Thursday, January 6, 2022

Remarried Empress (#291) / The Second Marriage




Chapter 291: Kalung Evely (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Beberapa hari yang lalu, ketika apa yang terjadi di Whitemond tersebar, hanya orang-orang yang terlibat yang bertemu untuk membuat keputusan.

Namun hari ini, saat rapat resmi digelar, bahkan orang-orang yang tidak terlibat langsung hadir untuk membicarakan hal tersebut.

Tentu saja, semua orang yang tidak terlibat langsung berasal dari Kekaisaran Barat, jadi jika masalah dengan Whitemond tidak diselesaikan dengan baik, mereka juga akan terkena dampaknya.

Mungkin itu sebabnya orang-orang yang hadir sangat antusias dan sangat berbeda pendapat selama pertemuan.

“Bahkan jika insiden ini diselesaikan tanpa banyak masalah, Anda tidak pernah tahu kapan Whitemond akan mengkhianati kita lagi. Kita harus menyerang sebelum kita diserang!”

“Apa perlunya menciptakan konflik? Pertama-tama, mari kita amati bagaimana situasinya berkembang.”

“Apakah Anda bermaksud mengatakan kalau tindakan harus diambil setelah terjadi bencana? Bagaimana dengan orang-orang kita yang akan kehilangan nyawa mereka dalam prosesnya?”

"Jika kita berperang ketika belum ada yang terjadi, kejahatan apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Whitemond yang tidak bersalah?"

“Jika orang-orang dari Kekaisaran Barat atau orang-orang Whitemond harus dikorbankan, tentu saja pilihannya adalah orang-orang Whitemond. Kita dari Kekaisaran Barat!”

“Ini bukan masalah sederhana dengan Whitemond. Ini adalah pertarungan antara negara yang tidak menyetujui proklamasi diri kita sebagai kekaisaran dan negara yang harus membangun dirinya sendiri seperti itu!”

“Sudah waktunya untuk menunjukkan status dan kekuatan kita sebagai Kekaisaran. Whitemond harus dijadikan contoh!”

Mereka berbicara tentang perang dengan mudahnya.

Yah. Bahkan jika orang-orang Whitemond merasa tidak nyaman, mereka seharusnya berkomunikasi dengan Kekaisaran Barat terlebih dahulu. Mengapa mereka tiba-tiba menangkap tim yang lewat?

Aku hampir tidak bisa menahan bibirku agar tidak berkedut, karena aku ingin mengemukakan pendapatku.

Sulit bagiku untuk campur tangan dalam masalah antar negara ketika aku berada di sini kurang dari setahun, jadi aku harus berhati-hati dengan ucapanku.

Orang-orang dari Kekaisaran Barat masih menganggap aku orang asing.

Untungnya, topik pertemuan berubah setelah diskusi panjang, dan setelah itu suasana tegang agak tenang.

Namun saat pertemuan akan segera berakhir.

Seorang bangsawan mengangkat tangannya untuk meminta berbicara. McKenna, yang bertanggung jawab atas pertemuan itu, memberinya izin untuk melakukannya.

Bangsawan itu ragu-ragu dan mengambil beberapa langkah ke depan.

Mengapa dia begitu gemetar? Apakah ini pertama kali baginya? Mungkin dia pejabat baru.

Aku melihat sejenak pada pria yang nama dan wajahnya tidak kuingat, lalu menurunkan pandanganku saat aku memikirkan hal lain.

Namun, aku melihat kembali ke pejabat yang gemetaran setelah mendengar kata-katanya yang tidak terduga,

"Ada desas-desus kalau Kaisar Kekaisaran Timur menceraikan Yang Mulia Navier karena dia tidak subur."

Spontan, aku mengerutkan kening. Saat aku menatapnya dengan mata menyipit, pejabat itu semakin gemetaran.

Mengapa dia begitu gemetar?

“Tentu saja, saya tidak percaya pada rumor yang tidak masuk akal seperti itu.”

Jika dia tidak percaya, dia tidak akan membahasnya di sini.

"Tapi itu adalah rumor yang sangat menakutkan dan penting, jadi saya merasa saya harus bertanya kepada Permaisuri apakah itu benar."

