Saturday, December 4, 2021

[Spoiler] Trash of the Count’s Family (#762)

 



Chapter 762: Karma (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Getaran yang mengguncang kuil tiba-tiba berhenti.

Cahaya merah tidak lagi ditembakkan dari patung dinding.

Choi Han mengendurkan cengkeraman pedangnya. Pedangnya mengarah ke lantai.

Tuk. Tuk.

Cale mengambil buku harian merah itu.

Untuk sesaat, keheningan menyelimuti.

Saat itu, Choi Han segera memeriksa kondisi Cale.

'... Dia terluka.'

Dia jelas-jelas melihat belati itu menusuk dalam ke dada Cale.

Ada lubang besar di sisi kiri bajunya, dan tubuhnya berlumuran darah, tapi dia baik-baik saja.

'... Tato itu.'

Ketika Cale mendapatkan kekuatan kuno itu, tato itu terukir di tubuhnya. Ada sebuah pola di atas dada tempat jantungnya berada, tapi sekarang, bekas luka jelek bercampur dengan tato itu, menciptakan tampilan yang mengerikan.

Tapi Cale sekarang tersenyum.

Dia sedang melihat patung dewa keputusasaan yang seharusnya tersegel.

Menggelinding.

Sesuatu yang bulat bergulir dan menabrak kaki Choi Han. Ketika dia menundukkan kepalanya, dia melihat sebuah bola.

'...Perangkat penyimpanan video otomatis?'

Sebelumnya ada perangkat penyimpanan video yang rusak, tetapi mengapa perangkat ini ada di sini?

Choi Han mempertanyakannya, dan kemudian teringat seseorang dan menoleh.

Cale dan dewa tersegel. Dan White Star yang telah mati dan menghilang.

Clopeh Sekka diam-diam bergerak diam-diam pada saat kedua hal di atas terjadi.

Kuil itu bergetar hebat dan pertempuran menghancurkan tempat itu.

Clopeh sedang sibuk melakukan sesuatu saat itu.

Choi Han menyipitkan alisnya ketika dia menyadari apa yang dilakukannya.

'...Apakah dia memasang perangkat penyimpanan video otomatis?'

B*jingan gila itu.

Choi Han merasa marah untuk sesaat. Karena mata hijau Clopeh berkilau seperti embun pagi di dedaunan hijau yang basah oleh sinar matahari.

Dia berpikir pada saat yang sama.

'A-anak-anak seharusnya tidak melihatnya.'

Jika Raon, On, dan Hong melihat itu, anak-anak akan sangat menderita terlepas dari masalah serius yang akan ditimbulkannya.

Dia juga punya pemikiran lain.

‘Aku harus menunjukkannya pada Eruhaben-nim dan putra mahkota.’

Choi Han tidak dapat berpikir ketika dia melihat pemandangan yang mengejutkan itu, tetapi ketika dia menyadari kalau belatilah yang menusuk jantung Cale, dia menyadari kalau Cale belum memberi tahu mereka segalanya.

Cale pernah menyebutkan alat untuk membunuh White Star adalah belati dari Pohon Dunia itu, tetapi Choi Han tidak pernah membayangkannya akan menjadi seperti itu.

Tentu saja, berkat metode itu, mereka dapat menghapus White Star dari dunia lebih mudah daripada yang mereka kira.

'...Tapi ini dan itu berbeda.'

Choi Han bersumpah untuk tidak percaya pada apa yang akan dikatakan Cale. Khususnya, dia ingin dengan jelas mengetahui jika Cale ingin menyembunyikan sesuatu yang tidak nyaman diberitahukannya. Dia harus menemukannya tanpa sepengetahuan Cale.

Pada saat itu matanya bertatapan dengan Mary.

Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Mary, tetapi tatapannya tidak bisa dianggap enteng.

Itu berarti bahwa anak yang lembut itu telah menerima kejutan besar sehingga dia memiliki tatapan seperti itu di matanya.

Keduanya saling memandang dan mengangguk sebelum menoleh.

Tak.

Suara langkah kaki Cale bergema di seluruh kuil, memecah kesunyian.

Dia kemudian menuju patung berukir di dinding sambil memegang topeng setengah putih dan buku harian.

Tepatnya, dia berjalan ke altar yang dibangun di depan dinding.

"Ini adalah?"

Cale berhenti berjalan dan melihat ke bawah pada kunci yang diletakkan di altar.

Itu adalah cara sebenarnya untuk keluar dari kuil ini, dan cara untuk menghilangkan kuil pada saat yang sama.

Informasi ini diperolehnya dari seseorang dari dunia lain. Orang yang telah menyelesaikan tes ilusi akan pergi ke ujung kuil, mengambil kunci putih, kembali, membuka pintu kuil, dan keluar dari pintu masuk dan keluar dari kuil.

‘Aku tidak akan melakukannya.’

Cale tidak berniat menggunakan metode itu.

Dia tidak ragu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.

"Bagaimana?"

