atau apakah kamu sudah memilikinya?"

Suaranya yang menyedihkan dan ekspresi pucatnya bisa menimbulkan rasa kasihan, tetapi tatapan Sovieshu tetap acuh tak acuh.

'Kemana perginya pria yang menyanyikan lagu pengantar tidur di perutku beberapa bulan yang lalu? Sovieshu saat ini bahkan mengambil putriku dariku.'

"Apakah kamu akan percaya jawaban Rashta?"

"Bagaimana jika aku tidak percaya padamu?"

“…”

"Jujurlah. Kamu harus memberitahuku sekarang sehingga aku dapat membantu menyelesaikannya.”

Rashta menggigit bibirnya.

Melihat koran yang terhampar di meja kopi, Sovieshu melanjutkan,

“Apakah orang itu ayah kandungmu atau bukan, bukan salahmu dia muncul begitu tiba-tiba. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu untuk ini. Jadi jujurlah padaku. Mari kita permudah ini.”

“Jika Rashta berbohong…. Akankah Yang Mulia juga meninggalkan Rashta?”

“Jangan buang-buang waktuku.”

"Apa maksudmu, mari kita permudah ini?"

“Rashta.”

Dia merasa sangat tercekik oleh suara Sovieshu.

Rashta ragu-ragu dan menjawab,

"Dia bukan ayah kandungku."

Rashta menurunkan matanya untuk menghindari tatapan Sovieshu.

Melihat Rashta tetap seperti itu untuk sementara waktu, Sovieshu dengan tenang berkata, "Tidak apa-apa." Kemudian, dia berbalik dan berjalan keluar. Dia tidak bertanya lagi apakah itu benar.

'Apakah dia menyadari aku berbohong?' Khawatir dia akan kembali kapan saja, Rashta membeku ketakutan, menelan ludah.

Namun, Sovieshu tidak kembali dan dia terlambat menyesalinya.

Dia tidak ingin menjadi gangguan bagi Sovieshu, jadi dia mengatakan bahwa pria itu bukanlah ayah kandungnya. Bahkan jika Sovieshu menyelesaikannya, dia tidak ingin dia berpikir dalam prosesnya, 'Dia wanita yang tidak kompeten dan menyusahkan.'

Sovieshu sudah tahu tentang kebohongan Rashta. Begitu dia memasuki kantor, dia menyebutkan ini kepada Marquis Karl,

"Pada akhirnya dia berbohong."

"Lagi?"

"Ya. Lagi."

Marquis Karl menghela napas,

“… Tapi kali ini aku merasa sedikit kasihan padanya. Pasti karena pria itu Rashta menjadi budak. Dan sekarang dia telah muncul kembali.”

Sovieshu mengangguk. Itulah mengapa dia berniat membantunya jika dia menjawab dengan jujur, itu adalah kesempatan yang dia berikan kepadanya.

"Apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia?"

“Jika aku membiarkannya, dia akan menyakiti putriku. Orang seperti itu tidak memiliki keraguan dan tidak mungkin dia akan berubah di masa mendatang. Dia harus ditangani secara diam-diam sebelum terlambat.”

“Haruskah kita melakukannya sekarang?”

“Ada banyak orang yang menaruh perhatian saat ini. Akan lebih baik berurusan dengannya begitu perhatian orang beralih ke masalah lain … atau setelah aku meninggalkan ibukota.”

***

“Yah, lebih baik melakukannya sesegera mungkin. Nanti usia kehamilannya akan semakin tua…”

Heinley, yang diam-diam membelai perutku, akhirnya memutuskan bagaimana menangani masalah pergi ke Wirwol.

Dia sepertinya berpikir lebih baik pergi sekarang daripada di lain waktu di masa mendatang.

“Tetapi dokter istana menerangkan kepada saya kalau beberapa bulan pertama membutuhkan perhatian yang paling besar.”