Bangsawan itu, menggenggam tangannya, menatapku dan bertanya seolah-olah dia akan menangis,

"Yang Mulia Permaisuri, apakah rumor itu benar?"

Walaupun bangsawan ini yang bertanya padaku, mungkin orang lainlah yang membujuknya untuk mengajukan pertanyaan seperti itu.

Secara alami, tatapanku jatuh pada Marquis Ketron. Sepupu Christa.

Marquis Ketron menatapku dengan sudut bibir terangkat.

Saat mata kami bertemu, senyumnya melebar.

"Tentu saja tidak."

Mendengar jawaban tegasku, senyumnya menjadi lebih aneh.

Sebaliknya, Heinley memiliki ekspresi yang dingin.

Setelah pertemuan selesai, aku sengaja mendekati Marquis Ketron.

Para bangsawan yang sedang berbicara dengannya menyapaku dengan tergesa-gesa dan langsung pergi.

Marquis Ketron menyapaku dengan tenang dan berani.

Kurasa Marquis tidak berniat menyembunyikan fakta kalau dia telah meminta pejabat rendahan untuk mengemukakan rumor ketidaksuburanku. Wajahnya seolah berkata, 'Aku berhasil.'

Apakah dia tahu dia memiliki senyum yang benar-benar jahat dan berakal busuk?

Alih-alih menerima salamnya, aku berkata datar dengan suara rendah,

"Bahkan jika aku tidak subur, permaisuri berikutnya tidak akan berasal dari keluargamu."

"Apa maksud Anda…?"

"Tidak peduli seberapa pun kamu berpegang teguh pada harapan palsu, itu tidaklah berguna."

Marquis Ketron mengerutkan kening. Sepertinya dia tidak mengharapkan aku untuk berbicara begitu blak-blakan.

Dia juga membuka mulutnya. Dari ekspresinya, terlihat jelas kalau dia ingin mengatakan sesuatu yang akan membuatku marah. Baiklah, aku siap.

Tapi sebelum Marquis Ketron bisa berbicara, tombak panjang melewatiku dari belakang.

Marquis Ketron dengan cepat mengulurkan tangannya dan menangkap tombak itu, menghentikannya tepat sebelum mengenai dahinya.

Kesatria Pengawal Istana yang berdiri di belakang Heinley-lah yang melemparkan tombak itu.

Kesatria itu terkejut dan bergegas meminta maaf kepada Heinley,

"Maafkan saya."

“Tidak perlu khawatir. Membuat kesalahan itu mungkin saja."

Dia mungkin telah membuat kesalahan, tetapi dalam kasus ini, bukankah seharusnya dia meminta maaf kepada Marquis Ketron, yang hendak terkena tombak?

Mungkin berpikiran sama, Marquis Ketron menunjukkan ekspresi jijik.

"Kamu benar-benar suka membalas dendam seperti anak kecil."

Akhirnya marah, dia melontarkan beberapa kata yang aku tidak tahu ditujukan kepada siapa, dengan sopan berpamitan dan meninggalkan ruang rapat terlebih dahulu.

***

Saat aku mandi, aku ingat apa yang dikatakan Marquis Ketron melalui pejabat lain.

Mengesampingkan apa yang ingin dia capai dengan kata-katanya. Apakah rumor seperti itu benar-benar beredar? Mengapa aku belum pernah mendengarnya sebelumnya?

Jika rumor seperti itu beredar, Nian atau dayang-dayangku akan memberitahuku.

Jadi, apakah Marquis Ketron yang mengarangnya? Mengapa Marquis membuat rumor seperti itu? Apakah dia benar-benar mengada-ada atau apakah seseorang memberitahunya tentang hal itu?

Apakah itu Rashta atau bangsawan dari Kekaisaran Timur? Menurutku itu bukan Sovieshu.

Marquis tidak akan mengarang rumor yang bukan-bukan. Terutama, karena risiko melakukannya terlalu besar.

Untuk alasan itu, ia juga membuat dua langkah keamanan, 'bicaralah melalui orang lain' dan 'bicaralah seolah-olah kamu tidak percaya rumor itu'.