Dia bertanya, menatap mata seseorang yang elok yang terukir di dinding.

"Bagaimana aku bisa membunuhmu?"

Meneringai.

Saat ketika sudut bibir Cale naik.

“Cale-nim!”

Choi Han buru-buru memanggilnya, dan Rosalyn berteriak sambil memegang lengan Mary.

"Merunduk!"

Ruuuuum-

Raungan bergema di kuil, dan seluruh kuil mulai bergetar lagi.

Namun intensitasnya berbeda dari sebelumnya.

Lantai marmer kuil bergoyang seperti ombak.

Seolah-olah dengan jelas mengekspresikan perasaan marah dari dewa itu.

“Ugh!”

Tubuh Cale miring.

'Bagaimana aku bisa menjaga keseimbanganku kalau lantainya bergetar seperti ini!'

Cale terhuyung-huyung akibat intensitas getaran sebelumnya.

'Apakah dewa ini tidak dapat melakukan hal lain selain membuat kuil bergetar!'

Mungkin dewa itu tidak bisa berbuat apa-apa selain itu.

'Dewa itu disegel dan kali ini dia telah menggunakan banyak kekuatan dari keputusasaan yang dia kumpulkan dari dunia.'

Dewa itu pasti telah berusaha mati-matian ketika dia mencoba melakukan sesuatu dengan White Star dan Cale. (Saat SG memakai topeng putih dan berpura-pura menjadi Cale dalam ujian merah)

'Aku mengerti jika dia marah karena ternyata itu sia-sia.'

Tangan Cale meraba-raba di udara.

'B*rengsek!'

Tubuh Cale yang tidak seimbang terdorong ke belakang.

Choi Han terkejut dan berlari ke arahnya. Tapi Choi Han berhenti berjalan.

“Uh.”

"Apakah Anda baik-baik saja?"

Cale bisa melihat Clopeh Sekka menopangnya dengan senyum cerah. Clopeh menopang punggung Cale dengan bahunya.

Cale hampir mendorong Clopeh menjauh karena senyumnya yang sangat cerah. Dan karena dia melihat perangkat penyimpanan video otomatis yang rusak.

‘Tapi itu rusak- Hah?’

Mata Cale melihat dua perangkat penyimpanan video otomatis di pelukan Clopeh.

'... B*jingan ini?'

Ketika mata Cale menyala, Clopeh mengangguk dengan senyum serius.

"Saya merekam semuanya."

Cale ingin menampar mulut itu.

Tapi dia tidak punya waktu untuk itu.

“Ugh!”

Lantai kuil bergoyang lebih kuat, dan sekarang melonjak tidak teratur.

Tak!

Dengan suara langkah kaki yang ringan, Choi Han menendang lantai dan melompat ke arah dinding kuil.

'Itu.'

Pada saat itu, pemandangan yang aneh tertangkap mata Cale.

'…Tangan-'

Patung yang diduga sebagai dewa tersegel yang diukir di dinding.

Di bawah patung itu, tangan yang tak terhitung jumlahnya yang terukir seolah-olah menopang patung itu sekarang menggeliat.

Menggeliat, menggeliat-

Kemudian, tangan-tangan itu tiba-tiba keluar dari dinding dan menuju ke Cale dan teman-temannya.

Pergelangan-pergelangan tangan menonjol keluar dari dinding, dan memanjang.

‘Ah, itu agak menyeramkan.’

Pemandangan di mana begitu banyak tangan terulur itu agak menakutkan. Tapi Cale tersentak tanpa sadar.

"Ah. Ini pasti adegan lain dari sang legenda.”

Cale mendengar suara Clopeh, dan mendorongnya menjauh lantas berdiri tegak dan berteriak.

“Choi Han!”

Baaang-!

Pada saat yang sama, aura hitam melayang turun ke tangan-tangan itu.

Beberapa tangan patah, tetapi tangan-tangan yang tersisa menyerang mereka.

Menuju Cale.

Semua orang menyadari bahwa target tangan-tangan itu adalah Cale.

“Hadang itu.”

Dengan suara seperti GPS, Cale bisa melihat sebuah jubah hitam menghalangi jalannya.

Garis-garis hitam keluar dari tangan Mart dan mulai mengikat tangan-tangan itu. Dan rambut merah Rosalyn berkibar saat dia mengangkat tangannya yang dipenuhi dengan mana merah.

“Choi Han, Nona Rosalyn!”

Cale kemudian berseru.

"Kiri!"

Mary menoleh untuk melihat Cale. Wajah Cale lebih santai dari yang dia kira. Suara Cale terdengar oleh Mary yang tidak lagi tegang.

Suaranya jelas.

"Buat lubang di sebelah kiri!"

Cale awalnya bermaksud menggunakan Embrace pada dewa tersegel itu untuk menyegelnya kembali sehingga dia tidak dapat mengganggunya.

Namun pemikiran itu akhirnya berubah.

Karena dewa tersegel ingin Cale menggunakan kemampuan Embrace pada dirinya.

