Thursday, February 17, 2022

Remarried Empress (#303) / The Second Marriage




Chapter 303: Penerus (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

“Bayi Yang Mulia perjuangkan dengan susah payah ternyata adalah seorang putri…”

Marquis Karl bergumam tak berdaya.

Ekspresinya penuh kekecewaan. Dia bahkan tidak repot-repot menyembunyikannya.

Marquis Karl akan sangat senang jika ini adalah seorang putri yang lahir dalam situasi normal.

Namun, demi putri ini dia telah menyerahkan seorang permaisuri yang luar biasa.

Tidak dapat dihindari untuk memiliki harapan yang tinggi dibandingkan dengan keturunan keluarga kekaisaran yang lahir dalam situasi normal.

Dalam keadaan seperti itu, seorang bayi perempuan hanya akan menjadi kerugian bagi Kekaisaran Timur.

Bayi itu memiliki rambut halus, mata hitam, dan paras yang elok. Kulitnya keriput dan kemerahan saat baru lahir, namun beberapa hari kemudian berubah menjadi putih dan mulus.

Bayi yang tampak seperti Rashta itu adalah gadis tercantik yang pernah dilihat Marquis Karl.

Namun, yang dibutuhkan Sovieshu sekarang bukanlah bayi yang cantik, melainkan penerus yang sehat dan cerdas.

Meskipun dia merasa kasihan pada bayi perempuan itu, Marquis Karl tidak bisa menahan perasaan tidak puasnya.

Akhirnya, Marquis Karl bertanya langsung pada Sovieshu.

"Yang Mulia, apakah Anda akan memiliki anak kedua dengan Rashta?"

Sebagai ajudan dekat kaisar, dia tahu bahwa Sovieshu telah mengumpulkan bukti kejahatan Rashta, yang akan menjadi kelemahannya. Tentu saja, dia tidak percaya bahwa Sovieshu akan memiliki anak kedua dengan Rashta. Tapi dia tetap bertanya.

Sovieshu menggelengkan kepalanya sambil menggendong bayi itu, lalu Marquis Karl berkata dengan suara tidak sabar,

"Yang Mulia, kalau begitu Anda harus menceraikan Rashta sesegera mungkin, dan kali ini bawalah seorang wanita muda dari keluarga terhormat untuk memiliki pangeran."

Dia menikahi Rashta demi bayi di dalam rahimnya, tetapi bayi itu sudah lahir. Marquis Karl beranggapan tidak perlu memilih Rashta yang berada dalam posisi sulit dalam banyak hal untuk memiliki anak kedua.

"Bayi itu lahir ketika Rashta adalah permaisuri, jadi bayi perempuan itu akan tetap menjadi seorang putri bahkan jika dia digulingkan."

Bayi itu menyentuh dagu dan pipi Sovieshu dengan tangan kecilnya seraya memekik.

Sovieshu menggelengkan kepalanya lagi dengan ekspresi muram setelah mendengarkan Marquis Karl dengan saksama.

"Jika permaisuri baru tiba, bayi ini akan berada dalam posisi yang sulit."

"Apakah Anda benar-benar berniat menjadikan Rashta sebagai Permaisuri?"

“Aku tidak berencana melakukannya. Aku berniat menceraikan Rashta. Jika perceraian cepat tidak memungkinkan… Aku harus menggunakan metode yang lebih keras.”

"Dan bagaimana dengan Pangeran?"

Marquis Karl bertanya-tanya siapa yang akan melahirkan Pangeran. Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di benaknya dan matanya melebar, "Tidak mungkin."

"Yang Mulia, apakah Anda masih mengharapkan Navier untuk kembali?"

"Aku harap begitu. Tetapi bahkan jika Navier tidak kembali, tidak akan ada permaisuri berikutnya.”

Marquis Karl kebingungan.

'Rashta akan digulingkan, tetapi tidak akan ada permaisuri berikutnya ... Jadi bagaimana dengan pangeran? Bagaimana dengan penerusnya?’

Sovieshu memandang Marquis Karl dengan mata menyipit seolah dia bisa membaca pikirannya dengan jelas. Kemudian Sovieshu berkata dengan putrinya di pelukannya,

"Bayi ini memiliki darahku, jadi tidak masalah entah dia perempuan atau laki-laki."