Aku pikir aku menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir. Sebelum aku menyadarinya, air hangatku sudah menjadi dingin.

Setelah keluar dari bak mandi, aku mengeringkan tubuh dengan handuk, mengenakan jubah, dan meninggalkan kamar mandi.

Aku berdiri di depan cermin untuk mengeringkan rambutku dengan handuk juga. Sementara itu, aku bisa melihat Heinley duduk di kursi berlengan melalui cermin.

Dia memiliki ekspresi serius, dengan kepala tertunduk dan bahkan tidak menggerakkan otot. Dia sudah seperti itu sedari tadi.

Aku membungkus rambutku dengan handuk, menariknya ke belakang, dan berjalan ke arahnya.

"Apa yang kamu lakukan?"

Aku perhatikan dia sedang membaca ensiklopedia ikan.

...Apakah dia suka ikan karena dia burung?

“Kamu suka ikan?”

Tanyaku, merasa lucu melihat dia membaca ensiklopedia ikan dengan begitu serius.

Heinley lambat menyadarinya karena dia tenggelam dalam ensiklopedianya, dan tersenyum misterius,

"Ah. Aku bersiap-siap untuk memancing. Aku melihat ikan yang agak besar berkeliaran hari ini.”

"Apa kamu suka memancing?"

"Sangat suka."

Mengapa dia terlihat sangat jahat jika dia tersenyum manis?

Aku mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Heinley. Lalu dia mengusap pipinya dengan telapak tanganku.

“Aku akan memasakkanmu ikan yang enak setelah aku pergi memancing, Ratu. Aku harap Marquis sesuai dengan seleramu.”

Marquis?

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 290            

>>>             

Chapter 292

===

Daftar Chapters 


Remarried Empress (#290) / The Second Marriage




Chapter 290: Kalung Evely (1)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Rivetti terkejut mendengar nama Rashta.

'Rashta adalah pelaku penculikanku?'

Meskipun hubungan mereka buruk, dia merasa merinding mendengar kalau Rashta adalah pelaku penculikannya.

Rivetti masih membenci dan menganggap Rashta sebagai budak yang kotor, tetapi dia tidak meremehkan kekuasaannya.

Benar-benar menakutkan kalau Permaisuri Kekaisaran Timur berada di balik ini.

Rivetti menggigil memeluk tubuhnya sendiri. Meskipun dia aman sekarang, dia takut dengan apa yang mungkin dilakukan Rashta di masa mendatang.

Apakah Rashta mencoba menghapus jejak masa lalunya? Apakah dia berniat melenyapkan Keluarga Rimwell untuk menghapus masa lalunya sebagai budak?

"Keluargaku…"

"Mereka aman."

Mendengar jawaban tenang kesatria itu, Rivetti berhasil menghilangkan ketakutan terbesarnya. Dia masih harus melewati perjalanan yang sulit ke depannya, tetapi untungnya dia telah memastikan kalau keluarganya aman.

“Ngomong-ngomong…Bagaimana Yang Mulia tahu kalau aku telah diculik dan mengirim Sir Oreleo?”

“Seorang pelayan menyerang Rashta dan meninggalkan bekas luka di dahinya. Setelah apa yang terjadi, Kaisar menugaskan seseorang untuk mengawal Rashta secara diam-diam, khawatir akan keselamatannya.”

Secara diam-diam? Mengapa dia diam-diam menugaskan seseorang padanya?

Saat Rivetti mengerjap bingung, kesatria itu dengan cepat menambahkan.

"Rashta biasanya tidak suka pergi keluar bersama pengawalnya."

"Ah…"

“Pada akhirnya, begitulah cara kami mengetahui kalau Rashta telah menyewa seorang pembunuh untuk menyingkirkan Lady Rivetti. Saya senang bisa menyelamatkan Anda dengan aman.”

Rivetti mengangguk. Sebenarnya, itu adalah hal yang paling penting.

Kemudian kesatria itu menjelaskan kepada Rivetti,

“Anda harus tinggal di sini sementara waktu, Nona Rivetti.”

"Apa? Di Sini?"

Rivetti melihat sekeliling dengan heran. Akhirnya, dia masuk dan bisa menghargai interior rumah yang sederhana namun sempurna itu.