Dewa tersegel ingin Cale menggunakan kemampuannya untuk melarikan diri dari kuil dan menawarinya informasi sebagai syarat kesepakatan. Mengingat itu, Cale menyadari bahwa menggunakan Embrace bukanlah jawaban yang benar.

Jadi apa yang harus dia lakukan?

‘Jika aku tidak bisa melakukannya sendiri.’

Jika dia tidak tahu jawabannya.

'Mari kita pikirkan sama-sama.'

Cale cukup akomodatif.

Terlebih lagi, tak banyak yang bisa dilakukan dewa tersegel itu sekarang.

Mengapa?

‘Karena dia bahkan tidak bisa melarikan diri.’

Agar kuil ini menghilang, seseorang harus membuka pintu masuk dengan kunci putih.

Dan begitu juga sebaliknya.

'Kecuali kamu membuka pintu masuk dengan kunci ini, kuil ini akan tetap di sini.'

Apa artinya.

'Begitu kita melarikan diri, kita akan menemukan cara untuk berurusan dengan dewa tersegel.'

Tentu saja, ada juga pilihan untuk berteriak 'Aku menyerah.' Kemudian mereka harus mengikuti tes lagi.

Tapi bukan itu.

'Jika aku bertanya kepada Eruhaben-nim atau Dewa Kematian melalui Nona Cage, aku pasti akan mendapatkan jawabannya.'

Khususnya, jika dia mengancam Dewa Kematian atau memintanya agar memberitahunya, dia akan mencoba menceritakan semuanya karena dia adalah dewa yang yang membenci dewa tersegel.

Dan bahkan jika itu tidak terjadi.

‘Aku sudah selesai berurusan dengan White Star.’

Tidak perlu baginya untuk menderita sendirian setelah dia membuat keputusan untuk tidak membiarkan orang lain melihat pemandangan itu.

Mereka bisa menyelesaikannya bersama sekarang.

Karena dia memiliki banyak sekutu yang kuat di luar.

Pada saat itu, Rosalyn berseru.

"Tuan Muda! Bukankah kamu mengatakan bahwa kuil itu tidak bisa diserang atau bahkan tergores?”

Ketika mereka pertama kali mendengar tentang kuil ini dari Ahn Roh Man, dia mengatakan kepada mereka bahwa tidak ada kekuatan lain yang dapat menggores kuil ini.

Yang berarti serangan itu tidak mempan pada kuil itu sendiri.

"Tidak, Rosalyn!"

Tatapan Rosalyn menuju ke Choi Han.

"Kuil ini mulai hancur!"

"Ah."

Rosalyn menyadari kalau mereka mengamuk tanpa sadar.

Ketika cahaya merah mulai menyerang, Choi Han, Rosalyn, dan Mary menyerang dinding kuil dan bagian interiornya.

Serangan mereka pasti tak lebih dari goresan yang sangat kecil, tapi bagaimanapun, kuilnya mulai hancur.

Suara tenang Cale terdengar di telinga Rosalyn ketika dia menyadari hal itu.

"Dewa tersegel telah kehilangan banyak kekuatan."

Dia telah menggunakan terlalu banyak kekuatan yang dia kumpulkan dalam keadaan tersegel karena Cale.

Kuil adalah penjara di mana dewa tersegel dikurung, tetapi pada saat yang sama itu adalah wilayah mereka.

"Jadi kuil ini juga melemah."

"Itu bagus."

Dengan kata-kata itu, mana merah Rosalyn bergerak ke satu tempat.

“Choi Han!”

Choi Han yang tengah menyerbu mendegar seruan Rosalyn lalu meningkatkan aura hitamnya sepenuhnya.

Woo, Woo-

Dengan suara getaran yang kecil, yong hitam muncul dari aura hitam yang bersinar dan membuka mulutnya.

Mana merah bagaikan api. Seekor naga hitam mengejarnya dengan mulut terbuka lebar.

“Mary. Tahan tangan-tangan itu.”

"Aku mengerti."

Garis-garis hitam yang tak terhitung jumlahnya terbentang dari tangan Mary dan saling jalin-menjalin dengan tangan-tangan yang menyerbu.

Saat Mary mengepalkan tinjunya, garis-garis itu mengencang, menghalangi jalan tangan-tangan itu. Bahu Mary sedikit bergetar.

"…Ah."

Seru Clopeh.

Mary merasakan kekuatan api di belakangnya. Tidak, dia merasakan kekuatan api bersama kilat.

Zzzzzttttt. Zzzztttt.

Cale menggunakan kekuatan kunonya lagi.

Ketika Mary menyadari itu dan menutup matanya dengan erat, Cale menatap kilat yang muncul di tangannya.

'Tidak. Tubuhnya dalam kondisi baik.’

Kapan itu terjadi?

Saat dia berpikir keras, Cale mengangkat tangannya yang memegang petir.

Choi Han dan Rosalyn. Yong hitam dan mana merah bertabrakan dengan dinding di sebelah kiri.