Bantalan di punggungku telah bergeser, jadi aku mengulurkan tangan untuk menyesuaikannya.

Setelah aku bersandar di bantal, Heinley meletakkan tangannya di perutku lagi dan menjawab,

“Itu juga membuatku sangat khawatir, Ratuku. Tapi nanti tidak bisa disembunyikan kalau kamu hamil.”

"Itu benar."

Saat perutku membesar, semua orang akan tahu kalau aku hamil. Berita itu akan mencapai negara lain juga.

Heinley menghela napas.

“Bukankah negara-negara tetangga waspada sejak kita mendeklarasikan diri sebagai sebuah kekaisaran? Jika tersiar kabar kalau kamu hamil, hidupmu bisa dalam bahaya di kemudian hari.”

"Kamu benar."

“Aku sudah menyiapkan kereta yang besar dan nyaman. Anggap saja seperti liburan beberapa hari.”

"Ya."

Aku menjawab, dan meletakkan tanganku di atas tangan Heinley di perutku. Heinley memutar tangannya untuk menautkan jari-jarinya dengan jariku dan berbisik,

“Ratuku. Jika kita pergi ke Wirwol, kita akan melewati jalan itu juga.”

“Tempat kita makan malam bersama.”

"Ya. Tempat itu."

Pikiran kami terhubung, Heinley mencium tanganku dan tersenyum lebar. Aku membungkuk untuk mencium dahi Heinley. Meskipun dia tidak pernah tahu kapan es akan keluar dari tanganku, dia tampaknya tidak takut sedikit pun.

Kami juga ingin keluar bersama setelah sekian lama, jadi kami akan memanfaatkan perjalanan ke Wirwol.

Di situlah aku memintanya untuk menikah denganku ...

Segera setelah kami memutuskannya, kami mulai mempersiapkan perjalanan.

Karena ini bukan kunjungan resmi, melainkan kunjungan singkat, persiapannya pun tidak memakan banyak waktu.

Apa-apa yang penting disiapkan, dan kereta itu didekorasi seperti kereta bangsawan biasa.

Heinley sesekali menyebutkan nama-nama restoran lezat di Wirwol, mengatakan dengan sangat antusias bahwa kami akan pergi mengunjunginya satu per satu.

Tapi dua hari sebelum kami pergi. Pesan mendesak datang dari Whitemond. Raja Whitemond akan datang sendiri untuk bertemu dengan Heinley. Dia ingin membicarakan masalah pelabuhan secara pribadi, bukan melalui delegasi.

Mengingat saat pesan itu tiba, raja pasti sudah meninggalkan negaranya.

Whitemond bukanlah negara yang jauh. Jika raja pergi segera setelah mengirim pesan, dia akan tiba di sini pada saat Heinley dan aku pergi, kecuali jika ada keadaan khusus yang terjadi.

Aku memegang pipinya dengan kedua tangan dan menghibur Heinley yang pilu.

"Tinggallah. Aku bisa pergi sendiri.”

Aku merasa kasihan pada Heinley, yang bersemangat tentang perjalanan bersama kami, tetapi itu tidak dapat ditunda.

“Tidak, Ratuku. Itu berbahaya."

“Viscount Langdel berkata dia akan mengawalku dengan Kesatria Supranasional. Apa yang bisa berbahaya?”

"Tetapi…"

“Heinley. Raja negara lain akan mengunjungi kita secara langsung. Kita tidak bisa absen pada saat yang bersamaan. Terutama kamu."

Heinley mengangguk dengan enggan setelah aku berbicara dengan tegas. Meskipun terkadang dia tampak bertindak secara emosional, Heinley sebenarnya tidak memiliki masalah memisahkan masalah publik dari masalah pribadi.

"Aku akan kembali segera setelah aku belajar tentang mana."

Begitu aku berjanji, Heinley kembali mengangguk dengan sedih.