Rumah besar itu tertata rapi dan nyaman, tetapi perabotan dan sofanya tampak baru. Itu tampak seperti tempat yang tidak berpenghuni.

"Tempat ini…?"

“Itu adalah rumah besar yang dimiliki oleh Kaisar. Maaf, Nona Rivetti. Jika Anda kembali ke ibukota sekarang, Anda mungkin akan diserang lagi.”

Mengingat penyerang yang dia lihat, Rivetti buru-buru berkata.

“Orang yang menyerangku itu memiliki sosok yang sangat tidak biasa! Aku akan memberikan pernyataanku tentang itu, mungkin kita bisa menangkap pembunuh itu!”

"Bahkan jika kita menangkap pembunuh itu, yang lain akan segera muncul."

"Ah."

Mendengar kata-kata tegas kesatria itu, Rivetti menghela napas dan duduk di sofa.

“Saya akan kembali untuk Anda ketika waktunya tepat. Sementara itu, anggaplah ini rumah sendiri. Lupakan hal-hal mengerikan yang terjadi.”

Rivetti mengingat kerumunan orang yang mengikutinya dan mereka yang menegosiasikan harganya saat dia dikurung di dalam sangkar.

Dibandingkan dengan Rashta, orang-orang itu tidak berada begitu jauh darinya, mereka juga menakutkan.

Rivetti mengangguk. Jika dia kembali ke ibukota dengan situasi saat ini, tidak diragukan lagi keluarga dan teman-temannya bisa terluka.

“Ya, aku akan tinggal di sini. Terima kasih telah menyelamatkanku. Tolong sampaikan terima kasihku kepada Kaisar juga.”

“Nona Rivetti. Ingatlah hari ini.”

"Kenapa kamu berkata begitu?"

"Ini pasti akan berguna di masa mendatang."

***

Kesatria yang meninggalkan Rivetti di rumah yang aman, segera kembali ke ibu kota dengan kereta kuda dan pergi ke Sovieshu.

Sesampainya di kantornya, kesatria itu menyerahkan laporan singkat yang telah dia persiapkan dengan tergesa-gesa. Setelah membacanya, Sovieshu mengangguk dan memujinya.

"Kerja bagus. Itu pasti sangat sulit.”

Begitu kesatria itu pergi, Sovieshu meletakkan laporan itu di laci mejanya. Sebelum menutupnya, Sovieshu melirik ke dalam laci yang tertata rapi.

Semua kejahatan Rashta tersimpan di sini. Setidaknya semua kejahatan yang dia ketahui.

Beberapa jam kemudian, karena merasa terganggu, Sovieshu memerintahkan sekretarisnya untuk membawa Rashta ke kamarnya.

Namun, Rashta memberitahukan kalau dia tidak bisa berjalan terlalu jauh karena perutnya sakit, jadi dia meminta Sovieshu untuk datang.

Dia beralasan kalau perutnya sakit, mungkin karena dia tidak ingin melihat burung biru di kamarnya. Sovieshu juga tidak berharap Rashta datang ke kamarnya, dia hanya sengaja menekannya. Pada akhirnya, dia pergi ke Rashta.

Rashta berdiri di depan Istana Barat, gugup karena dia berpura-pura tidak enak badan untuk menghindari permintaannya, tetapi ketika dia melihat Sovieshu, dia bergegas dan berbicara dengan penuh kasih sayang.

“Yang Mulia, Rashta tidak punya tenaga untuk pergi ke Istana Timur. Aku merasa lebih baik sekarang, tetapi aku merasakan rasa sakit yang sangat di perutku beberapa waktu lalu.”

“Sepertinya perutmu sering sakit, apa kamu sudah memanggil dokter istana?

"Aku berpikir tidak seharusnya terus-menerus memanggil orang yang sibuk ..."

“Itu pekerjaannya. Bahkan jika kamu merasa sedikit saja tidak enak badan, pastikan kamu memanggilnya.”

"Baiklah."

Begitu mereka memasuki kamar Permaisuri, Rashta menatap Sovieshu dengan penuh harap.

Suasana menjadi tenang setelah sekian lama. Dia berpikir untuk menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan di antara mereka berdua, yang menjadi sedikit canggung.