Baaaaaaang!

Cale mengerutkan kening mendengar dentuman keras itu.

Namun dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Rosalyn dan Choi Han sudah bersiap untuk serangan berikutnya.

‘Ini tidak cukup untuk membuat lubang di dinding.’

Jadi Cale akan menambahkan kekuatannya sendiri juga.

Setelah api, dia akan menggunakan kekuatan kuno Super Rock dan air.

Krek.

Ada retakan kecil di dinding.

Seperti yang dia duga, sekali tidaklah cukup.

"Teruskan!"

Saat Rosalyn berteriak, Choi Han mengeluarkan auranya. Cale juga mencoba menambahkan kekuatannya.

Pada saat itulah.

Kraaak.

"Hah?"

Rosalyn tertegun.

Kraaaaaak.

Retakan terus muncul di dinding.

Mereka bahkan tidak melakukan serangan apa pun. Dindingnya semakin retak.

Melihat pemandangan ini, Cale tanpa sadar bergumam.

‘...Apa ini caranya melarikan diri sehingga kuil itu hancur sendiri?’

Dewa tersegel itu telah menggunakan terlalu banyak kekuatan pada targetnya, jadi dia tidak dapat menahan dampak dari benturan kekuatan serangan mereka dan kuil itu sekarang sedang hancur.

Saat Cale memikirkan itu.

Bang! Bang! Bang!

Suara-suara terdengar.

Raut wajah Cale mendadak berubah. Choi Han berteriak.

"Cale-nim, itu dari luar!"

"…Ya."

Kraaaak.

Dinding yang retak dengan cepat, retakannya semakin melebar dalam sekejap.

Boom!

Akibatnya, dinding itu runtuh.

Cale tanpa sadar membuka mulutnya ketika dia menyadari apa yang menjebol dinding yang runtuh itu.

“Ah, halo-”

Orang yang menerobos dinding.

“Ah, lama tak jumpa. Eruhaben-nim?”

Itu adalah kepala seekor naga.

Itu adalah kepala naga yang sebenarnya yang telah mencabut sihir polimorfnya.

Naga emas itu mengalihkan pandangannya dan menatap Cale.

Dan tertawa.

"Bukan apa-apa. Aku hanya memukulnya dengan kepalaku beberapa kali dan dinding itu hancur.”

Aku tidak berpikir kalau itu bukan apa-apa.

Cale nyaris tidak dapat menelan kata-kata yang hampir keluar dari mulutnya.

Kepala Eruhaben bukan sekadar kepala seekor naga.

Kepalanya ditutupi dengan lapisan mana seperti helm.

Raon, Eruhaben, Mila, Rasheel, dan Dodori. Itu adalah helm mana yang benar-benar tak terkalahkan dengan warna mana naga yang berbeda-beda.

'...Itu cukup... Itu bahkan mungkin bisa menghancurkan apa pun selain kuil, kan?'

Pada saat itu Cale memikirkannya.

Gedebuk!

Eruhaben melangkah mundur.

Oleh karena itu, sebuah lubang besar yang cukup bagus sebagai jalan keluar kemudian muncul.

"Manusia!"

Cale mendengar suara Raon dari kejauhan.

Tapi matanya mengarah ke tempat lain.

“I-itu-”

Suara Cale bergetar, begitu juga tangannya.

Eruhaben berbalik dan melihat Raon, On, dan Hong yang mendekat sebelum berbicara dengan tenang kepada Cale di kuil.

"…Kamu."

Cale bengong menatap dirinya dan teman-temannya di bola besar yang melayang lebih tinggi dari kuil, dan pemandangan di dalam kuil diproyeksikan darinya.

Eruhaben yang menatapnya dengan sedih terus berbicara dengan suara gemetar.

"Cale, kamu baik-baik saja?"

"Ya?"

"Anak-anak tidak melihatnya."

“Lalu… siapa saja yang melihatnya?”

Karena naga tua itu telah ber-polimorf, dia merespon dengan tenang tapi sedih dalam wujud manusianya.

"Aku melihatnya. Begitu juga semua orang.”

Cale merasakan kesadarannya meredup.

“Cale-nim!”

Choi Han segera mendekati dan menopang Cale. Kemudian dia berteriak kaget.

“Cale-nim! P-pakaianmu sekarang-”

Cale mengulurkan tangan dan meraba-raba kemejanya. Pakaiannya panas.

Dia memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya.

Sebuah buku dipegang di tangannya.

“Cara Mati dengan Damai.”

Buku Dewa Kematian mengeluarkan panas dan bergetar ringan.

Sama seperti ketika Dewa Kematian memberi tahu Cale bahwa Choi Han sedang melihat ingatan Choi Jung Soo.

Buku itu, sebuah benda suci, mencoba memberi tahu Cale agar segera membukanya.

Dewa Kematian ingin mengajari Cale cara menyingkirkan dewa tersegel itu.

Jadi mereka harus memanfaatkan kesempatan itu.