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 315         

>>>             

Chapter 317

===

Daftar Chapters 


Thursday, March 10, 2022

Remarried Empress (#315) / The Second Marriage




Chapter 315: Peringatan Joanson (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

"Ayah. Cobalah. Ayah."

Bayi itu berceloteh "bubu" dan tertawa. Sovieshu tersenyum bahagia seolah bayi itu memanggilnya ayah, memberinya ciuman di perutnya dan mengulangi,

"Ayah. Cobalah. Ayah."

Ketika bayi itu berceloteh "bubu" lagi, Sovieshu tersentuh dan bergumam,

"Putriku, putriku sangat pintar."

Bayi itu tertawa terbahak-bahak lagi.

Viscountess Verdi tersenyum sedih melihat adegan ini saat dia membawa sebotol susu hangat untuk si bayi.

Meskipun Sovieshu terlihat bagus dengan bayi di pelukannya, berapa banyak orang yang harus dia korbankan untuk ini? Memikirkannya saja sudah membuatnya merasa tidak enak.

Sang putri tampak sangat cantik melambaikan tangannya. Viscountess salah karena berpikir kalau dia tidak akan bisa mencintainya karena dia adalah putri Rashta.

Setelah menjadi pengasuh putri, Viscountess Verdi semakin dekat dengan putri cantik itu setiap hari.

Ketika Viscountess Verdi mendekat, Sovieshu menyerahkan bayi itu ke dalam pangkuannya.

Viscountess Verdi menerima dan memegang sang putri dengan cekatan.

Namun di tengah momen yang menyenangkan itu, ada ketukan di pintu.

"Yang Mulia, ini Marquis Karl."

Melihat sang putri tertawa dalam pelukan Viscountess Verdi, Sovieshu dengan enggan meninggalkan kamar bayinya.

"Ada masalah apa?"

“Yang Mulia. Ada sesuatu yang harus Anda lihat.”

Marquis Karl berbicara dengan serius. Hanya dengan melihat ekspresinya, orang bisa tahu kalau dia tidak datang untuk sesuatu yang baik.

"Aku akan menunjukkan kepada Anda di tempat yang sepi."

Sovieshu memimpin Marquis Karl ke ruang tamunya dan bertanya,

"Apa itu?"

Marquis Karl mengeluarkan koran terlipat yang ada di dalam jasnya.

"Ada artikel tentang Permaisuri."

Sementara Marquis tidak berani mengatakannya secara langsung, Sovieshu menerima koran itu dan membukanya. Matanya dengan cepat menyapu isi koran.

Tak lama kemudian, Sovieshu menemukan apa yang ingin ditunjukkan Marquis Karl kepadanya.

"Apa artinya ini?"

Ekspresi Sovieshu juga menjadi gelap.

***

Artikel itu sendiri tidak terlalu relevan dalam surat kabar. Terpampang di bagian kecil di pojoknya.

Namun, isi artikel itu mengejutkan.

Jurnalis tersebut menceritakan bahwa dia telah bertemu dengan seorang pria yang mengaku sebagai ayah kandung Rashta dan, meskipun dia menjelaskan bahwa dia tidak dapat memastikannya, dia merinci setiap pernyataan pria itu.

Pria yang mengaku sebagai ayah kandung Rashta membuat tiga pernyataan utama. Dia bekerja sangat keras untuk menyokong putrinya sehingga dia bahkan tidak tahu dia telah menjadi Permaisuri. Putrinya tampaknya telah mencari ayah palsu di kalangan bangsawan karena dia malu menjadi rakyat biasa. Dia mengunjungi putrinya, tetapi ditolak dan diusir.

Ini adalah ringkasan dari artikel yang panjang itu, tetapi beberapa orang akan bingung dengan pernyataannya yang berbelit-belit.

Sovieshu menggosok pelipisnya. Artikel tentang seseorang berstatus tinggi ini biasanya ditulis secara anonim oleh jurnalis. Namun, jurnalis ini dengan bangga mengungkapkan namanya.