"Apa?"

"Aku akan membesarkan bayi ini sebagai penerusku, Marquis Karl."

Marquis Karl tertegun sejenak.

Terkejut, dia terlambat berseru,

“Yang Mulia! Kekaisaran Timur tidak pernah memiliki permaisuri yang memerintah! Hanya seorang pangeran yang lahir dari Permaisuri yang bisa menjadi penerusnya!”

Marquis Karl sangat keheranan sehingga dia tidak bisa tutup mulut.

Meskipun ada kalanya Permaisuri dan Ibu Permaisuri yang sebenarnya memerintah, mereka hanya melakukannya melalui Kaisar.

'Tapi Sovieshu akan menjadikan sang putri sebagai penerusnya!'

"Itu tidak pernah terjadi dalam sejarah dan juga tidak diatur dalam hukum, Yang Mulia!"

“Ketika gadis ini menjadi permaisuri pertama yang memerintah, sebuah preseden akan dibuat dalam sejarah. Undang-undang juga tidak menetapkan bahwa hanya seorang pangeran yang dapat menjadi penerus. Itu hanya kebiasaan, kan?”

Setelah berbicara dengan tegas, Sovieshu menggendong dan menatap putrinya dengan lembut,

“Sang putri akan diberi nama Glorym. Semoga semua kemegahan dunia menyinari bayi ini.”

Marquis Karl duduk di sofa dengan kaki yang lemah dan goyah.

“Tapi banyak yang akan keberatan…”

“Tentu saja Aku tidak akan mengumumkannya sampai waktunya tepat. Kita harus bersiap secara perlahan.”

Sovieshu berbicara dengan tegas, dan menatap mata putrinya.

Puluhan hal telah berkecamuk di benaknya.

'Putriku akan jadi cerdas, dan dia akan jadi lebih pintar lagi dengan guru-guru terbaik. Dia perlu memperoleh keterampilan praktis dan belajar tentang urusan politik sejak usia muda.’

Tanpa permaisuri, gadis ini harus mendominasi masyarakat kelas atas, jadi akan lebih mudah untuk membangun koneksi sejak dini.

'Penyihir ... ya, prioritasnya adalah menyelesaikan fenomena penurunan penyihir.'

Kekuatan Kaisar Kekaisaran Timur berasal dari para penyihir. Agar dengan mudah menekan oposisi dari para bangsawan lama, dia harus mengatur ulang kekuatan para penyihir dan mengambil kendali mutlak.

'Pasukan ini juga harus dikomando dengan benar ...'

"Ada banyak yang harus dilakukan, sayangku."

Bayi itu membuat suara aneh, merentangkan tangan kecilnya di udara.

“Tumbuhlah dengan sehat dan cerdas.”

Sovieshu berbisik, meletakkan jari-jarinya di antara tangan kecilnya. Seolah dia bisa mengerti, bayi itu memegang jari Sovieshu dengan erat.

Tidak dapat menenangkan hatinya yang terkejut, Marquis Karl menatapnya dengan linglung sebelum menghela napas dalam-dalam.

Yah. Zaman berubah dan setiap cerita memiliki titik awal. Jika bayi itu akan menjadi wanita yang cerdas seperti Permaisuri Navier, maka itu sangat mungkin terjadi.

“Yang Mulia. Apakah Anda bermaksud memberi tahu Rashta bahwa Anda berencana menjadikan sang putri sebagai penerus Anda?

Sovieshu mengerutkan kening dan berkata dengan bertekad,

"Tentu saja tidak."

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 302          

>>>             

Chapter 304

===

Daftar Chapters 


Remarried Empress (#302) / The Second Marriage




Chapter 302: Penerus (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Mimpi itu terasa sangat nyata.

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana Queen berlari seperti seekor penguin, dan bagaimana elang raksasa itu berpegangan pada singgasana.

Nian pergi setelah memberitahuku kalau aku terlihat lelah, dan dayang-dayangku pergi setelah menyuruhku pergi ke tempat tidur untuk beristirahat.

Begitu aku berbaring di tempat tidur, aku jatuh tertidur lagi.