Saat ketika Cale terhubung ke luar kuil.

Dan sekarang, dia terhubung ke luar karena tandukan kepala naga.

"B*rengsek…"

Cale tanpa sadar bergumam.

"Dasar dewa k*parat. Aku pasti, pasti akan membalasmu.”

Mendengar suaranya yang serak, Mary dan semua orang yang menghalangi dan menghancurkan tangan-tangan itu tertegun dan menatap Cale.

Setelah itu, Cale menutup dan membuka matanya ketika dia melihat wajah rata-rata anak berusia 9 tahun dan sekutunya yang lain mendekat.

Dan dia membuka buku itu.

***

[Baca Spoiler TCF Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Sumber: https://adarterra.wordpress.com/ 


<<<

Chapter 761        

>>>            

Chapter 759

===

Daftar Spoiler 


Sunday, November 21, 2021

Remarried Empress (#273) / The Second Marriage

 



Chapter 273: Hal-Hal yang Mulai Terlihat (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Kali ini pembunuh itu juga mengangguk.

Rashta, yang mempertimbangkan untuk meminta si pembunuh untuk membunuh Viscount Roteschu untuk selama-lamanya, segera berubah pikiran.

Bukankah dia bilang kalau jika dia meninggal, dia sudah menyiapkan segalanya untuk menyebarkan desas-desus tentangku?

“Jadi, bisakah kamu membunuh Rivetti? Putri Viscount Roteschu.”

Pembunuh itu mengiyakan.

Rashta mengambil banyak permata dari sakunya dan menyerahkannya kepada pria ini.

Namun, dia mengubah permintaannya pada saat terakhir.

“Tidak, jangan bunuh dia. Jual dia sebagai budak ke negara lain, apakah itu mungkin?”

Rivetti menganggapnya sebagai budak kotor dan mencemoohnya.

'Sekarang kamu yang akan menjadi budak kotor itu.'

***

Saat makan malam, aku memerhatikan Heinley dengan teliti.

Dua malam yang lalu. Meskipun dia mengatakan dia percaya pada keberadaan hantu dan takut pada mereka, dia memimpin anak buahnya ke tempat di mana hantu dengan mahkota di kepalanya muncul dan aku melihat dia bersikap tenang. Tapi alih-alih menanyainya langsung di tempat itu, aku langsung pergi ke kamarku.

Sekarang aku mengingatnya lagi, jadi aku berpikir untuk menguji Heinley. Kemarin dia tidak berada di istana karena masalah mendesak lainnya.

"Apakah kamu masih takut pada hantu?"

“Sangat, Ratuku. Tapi di sisimu aku merasa aman.”

"Benarkah?"

"Tentu saja. Ratuku, kamu memberiku keberanian.

Sambil tersenyum lembut, Heinley mengulurkan tangannya ke seberang meja. Ketika aku meletakkan tanganku di atas tangannya, dia meraihnya, mencium punggung tanganku dan tersenyum lebih lebar.

Senyumnya menawan dan sikapnya manis. Namun, aku menyipitkan mataku padanya karena dia gemetaran.

Dia terlihat imut berpura-pura lemah, tapi itu juga aneh. Dia tampak seperti anjing pemburu besar yang merintih dan sangat menyedihkan.

Bagaimanapun, satu hal sudah jelas. Heinley adalah pria yang menunjukkan citra yang berbeda sesuai keinginannya.

Jelas kalau perilakunya sedikit berbeda ketika dia bersamaku dibandingkan ketika dia bersama orang lain.

***

Keesokan harinya, Heinley merenung, mencurigai ekspresi Navier kemarin.

Ekspresi Navier, yang biasanya dingin dan terkadang lembut, benar-benar aneh kemarin.

Navier sepertinya ingin mengatakan sesuatu ... tetapi pada akhirnya dia tidak mengatakan sesuatu yang istimewa.

Heinley merasa tidak nyaman, jadi dia mondar-mandir di kantornya dengan tangan terlipat di belakang.

Tapi dia segera mengesampingkan pikiran itu. Karena mata-mata yang ditempatkan di Kekaisaran Timur datang secara langsung.

Mata-mata itu melaporkan 'fenomena penurunan penyihir' yang sedang terjadi di Kekaisaran Timur.

” … ada risiko tinggi dalam mengekstrak mana dari penyihir yang terampil.”

“Ada risiko tinggi, maksudmu itu tidak berhasil? Atau-"

"Ada beberapa kasus di mana saat mencoba mengekstrak mana yang terjadi justru sebaliknya, mananya semakin meningkat."

"... Ini situasi yang sulit."

Heinley mengerutkan kening dan menekan pelipisnya. Satu penyihir terampil biasanya lebih berguna daripada sepuluh penyihir pemula. Akan menjadi kerugian besar bagi Kekaisaran Barat jika mereka justru lebih meningkatkan mana dari penyihir yang memang berbakat.

“Maka yang terbaik adalah mengekstrak mana tepat setelah itu bermanifestasi pada seseorang atau ketika itu belum terbentuk dengan baik.”