Bahkan ini tidak menguntungkan bagi Rashta. Dengan mengungkapkan namanya dalam artikel seperti ini, dia memberikan kredibilitas lebih, yang akan mengarah pada pembentukan opini publik tertentu.

Meskipun sekarang itu hanya klaim tak berdasar ...

“Bagaimana dengan sertifikat budak? Kamu masih belum menemukannya?"

“Sulit untuk menemukannya karena Anda harus mencarinya secara diam-diam.”

Gumpalan yang terbakar mencuat di tenggorokannya. Sovieshu menghela napas, mencoba menenangkan amarahnya. Namun, kemarahannya malah naik lebih tinggi.

Meskipun Rashta akan segera meninggalkan posisi permaisuri, tidak demikian halnya dengan putrinya. Putrinya akan berada dalam situasi yang sulit jika Rashta dipastikan adalah budak.

Bahkan seorang putri biasa pun demikian. Tapi itu terutama berlaku untuk Glorym karena dia akan menjadi permaisuri pertama yang memerintah di Kekaisaran Timur.

“Di mana jurnalis ini sekarang? Siapa pria yang mengaku sebagai ayah kandung Rashta ini?”

Sovieshu menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Pertama aku harus memeriksa apakah yang dikatakan pria ini benar, di mana Rashta?”

***

Rashta berada di Istana Barat bersama sang jurnalis.

Awalnya, dia enggan memanggil jurnalis itu karena Sovieshu telah sangat mengurangi kewenangannya, meminta untuk diberitahu terlebih dahulu ketika dia menjalankan otoritasnya sebagai permaisuri.

Tetapi begitu dia melihat nama orang yang menulis artikel tentang ayah kandungnya, dia berubah pikiran, yakin bahwa dia tidak bisa berpangku tangan.

Jurnalis itu adalah Joanson. Dia adalah jurnalis yang pergi ke ruang audiensi dan meminta untuk menemukan saudara perempuannya. Sebelum itu, dia merupakan jurnalis yang menggambarkannya sebagai harapan rakyat jelata setelah mewawancarainya.

Setiap kali jurnalis ini bertemu dengannya, ekspresinya berbeda. Pada pertemuan pertama, dia menatapnya dengan mata cerah; pada pertemuan kedua, dia menatapnya dengan mata penuh keputusasaan, dan sekarang dia menatapnya lebih dingin dari sebelumnya.

Rashta bertanya pada Joanson dengan ekspresi sedih.

"Apakah kamu menyimpan dendam terhadap Rashta?"

"Tidak sama sekali, Yang Mulia."

Joanson langsung menjawab. Tetapi bahkan ketika dia mengatakan ini, dia memiliki ekspresi muram.

“Rashta telah melihat semua artikel tak masuk akal yang kamu terbitkan, tetapi Rashta menutup mata karena kamu harus bebas mempublikasikan apa pun yang kamu inginkan. Tetap saja, kali ini, apakah kamu tidak bersikap keterlaluan?”

Rashta menatap Joanson dengan air mata berlinang.

“Kamu mewawancarai Rashta sebelum pernikahan, jadi kamu tahu betapa menderitanya Rashta karena orang tuanya. Tidakkah menurutmu tidak berperasaan melakukan ini?”

Rashta tidak bisa tidur setelah melempar bayinya ke lantai. Karena itu, dia memiliki lingkaran hitam di bawah matanya dan wajah yang pucat, penampilannya sangat menyedihkan. Bahkan hati orang yang paling dingin pun akan melunak saat melihat Rashta seperti ini.

Tapi ini tidak terjadi pada Joanson. Dia merasa sangat dikhianati oleh Permaisuri. Dia juga yakin bahwa Rashta telah menyakiti saudara perempuannya. Karena itu, dia tidak peduli dengan apa pun yang dia katakan, dia tidak akan terenyuh.