“Hm, Yang Mulia. Kamu belum pernah bernyanyi untuk Rashta akhir-akhir ini ... bayi di perut Rashta ingin mendengar Yang Mulia bernyanyi.”

Kelemahan Sovieshu adalah bayinya, dan Rashta tahu itu dengan sangat baik.

Meskipun Sovieshu terdiam sesaat, dia segera duduk di samping Rashta dan menyanyikan lagu yang indah dengan lembut.

Rashta memejamkan matanya saat Sovieshu bernyanyi. Dia merasa seolah-olah lagu indah itu menggelitik telinganya.

Begitu lagu berakhir, Rashta menjadi sangat mengantuk dan berbaring di bahu Sovieshu dengan mata tertutup.

Dia menyukai Duke Elgy, yang selalu berada di sisinya, tetapi dia juga menyukai Sovieshu. Ketika dia dalam suasana hati yang baik, dia lebih manis daripada pria mana pun yang pernah dia temui dalam hidupnya.

“Apakah ada sesuatu yang perlu kamu beritahukan kepadaku?”

Bahkan suaranya yang tiba-tiba rendah dan lembut. Rashta menggelengkan kepalanya masih dengan mata tertutup.

"Tidak."

"Pikirkan lagi, apakah benar-benar tidak ada apa pun yang perlu kamu beritahukan kepadaku?"

Sovieshu bertanya sekali lagi. Suaranya bahkan tidak dingin, tetapi Rashta terkejut mendengar pertanyaan yang sama lagi.

Ada apa? Kenapa dia menanyakan pertanyaan itu? Apakah dia mengetahui sesuatu?

Rashta mengangkat kepalanya dan membuka matanya.

Sebenarnya, dia baru-baru ini melakukan banyak hal di belakang Sovieshu. Serangkaian peristiwa muncul di benak Rashta pada saat yang sama. Namun, dia tidak bisa mengungkapkan semua itu.

"Tidak."

Rashta berbohong dengan datar dan tiba-tiba berdiri.

'Kalau dipikir-pikir, aku juga punya sesuatu untuk ditanyakan pada Sovieshu.'

Dia berniat menyimpannya untuk dirinya sendiri sedikit lebih lama sebelum membicarakannya, tapi... dalam situasi ini, dia merasa lebih baik menggunakannya sekarang.

"Yang Mulia punya sesuatu untuk dijelaskan kepada Rashta, kan?"

Rashta bertanya dengan dingin, dan meletakkan tangan di pinggangnya.

Sovieshu menyipitkan matanya, bersandar di belakang sofa.

"Sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu diskusikan. Apa itu?"

Rashta berjalan ke meja riasnya dan membuka laci. Dia meraihnya, mengeluarkan kalung dan mengangkatnya ke wajah Sovieshu.

"Apa artinya ini?"

Sovieshu mengambil kalung itu. Kalung itu mungkin terlihat sangat mahal, tetapi tidak sesuai dengan standar Sovieshu. Itu terlalu mengilap dan kasar.

"Pernak-pernik apa ini?"

Mendengar pertanyaan blak-blakan Sovieshu, Rashta menganga dengan ekspresi bingung. Kemudian, Sovieshu bertanya sekali lagi.

"Aku bertanya apa itu, Rashta."

Rashta tergagap dengan ekspresi 'bukan ini?'.

"Bukankah itu hadiah Yang Mulia berikan kepada Evely ketika kamu membawanya sebagai selir?"

Sovieshu tertawa seolah-olah dia menganggapnya tidak masuk akal.

"Kamu meremehkan seleraku yang bagus."

Rashta, yang marah karena kalung itu terlihat sangat mahal, merasa malu. Kata-kata Kaisar Sovieshu sepertinya menyiratkan kalau dia memiliki selera yang buruk.

“Bagaimanapun. Aku berasumsi, dari apa yang baru saja kamu tanyakan, kalau kalung ini milik Evely, kan?”

"Hmm…"

“Kamu tidak boleh mengambil kalung yang bukan milikmu.”