Heinley menganggap ini masalah yang benar-benar memusingkan dan mendecakkan lidahnya. Dalam skenario ini, perang yang dia targetkan mungkin harus ditunda sedikit lebih lama.

Saat Heinley merenungkan ini, mata-mata itu melanjutkan.

"Dan ini mungkin tidak begitu penting, tetapi Kaisar Sovieshu memiliki selir baru."

“Seorang selir? Selir lain selain wanita bernama Rashta itu?”

"Ya."

“Apakah selir itu seorang penyihir? Kalau tidak, aku tidak tertarik.”

"Dia saat ini bukanlah seorang penyihir, tapi dia asisten penyihir istana."

"Penyihir istana?"

Penyihir istana menggunakan seseorang yang bukan penyihir sebagai asisten? Heinley menganggap fakta ini aneh, jadi dia menunggu untuk mendengar cerita selanjutnya,

“Yang lebih tidak biasa adalah bahwa ini adalah orang yang kehilangan mana saat bersekolah di akademi sihir. Saya bertanya-tanya apakah itu terkait dengan rencana kita…”

“Bagaimana dia bisa menempatkan selirnya sendiri, yang telah kehilangan mana, sebagai asisten penyihir. Kaisar Sovieshu terlalu serakah.”

Heinley tertawa.

Dia menyebabkan kegemparan ketika dia menceraikan Navier dan menikah lagi belum lama ini, apakah dia sudah punya wanita lain sebagai selir?

Tetapi setelah beberapa saat, Heinley bertanya seolah-olah dia telah menyadari sesuatu,

'"Kamu bilang dia kehilangan mana saat bersekolah di akademi sihir?"

"Betul sekali."

"Namanya adalah…"

"Namanya Evely."

Heinley segera mengenali nama gadis itu. Dia adalah gadis yatim piatu yang dikunjungi Navier di akademi sihir untuk memberinya dorongan semangat. Gadis yang cerdas dan luar biasa.

Apa yang ada dalam pikiran Kaisar Sovieshu dengan membawa gadis itu bersamanya...?

Bagaimanapun, ini sama sekali tidak bagus.

Para penyihir dari Kekaisaran Timur itu brilian dan kompeten. Jika efek samping yang terjadi saat mengekstrak mana dari penyihir dipelajari bersama dengan kasus Evely, dapat ditemukan bahwa fenomena penurunan penyihir telah diperkuat secara artifisial.

“Pertama-tama, kita akan berhenti mengekstrak mana dari para penyihir di ibu kota Kekaisaran Timur. Lebih baik menghindari masalah.”

Meskipun mungkin terlihat konyol, Heinley dengan cepat mengubah perintahnya. Dia tidak ingin merusak segalanya, jadi dia membuat keputusan dengan hati-hati,

“Daripada mengekstrak mana dari para penyihir yang sudah menjadi bagian dari Keluarga Kekaisaran Timur, lebih baik memastikan kalau jumlah penyihir tidak bertambah.”

"Saya mengerti."

Namun, tidak seperti biasanya, mata-mata itu tidak segera pergi setelah selesai dengan laporannya.

Ketika Heinley menatapnya, bertanya-tanya mengapa, mata-mata itu membuka mulutnya dengan hati-hati,

"Yang Mulia, jika Anda tidak keberatan ... bolehkah saya membuat pernyataan pribadi?"

"Teruskan."

Ketika Heinley mengizinkannya, mata-mata itu berkata dengan suara tegas.

“Saya setuju bahwa Yang Mulia Navier adalah permaisuri yang baik yang layak dihormati. Namun, saya khawatir karena Permaisuri Navier, Yang Mulia tidak akan dapat melanjutkan rencana yang telah Anda persiapkan sejak lama.”

Alih-alih marah dengan mata-mata itu, Heinley memilih untuk membela diri dan menghindari komentarnya.

Setelah mata-mata itu pergi, Heinley bertanya kepada McKenna.

"Apakah kamu sependapat, McKenna?"

* * *

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 272              

>>>             

Chapter 274

===

Daftar Chapters 

Remarried Empress (#272) / The Second Marriage

 



Chapter 272: Hal-Hal yang Mulai Terlihat (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Rashta tidak lagi membutuhkan perawatan dokter istana, jadi dia mengunjungi Sovieshu dan bertanya,

Aku sangat terkejut dengan apa yang terjadi, Yang Mulia. Bolehkah aku pergi ke pedesaan yang tenang untuk memulihkan diri dan menjernihkan pikiranku?”

“Ke pedesaan?”

“Ya, dokter istana mengatakan bahwa Rashta harus bersantai demi kesehatan bayinya. Tapi ada banyak masalah di sini .... iya kan?"

Rashta ingin pergi ke Rimwell. Meskipun insiden kursi itu tidak menyenangkan, dia telah mencari cara untuk pergi ke Rimwell selama beberapa waktu, jadi dia menganggap ini kesempatannya.