Joanson menyilangkan kakinya dan menjawab dengan tenang,

"Sebagai seorang jurnalis, adalah tugas saya untuk mempublikasikan pengakuan pria itu, Yang Mulia."

Sementara itu, dia dengan hati-hati mengamati sikap Rashta.

Para bangsawan benci ketika rakyat jelata menyilangkan kaki di depan mereka. Paling-paling, para bangsawan hanya akan cemberut, dan paling buruk, beberapa memerintahkan bawahannya untuk mematahkan kaki mereka.

Mengetahui hal ini, Joanson menyilangkan kakinya untuk melihat reaksi Rashta.

Tentu saja, Permaisuri Rashta tumbuh di antara rakyat jelata, jadi dia mungkin berbeda dalam hal ini, tetapi dia masih berpikir bahwa jika dia benar-benar memiliki darah bangsawan, dia akan bereaksi terhadap postur seperti itu.

Jadi Joanson terus berbicara secara wajar.

“Bukankah saya menulisnya dengan jelas di artikel? 'Ada seorang pria yang membuat pengakuan seperti itu'."

Itu bukan hanya alasan. Faktanya, dalam artikel yang dia terbitkan tentang pria yang mengaku sebagai ayah kandung Rashta, sang jurnalis tidak menyatakan bahwa dia adalah ayah kandung Rashta.

Karena kata-katanya koheren dan wajahnya memiliki kemiripan tertentu dengan permaisuri', Joanson menulis artikel itu, tetapi menambahkan kalimat, 'ada pengakuan seperti itu'.

Wajah Rashta memerah karena marah.

“Apakah kamu mempublikasikan omong kosong yang dikatakan? Bahkan jika seorang anak mengaku sebagai anak haram Permaisuri?”

"Kata-kata pria yang mengaku sebagai ayah kandung Permaisuri itu masuk akal."

'Karena dia penipu!' Rashta menelan kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya.

Mata Joanson menyipit saat dia mengamati Rashta. Dia tidak bereaksi terhadap fakta bahwa dia duduk bersilang kaki ...

"Apakah Anda ingat kunjungan saya ke ruang audiensi, Yang Mulia?"

"Aku ingat."

“Permintaan saya tidak berubah. Tolong kembalikan adik saya pada saya. Itu sudah cukup."

“Rashta tidak ada hubungannya dengan hilangnya adikmu. Kenapa kamu tidak membiarkanku sendiri ?!”

“Tidak ada satu pun yang saya tulis dibuat-buat. Ada penelitian di balik setiap artikel yang saya terbitkan.”

Joanson menyilangkan kakinya dan berdiri.

"Sampai adik saya kembali, saya tidak akan melepaskan Yang Mulia."

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 314          

>>>             

Chapter 316

===

Daftar Chapters 


Remarried Empress (#314) / The Second Marriage




Chapter 314: Peringatan Joanson (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

"Apa kamu sudah dengar? Tentang bayi itu…”

"Ya, aku dengar kalau Permaisuri dan Kaisar sedang minum obat yang membantu pembuahan."

"Hah? Itu sedikit berbeda dari apa yang aku dengar. Yang aku tahu mereka sedang menjalani perawatan kesuburan.”

"Apa itu benar?"

“Ya, aku mendengarnya dari sepupu dokter istana. Tentang obatnya, bisa juga benar.”

"Jadi, apakah Permaisuri tidak subur seperti yang dikabarkan?"

“Ssst.”

“Jika itu masalahnya, bukankah ini masalah yang rumit? Pendahulunya memiliki adik laki-laki yang sehat selama masa pemerintahannya, jadi tidak ada masalah, tetapi Yang Mulia Heinley bahkan tidak memiliki adik laki-laki!”

***

Tampaknya benih yang aku dan Heinley tanam perlahan-lahan tumbuh. Sementara dayang-dayang memberitahuku rumor yang beredar, aku minum teh yang tidak akan membahayakan si bayi.