“Itu membuatku sangat cemburu kalau Yang Mulia peduli pada wanita lain. Aku memungut kalung itu di Istana Selatan, tetapi aku sengaja tidak mengembalikannya. Maafkan aku."

Sovieshu memasukkan kalung itu ke dalam saku mantelnya.

"Aku akan meminta seseorang mengembalikannya untukmu."

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 289            

>>>             

Chapter 291

===

Daftar Chapters 


Sunday, January 2, 2022

Remarried Empress (#289) / The Second Marriage

 



Chapter 289: Penyelamatan (2)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Heinley selalu memasak untukku. Jadi hari ini aku akan memasak untuknya untuk menghilangkan suasana canggung di antara kami.

Aku menuju dapur yang sering digunakan Heinley.

Dapur yang rapi dan bersih menunjukkan kalau itu dirancang dengan penekanan pada estetika daripada penggunaan praktis, tetapi dilengkapi dengan semua yang diperlukan.

Setelah menyingsingkan lengan baju, aku memikirkan hidangan apa yang bisa aku masak.

Sup jagung? Sup jamur? Sup sayuran? Sebenarnya, aku hampir tidak punya pengalaman.

… Haruskah aku membuat telur dadar? Itu adalah hidangan klasik. Yang terpenting adalah aku akan melakukannya sendiri untuknya.

Ya. Aku akan membuat sesuatu yang sederhana namun lezat, daripada sesuatu yang aku tidak tahu cara membuatnya dengan baik.

Segera setelah aku memutuskan, aku memecahkan telur ke dalam mangkuk dan mengocoknya dengan garpu…. satu jam kemudian, saat makan malam, aku menyajikan telur dadar yang aku buat sendiri untuk Heinley.

Heinley dengan senang hati memakan sepotong telur dadar.

"Bagaimana rasanya?"

“Ini telur dadar paling enak yang pernah aku rasakan dalam hidupku.”

Aku tahu itu adalah kata-kata kosong, tetapi itu membuatku merasa senang. Saat aku melihatnya makan, aku mencoba untuk menekan konflik 'cinta atau stabilitas' yang terjadi di kepalaku selama beberapa hari terakhir.

Saat itu, Heinley bertanya kepadaku,

"Apakah kamu tidak ingin makan Ratuku?"

"Ah."

Baru kemudian aku menyadari kalau aku hampir tidak menyentuh makanan di piringku. Heinley menyarankan agar aku mencoba telur dadar yang aku buat sendiri.

“Kamu harus mencobanya juga, Ratuku. Ini sangat lezat. Aku sungguh-sungguh."

Aku mengambil sepotong telur dadar dengan garpu, memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya beberapa kali dan segera menelannya.

Tapi itu aneh. Kelihatannya enak seperti yang dia katakan, tapi rasanya tidak enak.

Juga, rasa telur dadar yang tertinggal di mulut aku agak tidak enak. Tiba-tiba, aku merasa seolah-olah aku telah membuat bubur ayam, bukan telur dadar, yang membuat perutku semakin melilit.

Begitu aku buru-buru minum segelas air, Heinley bertanya dengan suara gemetar,

“Ratuku? Apakah ada bahan makanan yang tidak bisa kamu makan?”

"Tidak. Aku hanya sedang tidak nafsu makan.”

“Apa kamu merasa baik-baik saja?”

"Ya, aku hanya kurang nafsu makan."

Heinley mengulurkan tangan dan meletakkan telapak tangannya di dahiku. Telapak tangannya terasa sejuk dan menyenangkan.

Saat aku memejamkan mata, Heinley bergumam, “Kamu sedikit demam. Aku akan memanggil dokter istana, Ratuku."

"Aku baik-baik saja. Tidak perlu memanggil dokter istana hanya karena aku tidak nafsu makan.”

Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, menyendok beberapa salad yang dibuat oleh koki ke dalam mulutku dan tersenyum paksa.

Alasan kurangnya nafsu makanku sudah jelas. Aku mendengar kalau Rashta ingin membunuh orang tuaku, bukankah aneh jika nafsu makanku baik?.

Dokter istana akan mengira aku kelelahan karena terlalu banyak bekerja, sehingga mengganggu tugasku.