"Di mana kau berencana tinggal?"

“Moir.”

Moire adalah wilayah pedesaan kecil tepat di sebelah Rimwell.

"Aku pernah kesana sebelumnya. Udara segar dan pemandangan indah masih membekas dalam ingatanku.”

Untungnya, Sovieshu langsung setuju.

"Bawa banyak penjaga bersamamu."

Faktanya, Sovieshu tidak hanya memberinya banyak penjaga dan terutama kereta kuda yang kokoh, tetapi juga buru-buru membeli vila bangsawan di Moire.

Rashta bisa saja tinggal di kediaman keluarga bangsawan, tetapi Sovieshu telah memutuskan bahwa akan lebih baik bagi Rashta untuk menikmati waktunya dengan bebas di kediamannya sendiri daripada stres dengan semua formalitas yang tidak perlu.

Juga, Rashta sangat tertekan selama beberapa hari terakhir, setelah perban dilepas, dan melihat bekas luka di dahinya.

Bekas luka itu membentang dari dahinya ke salah satu ujung alisnya, bekas luka itu sedikit lebih tebal dan lebih panjang dari yang diperkirakan dokter istana.

Setelah memotong poni untuk menyembunyikan bekas luka, dia merasa sedikit lebih baik, tetapi dia masih perlu menenangkan tubuh dan pikirannya.

“Terima kasih, Yang Mulia!”

Rashta dengan tulus berterima kasih dan merasa senang. Belakangan ini Sovieshu bersikap cuek, jadi dia sangat senang karena Sovieshu memerhatikan dirinya seperti sebelumnya.

Namun, sehari setelah kedatangannya di Moire, Rashta menyelinap keluar dari vila, segera setelah meninggalkan seorang pelayan sebagai pengganti dirinya.

Dia pergi ke desa terdekat dengan kereta yang telah dia persiapkan sebelumnya untuk bertemu dengan seorang pria yang dulu mengaguminya.

Pria inilah yang membantu Rashta melarikan diri dari tangan Viscount Roteschu. Jika dia masih tetap setia, maka dia bisa memercayakannya dengan tugas yang ada dalam pikirannya.

Dia sebelumnya telah melakukan penyelidikan yang mengungkap fakta mengejutkan. Pria itu kehilangan mata akibat hukuman berat oleh Viscount Roteschu karena membantunya melarikan diri, tetapi dia tetap tetap membela Rashta dan tidak pernah mengatakan apa-apa tentang itu.

'Jika dia sangat mencintai Rashta, maka aku bisa memercayainya.'

Rashta pergi ke rumahnya, merasa yakin.

"Apa kamu ingat aku?"

“Rashta…”

Pria itu menangis ketika Rashta melepas tudungnya. Bahkan keranjang di tangannya jatuh ke lantai, terisak-isak, tidak bisa mengambilnya.

Setelah memasuki rumah dan menanyakan kabarnya, Rashta menjelaskan situasinya dengan ekspresi sedih.

“Aku nyaris tidak bisa hidup seperti orang biasa, tetapi Viscount Roteschu terus mengancam Rashta.”

"Dasar b*jingan keji!"

"Rivetti tanpa malu-malu berupaya untuk mencuri suami Rashta ..."

Ketika Rashta mulai menangis, tidak dapat berbicara lagi, pria itu mendengus dan meninju meja dengan marah.

Walau pria itu mencintai Rashta, dia juga memiliki kebencian yang mendalam terhadap Viscount Roteschu. Mendengar bahwa Viscount dan keluarganya mengganggu Rashta-nya tersayang, darah di nadinya mulai mendidih.

“Jadi, kamu kabur lagi? Tapi datang ke sini bukanlah pilihan yang baik, Rashta.”

"Pix, aku datang ke sini untuk menemuimu."

"Aku?"

“Kamu satu-satunya yang bisa membantu Rashta. Tolong bantu aku."

"Apa yang bisa aku lakukan? Bagaimana aku bisa membantumu?"

Pria ini akan rela memberikan hidupnya demi Rashta.

Rashta meletakkan tangannya di pipinya yang kurus dan menangis. Penampilannya sangat menyedihkan sehingga pria itu bersumpah untuk melindungi malaikat di hadapannya dengan cara apa pun.

“Ini bukan permintaan yang sulit. Aku tidak akan memintamu melakukan hal seperti itu.”

"Jangan khawatir. Mintalah apa pun yang kamu inginkan dariku.”

Yang dapat dipercaya dan…”

Yang dapat dipercaya dan?”

"Terampil…"

“?”

"Aku ingin menyewa seorang pembunuh."

Pria itu benar-benar terkejut.

Dia adalah orang biasa dan memiliki banyak teman yang buruk. Karena itu, dia tahu banyak tentang sisi gelap dunia. Meskipun dia tidak pernah menggunakan mereka.

Tapi budak yang lembut dan manis ini ingin menyewa seorang pembunuh!