Itu adalah teh yang dibawa langsung oleh dokter istana, dan obat yang seharusnya dibicarakan dalam desas-desus.

Alasan rumor itu menjadi obat kesuburan atau untuk membantu pembuahan adalah karena aku telah meminta dokter istana untuk mengemasnya seperti itu.

Heinley dan aku berpura-pura kalau kami telah diam-diam diberi resep obat yang tidak diketahui, dan kami akan mengubah topik pembicaraan setiap kali ada yang mencoba berbicara tentang penerusnya.

Karena itu, tidak ada seorang pun di sekitarku yang membicarakan tentang bayi atau penerus baru-baru ini. Bukan saja mereka yang mendukungku, tetapi juga mereka yang tersisa di pihak Christa.

Untungnya, semuanya berjalan sesuai rencana. Namun…

"Ini aneh."

"Ya! Aku tidak tahu mengapa mereka melakukan ini, mereka harus mengurus urusan mereka sendiri!”

Itu keluar dari mulutku tanpa sadar. Mastas mengayunkan tinjunya ke udara, berpikir kalau kata-kataku ditujukan kepada para bangsawan.

"Cukup! Mereka harus diajari agar tidak main-main dengan Permaisuri. Pasti menyenangkan membuat mereka berjalan dengan tangan selama beberapa jam!”

Aku menggelengkan kepalaku. Meskipun aku bersyukur kalau Mastas marah tentang hal itu, pada titik ini aku tidak berbicara tentang ikan yang mengambil umpan.

Yang menurut aku aneh adalah mereka yang tetap diam, baik Marquis Ketron maupun Duke Liberty. Orang yang aku beri label sebagai Bahaya Level 3.

Sampai sekarang, aku yakin Marquis Ketron yang memulai rumor ketidaksuburan itu. Memang bangsawan lain yang menyebutkannya di tengah pertemuan, tetapi dia memberi kesan sedang dikendalikan oleh Marquis Ketron. Di akhir pertemuan, kami bertukar kata yang juga membawaku pada kesimpulan itu.

'Lalu kenapa? Mengapa Marquis Ketron tidak bergerak sekarang? Mengapa Duke Liberty begitu sunyi lagi sekarang?’

Mereka berhati-hati ... siapa pun akan berpikir begitu. Tetapi jika demikian, mereka akan berhati-hati dari sebelumnya. Selain Duke Liberty, yang lebih mencurigakan adalah kalau Marquis Ketron, yang mengangkat masalah ketidaksuburan terlebih dahulu, justru sekarang diam saja.

Apakah karena penghinaan yang dia alami dengan mencoba menggunakan citra playboy Heinley?

Setelah berpikir lama, aku pergi ke kantor Heinley dan meminta pendapatnya,

"Bagaimana menurutmu, Heinley?"

Di Kekaisaran Timur, aku bisa mengetahuinya sendiri. Aku tumbuh mengamati para bangsawan di sana.

Sebaliknya, aku masih belum mengenal bangsawan Kekaisaran Barat dengan baik. Tentu saja, ada banyak bangsawan yang berteman denganku selama beberapa bulan terakhir. Terkecuali beberapa keluarga yang memendam niat buruk, banyak bangsawan membuka hati mereka kepadaku.

Tetap saja, enam bulan yang lalu aku bahkan tidak mengenal mereka. Bahkan jika itu adalah bangsawan yang dekat, akan sulit untuk sepenuhnya memahami karakternya dan menguraikan niatnya yang sebenarnya. Terbukti, aku tidak dekat dengan Marquis Ketron. Untuk menguraikan niatnya, aku hanya tahu sedikit tentang dia.

Jadi aku tidak punya pilihan selain mencari bantuan Heinley.

"Aku dengar kalau Duke Liberty dan Marquis Ketron bertengkar." (TL: di versi bahasa Inggrisnya tertulis tertulis “Marquis Ketron dan Marquis Ketron” tapi saya ubah salah satunya menjadi Duke Liberty.)