Tapi kali ini aku tidak bermimpi tentang elang raksana atau Queen. Sebenarnya aku tidak bermimpi sama sekali.

Ketika aku akhirnya bangun, sudah waktunya makan malam.

Yang menakjubkan adalah kisah yang Heinley ceritakan kepadaku malam itu saat kami makan malam bersama.

“Aku tertidur saat tengah bekerja di siang hari, dan aku bermimpi buruk yang sangat aneh.”

“Mimpi buruk apa?”

“Yah… aku punya koleksi permata.”

Kalau itu aku sudah tahu.

Kentara kalau Heinley sangat menyukai permata karena dia selalu menganggap kalau negaranya adalah ibu kota permata. Berbagai permata langka dipajang di kamarnya dan di ruang pertemuan.

"Ketika aku pergi ke kamarku untuk memoles permata, aku menemukan telur yang tidak kukenal di antaranya."

"Sebuah telur?"

"Ya. Warnanya emas bercampur hijau, bahkan lebih cantik dari permata. Telur itu sangat cantik sehingga aku memolesnya dan menghangatkannya dengan tanganku. Tapi entah dari mana, keluarlah seekor bayi burung.”

Seekor bayi burung…

“Bulunya sedikit dan sayap-sayapnya kecil, tapi burung itu indah. Jadi aku memegangnya di dadaku dan membelainya, tetapi bayi burung itu merengek meminta permata ini dan itu untuk dimakan. Yang membuatku takut adalah aku memberikan semua permataku.”

Heinley bergumam dengan wajah pucat seolah-olah memikirkannya saja dia ngeri.

“Aku pikir aku menjadi gila dalam mimpi itu. Bagaimanapun, ketika aku memberinya permata, burung itu tumbuh sangat besar sehingga ia menjadi raksasa dalam sekejap.”

Seekor burung raksasa... Elang raksasa yang kulihat dalam mimpiku muncul di benakku.

Sementara aku mengangguk dengan perasaan déjà vu, Heinley bergidik dan melanjutkan,

“Tiba-tiba tempatnya berubah. Kali ini, burung raksasa itu memeluk singgasanaku dan memintaku juga. Itu membuatku kesal, tapi anehnya aku bahkan tidak bisa menegurnya, jadi aku segera meminta bantuan Ratuku.”

Perasaan déjà vu itu bahkan lebih kuat.

Bukankah sepertinya itu mirip dengan mimpiku?

"Aku berhasil menjauhkan burung raksasa itu dari singgasanaku dengan bantuan Ratuku."

Heinley menggelengkan kepalanya dan bertanya dengan ekspresi serius.

 “Mungkinkah mimpi itu pertanda kalau seseorang menyembunyikan niat tersembunyi terhadapku?”

“Aku tidak tahu, tapi… aku punya mimpi yang sama.”

"Apa? Betulkah?"

Ketika aku memberi tahu Heinley tentang mimpiku, matanya melebar.

Meskipun kedua mimpi itu tidak begitu sama, keduanya tampak sangat mirip.

Ekspresi Heinley segera menjadi sangat kaku, jadi aku sengaja meyakinkannya dengan kata-kata penuh kasih sayang,

“Mimpi yang kita miliki sangat mirip sehingga sepertinya kita telah sepenuhnya menjadi pasangan yang benar-benar dekat.”

Aku takut dia akan menganggap mimpi ini sebagai firasat dan mengkhawatirkan pemberontakan.

Tentu saja, seseorang harus memiliki rencana darurat untuk menghadapi pemberontakan. Namun, seseorang seharusnya baru khawatir ketika beberapa tanda telah terlihat, jatuh ke dalam kekhawatiran itu sekarang hanya akan membuat pikirannya lelah.

“Jadi kamu tidak perlu khawatir, Heinley. Aku tidak berpikir ini adalah mimpi pertanda buruk.”

Heinley meletakkan tangan di pipinya dan berbicara perlahan,

“Tidak, Ratuku. Aku tidak terkejut dengan itu ... "

"Lalu mengapa?"

"Di benua yang jauh ada kepercayaan kalau jika pasangan suami istri memiliki mimpi yang sama itu berarti akan ada bayi."