“Rashta, apakah kamu ingin membunuh Viscount Roteschu? Mereka yang cukup andal untuk membunuh bangsawan sangatlah mahal.”

"Rashta akan mengurus itu."

“…”

"Maafkan aku, Pix. Ini mungkin salah, jadi lebih baik jika kamu tidak tahu detailnya. Aku tidak ingin membuatmu kesulitan.”

Pada akhirnya, pria itu mencari pembunuh di berbagai kelompok bayaran yang akan berguna untuk pekerjaan ini sementara Rashta beristirahat di rumah. Tentu saja, dia tidak pernah mengungkapkan nama Rashta dalam prosesnya.

Beberapa jam kemudian, Rashta pergi sendirian ke kelompok pembunuh bayaran yang ditunjukkan Pix. Secara mengejutkan, kelompok pembunuh bayaran itu berlokasi di pinggiran wilayah itu.

Selain itu, markas kelompok bayaran tampak seperti toko yang sunyi dan terpencil, jelas bukan tempat di mana hal-hal mengerikan dilakukan.

"Apa yang membawamu kemari?"

Mendengar pertanyaan yang sangat sopan dari petugas di konter, Rashta menyerahkan sebuah permata besar yang dia bawa.

Petugas itu tersenyum halus dan berkata, “Tolong tunggu sebentar.”

Setelah sekitar sepuluh menit, petugas itu muncul kembali dan membuka pintu di belakangnya.

"Silakan lewat sini."

Saat dia masuk, Rashta bisa melihat koridor yang panjang dan sempit. Ada banyak ruangan di kedua sisi koridor, dan petugas itu menunjuk ke ujung koridor dengan jari.

"Jangan pergi ke kamar mana pun, lurus saja kea rah sana."

Meskipun dia merasa sakit perut karena tegang, Rashta melakukan seperti yang diperintahkan.

Di ujung koridor ada ruang kecil yang benar-benar putih, dengan hanya sebuah meja dan dua kursi yang ditempatkan di tengahnya.

Saat dia mondar-mandir, tidak bisa duduk diam di kursi, seorang pria jangkung, dengan topeng menutupi wajahnya, muncul tak lama dari arah yang sama dengan Rashta.

Matanya begitu dingin dan tajam sehingga orang bisa melihat sekilas bahwa dia tidak melakukan sesuatu yang biasa.

Pria itu menyeret kursi di depan Rashta dengan acuh tak acuh dan duduk, tetapi bahkan setelah duduk, dia hanya menatap Rashta dalam diam.

Rashta, yang tidak bisa menunggu, membuka mulutnya dengan susah payah,

"Kamu akan melakukan apa saja demi uang?"

Pembunuh itu mengangguk tanpa suara. Kemudian, Rashta bertanya dengan ragu-ragu.

"Apakah kamu tahu Pix?"

Ketika pembunuh itu mengangguk lagi, Rashta bertanya lebih hati-hati,

"Jika aku memberimu uang ... apakah kamu akan membunuh Pix juga?"

Jika si pembunuh mengatakan tidak, dia akan mengubah kata-katanya, dengan mengatakan, 'Aku hanya mencoba melihat seberapa jauh kamu mampu melakukannya,' dan jika dia menjawab ya, dia benar-benar akan memintanya untuk membunuh Pix sebagai tes.

Dia ingin memeriksa betapa tidak berperasaan dan terampilnya dia.

Pembunuh itu mengangguk sekali lagi.

“Kalau begitu bunuh dia. Anggap saja itu tes.”

Pembunuh itu bangkit, berkata, "Tunggu di sini sebentar."

Sudah cukup lama berlalu sejak dia berkata 'tunggu sebentar'. Rashta merasa seperti tiga atau empat jam telah berlalu.

Apa yang dia lakukan? Saat Rashta mulai lelah menunggu, si pembunuh muncul kembali memegang sesuatu yang terbungkus kain. Saat dia mendekat, bau darah yang memuakkan semakin kuat.

Rashta menutupi hidungnya dan terlompat. Bau apa ini? Dia merasa mual.

Tidak terpengaruh, si pembunuh dengan santai meletakkan apa yang dia pegang di atas meja. Ketika dia melepaskan cengkeramannya yang kuat, kain itu jatuh perlahan, memperlihatkan sedikit dari apa yang ada di dalamnya.

Melihat rambut yang acak-acakan dan penutup mata, Rashta tidak tahan dan muntah. Terlepas dari keadaan Rashta, si pembunuh akhirnya akhirnya sepenuhnya memperlihatkan kepala yang ada di dalamnya.

Melihat kepala itu di atas meja, Rashta muntah lagi.

Namun, dia segera merasa senang. Pembunuh itu tidak berperasaan dan terampil. Jika dia menggunakan pria ini, menyingkirkan Rivetti bukanlah masalah.

Menyeka mulutnya dengan lengan bajunya, Rashta bertanya,

"Bisakah kamu membunuh bangsawan juga?"

* * *

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 271              

>>>             

Chapter 273

===

Daftar Chapters