"Apakah karena kejadian sebelumnya?"

“Mungkin sebagian karena itu.”

Heinley menghela napas dan menambahkan,

“Kalau dipikir-pikir, Keluarga Liberty memiliki tiga anak yang pintar. Marquise Ketron mungkin bertengkar hebat dengan Marquis Ketron karena tidak benar-benar berada di pihakku.” (TL: di sini saya mengubah “Keluarga Ketron” menjadi “Keluarga Liberty” agar tidak membingungkan jika namanya dobel. Mudah-mudahan saya tidak salah, hehehe…)

Karena Heinley adalah satu-satunya yang tersisa dari Keluarga Kekaisaran yang sebenarnya, apakah dia memutuskan untuk tetap menundukkan kepalanya untuk saat ini? Untuk masa depan anak-anaknya?

Heinley menghela napas lagi,

“Tentu saja, terus seperti ini akan melelahkan bagi kedua belah pihak.”

Dia benar. Aku akhirnya bersandar di sofa setelah merasa sangat khawatir dan berkata dengan tulus,

“Kurasa memasang jebakan bukanlah bidang yang aku kuasai.”

“Bagian terbaik dari memancing adalah menunggu, Ratuku.”

“Membosankan menunggu membabi buta tanpa mengetahui apakah orang lain akan bereaksi.”

"Jadi bagaimana Ratuku menghadapi musuh politik di Kekaisaran Timur?"

Ketika aku menatapnya dengan tangan disilangkan, Heinley dengan cepat melambaikan tangannya.

“Bukan, hanya karena kamu mengatasi musuh politikmu tidak berarti kamu orang yang jahat. Ada saat-saat dimana itu diperlukan. Itu yang aku maksud."

"Aku tidak punya banyak masalah."

Ketika aku berada di Kekaisaran Timur, aku telah mengkonsolidasikan posisiku di bawah dukungan mantan permaisuri, jadi hanya sedikit yang mencoba bertarung secara terbuka. Bahkan dalam kasus-kasus itu, aku punya banyak dayang di sisiku, dan keluargaku sendiri sangatlah kuat…

Tetap saja, sepertinya topik itu menarik perhatian Heinley, jadi aku menceritakan pengalamanku kepadanya. Saat itulah telapak tanganku mulai gatal. Saat aku secara tidak sadar menggaruknya, aku memiliki sensasi yang sama dengan sebelumnya, ketika aku membekukan rambut Heinley.

Begitu aku memikirkannya, tanganku semakin gatal, jadi aku meletakkannya di atas meja untuk menghangatkannya.

Pada saat itu, sepotong es tipis muncul di atas meja secara tak terduga.

Sepotong es bergerak melintasi meja sampai berhenti di dekat Heinley di sisi lain.

“Ah…”

Saat aku melihat tanganku dengan heran, Heinley bertanya.

"Apakah kamu baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terkejut.”

Melihat fenomena ini untuk kedua kalinya membuatnya terasa semakin menakjubkan. Karena itu tidak pernah terjadi lagi, aku bertanya-tanya apakah itu kebetulan, atau apakah mananya telah menghilang. Tapi tidak.

Aku menutup tanganku berulang kali, melambai ke udara beberapa kali dan akhirnya meletakkannya di pangkuanku. Pada titik ini, aku merasakan tatapan intens dari Heinley padaku, jadi aku mendongak,

"Ada apa?"

Ketika aku bertanya karena ekspresinya yang aneh, Heinley mengangkat mulutnya sendiri dengan jari telunjuknya dan bergumam,

“Sekarang aku ingat, kita melupakan masalah akademi sihir setelah kita tahu tentang kehamilanmu. Meskipun kamu harus pergi ke akademi setidaknya sekali, aku tidak tahu apakah akan lebih baik bagimu untuk pergi sesegera mungkin atau di masa mendatang.”

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 313          

>>>             

Chapter 315

===

Daftar Chapters