Apa?

Kata-katanya membuatku tertawa terbahak-bahak.

"Itu tidak masuk akal."

“Tapi muncul bayi elang. Bukankah itu patut diperhitungkan, Ratuku?”

"Tidak juga."

Aku menggelengkan kepalaku.

Mata Heinley berbinar, aku tidak ingin mengecewakannya.

“Aku menstruasi bulan lalu. Apa kamu tidak tahu?”

"Ya, tapi kamu seharusnya belum dapat lagi akhir-akhir ini."

Itu benar, tapi…

“Bahkan jika ada bayi di rahimku, usia kehamilanku dua atau tiga minggu. Kamu masih belum bisa memastikan apakah aku hamil.”

Banyak kejadian, perjamuan diadakan dengan tergesa-gesa karena yakin kalau sang istri hamil, tetapi kenyataannya tidak. Aku tidak ingin mengalami hal yang sama.

Namun, Heinley tetap positif.

“Kalau begitu bisa saja. Bisa jadi kamu sedang hamil, Ratuku.”

Aku menggelengkan kepalaku lagi.

Semakin besar harapan yang dimiliki, semakin menyakitkan kekecewaannya.

Kalaupun benar aku hamil, aku lebih suka menunggu sebentar untuk memastikan.

"Ratuku, bagaimana kalau dokter istana memeriksamu?"

Tetapi untuk beberapa alasan, Heinley bersikeras.

Heinley biasanya menuruti keinginanku hampir setiap saat, kecuali saat di tempat tidur pada malam hari.

Ketika aku mengerutkan kening, Heinley meminta maaf dengan sangat menyesal,

“Maafkan aku, Ratuku. Tapi kamu bekerja sepanjang hari, terkadang sampai subuh keesokan harinya. Jika ada kemungkinan kamu hamil, aku pikir yang terbaik adalah mengetahuinya terlebih dahulu sehingga kamu dapat mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan.”

"Itu karena ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan."

"Ratuku, kamu harus beristirahat cukup bahkan jika kamu tidak hamil."

Ketika aku berada di Kekaisaran Timur, dokter istana juga menyuruhku untuk beristirahat.

Apakah akan berbeda dengan dokter istana Kekaisaran Barat? Tidak. Kali ini akan sama.

Yang akan berbeda adalah bahwa Heinley akan mengambil semua pekerjaan dariku jika dokter istana mengatakan sesuatu seperti itu.

Meskipun itu belum terjadi sejauh ini, itu sangat mungkin mengingat betapa perhatiannya Heinley kepadaku.

“Ratuku.”

Heinley mengulurkan tangannya, memanggilku dengan suara lembut,

“Navier. Ya?"

Begitu aku hendak menolak dengan tegas, dia segera menjadi Queen, dan aku teringat bayi elang yang menggosokkan pipinya ke telapak tanganku seolah-olah dia lemah.

“…. Baiklah."

Aku tidak begitu antusias dengan itu, tetapi dengan enggan mengiyakan.

“Tapi jangan terlalu berharap, Heinley.”

Keesokan harinya, begitu aku telah berganti pakaian sesudah sarapan, Heinley memanggil dokter istana.

Untungnya, Heinley tidak memberi tahu dokter istana untuk 'memeriksa untuk melihat apakah aku hamil.'

Dia khawatir aku tidak nyaman, jadi dia memberi tahu dokter itu untuk pemeriksaan umum.

Saat dokter istana memeriksaku, Heinley menatapku dengan cemas.

Aku sedikit gugup, jadi aku mencoba memikirkan hal lain.

Tentang Whitemond, tentang delegasi yang seharusnya tiba di benua Hwa, dan seterusnya.

Akhirnya, tangan dokter istana turun ke perutku.

Tanpa sadar, aku menatap bibir dokter itu.

Pada saat itu, dokter istana perlahan membuka mulutnya.

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 301          

>>>             

Chapter 303

===

Daftar Chapters 


Sunday, January 23, 2022

Remarried Empress (#301) / The Second Marriage




Chapter 301: Kekecewaan Rashta (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

“Apa Rashta melahirkan? Secepat ini?”

Berita itu tidak datang pada waktu yang tepat.

Kami berkumpul sebagai sebuah keluarga untuk merayakan kembalinya kakakku setelah menyelesaikan masalah dengan seribu bandit abadi.

Itu adalah waktu yang sangat tidak tepat.

Wajah keluargaku berkerut dengan cara yang berbeda saat berita itu tersiar.

Sang sekretaris, yang membawa berita kelahiran bayi Rashta, pertama-tama menggumamkan kalau itu adalah 'berita sensitif'.

Faktanya, sekretaris memberi isyarat kepada Heinley kalau dia lebih suka memberitahunya secara pribadi, karena itu adalah berita dari Kekaisaran Timur.

Tetapi Heinley memerintahkan sang sekretaris untuk mengatakannya di hadapan semua orang, mungkin ingin menunjukkan citra yang bermartabat di depan orang tuaku, kakakku, dan aku.

Pada akhirnya, perayaan kepulangan kakakku jadi berantakan.

Meninggalkan orang tua dan kakakku, Heinley bertanya kepada sekretarisnya dengan suara berat.

“Jika dia melahirkan sekarang, itu bayi prematur, kan?”

"Ya. Dia seorang perempuan, seorang putri.”

Kali ini sekretaris menatapku ketika dia menjawab.

Aku tetap tanpa ekspresi dan hanya berjalan santai.

“Hmm… Yang Mulia. Selain itu .. Kaisar mengirimkan undangan.”

“Undangan apa?”

"Undangan ke perjamuan untuk merayakan kelahiran keturunan pertama keluarga kekaisaran."

"Dia mengundang kami berdua?"

"Yah. Di bagian bawah undangan ada kalimat yang mengatakan, 'Tidak perlu hadir.'”

Sudut mulutku secara refleks melengkung.

Tidak biasanya menambahkan kalimat itu ke dalam sebuah undangan.

Yang dimaksud Sovieshu dengan kata lain adalah— 'Aku mengirim undangan karena formalitas, tetapi jangan hadir'.

Aku bisa memahaminya. Jika aku muncul di sebelah Heinley pada hari perayaan kelahiran anaknya, Sovieshu akan merasa tidak nyaman.

“Bayinya lahir prematur. Sungguh ironi kehidupan.”

Setelah sang sekretaris pergi, Heinley mendengus dengan suara dingin.

"Bukan begitu, Ratuku?"

"Apa maksudmu?"

“Bukankah dia tanpa pandang bulu menyerang Lady Nian tentang bayi prematurnya? Tapi sekarang bayinya juga lahir prematur.”

"Itu benar.”

Aku dengar kalau Sovieshu melakukan semua pekerjaan sendiri, jadi menurutku dia melahirkan prematur bukan karena dia kewalahan.

“Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi.”

Empat jam kemudian, aku tahu dari Nian apa yang telah terjadi.

“Saya dengar wanita itu menyumbangkan sejumlah besar uang di pernikahannya. Rupanya, muncul kecurigaan kalau uang ini mungkin dari Yang Mulia.”

Secara mengejutkan, tampaknya insiden surat perjanjian hutang yang aku ungkap untuk melindungi orang tua aku adalah hal yang sangat mengejutkan Rashta sehingga dia melahirkan prematur.

Yah, kurasa bukan itu satu-satunya alasan dia melahirkan prematur.

“Ini menyenangkan. Tidakkah menurut Anda begitu, Yang Mulia?”

"Ya…"

Nian, yang tidak tahu kalau akulah yang mengungkap tentang surat perjanjian hutang itu, tersenyum puas atas apa yang telah terjadi.

Tapi aku merasa aneh.

Bahkan jika tidak sengaja, bukankah ini pertama kalinya aku menyakiti Rashta?

Aku ingin tahu bagaimana reaksi Sovieshu jika dia tahu aku orangnya.

Meskipun aku tahu bagaimana dia akan bereaksi jika aku adalah permaisuri dan Rashta selir, sekarang aku tidak terlalu yakin.

"Apakah bayinya sehat?"

“Dia bayi perempuan yang sehat meskipun lahir prematur. Dia hanya sedikit kecil.”

“Sovieshu pasti sangat senang mendapatkan apa yang paling dia inginkan.”

Mau tak mau aku tersenyum saat membayangkan Sovieshu. Bukan karena senang, tapi karena jijik, tidak berdaya.

Bagi Sovieshu, bayi itu melambangkan keluarga bahagia yang ingin dia lindungi, bahkan jika itu berarti menyingkirkanku.

Dan bagiku, bayi itulah yang membuat kami benar-benar terpisah dan hampir menyeretku jatuh.

Aku tahu itu bukan kesalahan bayi yang baru lahir, tetapi aku tidak bisa merasa bahagia.

Sejujurnya… sekarang aku tidak terlalu peduli apa yang terjadi pada mereka. Aku lebih mengantuk daripada terkejut dengan berita itu.

Aku pikir aku bahkan tertidur di sandaran tangan sofa karena ketika aku membuka mata lagi, aku tidak bisa melihat Nian atau dayang-dayangku.

“Lady Nian? Countess Jubel? Nona Rose? Nona Laura?”

Bingung, aku memanggil mereka satu per satu dan menyadari kalau aku telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk tidur.

Kurasa mereka semua pergi tanpa membangunkanku ketika mereka melihatku tertidur lelap.

Aku pikir aku sudah terlalu banyak bersantai sejak aku di sini.

Sebagai Permaisuri, aku tidak seharusnya seperti ini.

Saat aku mencela diri sendiri, aku melihat ujung bulu emas melalui pintu yang setengah terbuka.

"Queen?"

Aku memanggilnya sembari berdiri.

Mengapa Heinley diam di sana?

"Queen."

Pada saat aku membuka pintu, Queen sudah pergi.

"Queen?"

Ketika aku mendongak bingung, aku melihat pantat montok melarikan diri dengan cepat, bergoyang-goyang dari sisi ke sisi.

Apakah dia ingin bermain petak umpet?

Dia terlihat sangat manis berlarian seperti penguin, jadi aku sengaja mengikutinya dengan langkah lambat.

Tapi anehnya, dia melewati koridor berubah menjadi burung.

"Queen?"

Kenapa dia berjalan di sekitar istana seperti itu?

Saat aku mempercepat langkahku karena terkejut, Queen mengepakkan sayapnya dan juga mempercepat langkahnya.

Meskipun akan sulit untuk menangkapnya karena seberapa cepat dia menggerakkan kakinya, aku harus melakukannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa aku harus menangkap Queen dengan erat.

Aku mengangkat rokku sedikit dan berlari ke arahnya.

Aku berlari melewati koridor panjang dan menuruni tangga spiral.

Queen mendekati singgasana di aula dan akhirnya berhenti.

"Kenapa kamu datang kesini?"

Lega karena akhirnya menangkapnya, aku mengangkat Queen.

Queen kemudian mengarahkan salah satu sayapnya ke singgasana, mengerang cemas.

Ada apa dengan singgasana itu?

Begitu aku melihat ke arah yang ditunjuk Queen, aku terkejut dan mundur selangkah.

Seekor elang besar berpegang erat pada singgasana dengan sayapnya. Tatapannya galak seolah-olah itu miliknya.

Apa artinya ini? Apakah elang itu menginginkan singgasana Heinley?

Ketika aku menyambarnya dengan marah dan memukul pantat elang raksasa itu, dia dengan enggan meninggalkan singgasana itu, menatapku, dan tiba-tiba mulai menyusut.

Dalam sekejap, elang raksasa itu menyusut seukuran Queen, lalu menjadi lebih kecil dari Queen, dan akhirnya jauh lebih kecil.

Bulu keemasannya yang indah berubah menjadi bulu putih selembut kulit bayi.

Ketika aku memeluk elang raksasa itu karena betapa indahnya dia, dia berkicau dan mulai bersikap seolah-olah jinak, menggosokkan wajahnya ke telapak tanganku.

Elang itu sama liciknya dengan Heinley... tepat saat aku memikirkan ini.

“Yang Mulia?”

Mendengar suara Nian, aku tiba-tiba terbangun.

"Apa Anda baik baik saja?"

"Di mana bayi monster itu?"

"Hah?"

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 300          

>>>             

Chapter 302

===

Daftar Chapters