Aku masih memiliki banyak pekerjaan, jadi aku tidak ingin dia memanggil dokter istana karena gejala ini.

***

Ketika Viscount Roteschu, yang tidak mengunjungi Rashta selama berhari-hari, bertanya padanya,

"Apa kamu kebetulan pernah melihat Rivetti?"

Rashta hampir mengeluarkan teriakan kegembiraan yang luar biasa. 'Pembunuh itu sudah melakukannya!'

"Tidak. Apa yang terjadi?"

Rashta bertanya, menekan kegembiraan dalam suaranya.

Ekspresi Viscount Roteschu menjadi suram.

"Dia belum kembali ke rumah selama berhari-hari."

"Betulkah?" Rashta bertanya dengan acuh tak acuh, dan menambahkan dengan tegas, “Aku tidak tahu apa-apa. Rashta tidak dekat atau berhubungan dengannya, kan? Aku tidak tertarik dengan apapun yang berhubungan dengannya.”

Viscount Roteschu mengerutkan kening, tetapi tidak menjawab. Dia sangat khawatir tentang Rivetti sehingga dia bahkan tidak ingin berdebat.

“Dia bukan anak kecil, dia bisa bersenang-senang tanpa persetujuanmu. Khawatirkan saja apa yang aku minta kamu lakukan.”

Akhirnya, Viscount Roteschu pergi. Malam berikutnya, pembunuh bayaran yang disewa oleh Rashta datang menemuinya.

Pembunuh itu memasuki kamar Rashta dengan sangat mudah.

Rashta hampir berteriak ketakutan ketika dia melihat si pembunuh berdiri di dekat jendela.

Namun, dia segera mengenali sosok aneh si pembunuh dan bertanya dengan tergesa-gesa,

“Apa yang terjadi dengan Rivetti?”

Rashta bertanya dengan penuh semangat, yang dijawab oleh si pembunuh dengan acuh tak acuh.

“Aku menculiknya dan menyerahkannya kepada pedagang budak ilegal. Uang dari penjualan—”

"Berikan padaku. Aku akan membeli makanan lezat dengan itu. Aku akan memberimu pembayaran terpisah.”

Ketika si pembunuh memberinya uang yang dia bawa, Rashta segera mengantonginya lantas memberinya pembayaran yang disepakati.

Dia khawatir karena si pembunuh telah mengetahui identitasnya dan datang sampai kemari, tetapi mereka yang tergabung dalam guild si pembunuh terkenal karena mereka pandai menjaga rahasia.

Ini karena seorang pembunuh yang mengungkapkan identitas klien tidaklah berguna, dan apa pun yang terjadi, identitas klien harus dirahasiakan.

Setelah memeriksa uang dan perhiasan, si pembunuh mengangguk dan berbalik untuk pergi melalui jendela.

"Tunggu sebentar."

Rashta menghentikan si pembunuh dan bertanya,

“Ketika gadis itu dijual oleh pedagang budak, laporkan padaku di mana dia menjualnya. Tentu saja, aku akan membayarmu untuk ini.”

Ketika Rivetti jatuh ke dalam keputusasaan, Rashta berencana untuk pergi menemuinya dan berkata, 'Bagaimana rasanya menjadi seorang budak biasa?'

Pembunuh itu mengangguk lagi dan menghilang dalam sekejap mata. Rashta duduk di tempat tidur dan bersukacita.

'Rivetti akan menangis dengan ekspresi yang benar-benar kalah, atau meludahkan umpatan keputusasaan.'

Rashta mencengkeram perutnya, dia merasa senang membayangkan kalau dia bisa membalas dendam pada musuhnya dengan cara yang sama.

Tak lama setelah itu, ketika pelayan yang dikirim Rashta ke Evely datang menemuinya setelah berhasil mencuri kalung Evely, semangat Rashta naik lebih tinggi.

"Kerja bagus. Kamu benar-benar kompeten.”

Rashta memberinya kalung permata besar dan memerintahkan,

“Terus awasi gadis itu dan beri tahu aku segera jika kamu melihat sesuatu yang aneh. Jika Yang Mulia mencarinya, mengirimkannya hadiah, atau semacamnya.”

"Tentu saja. Percaya padaku, Yang Mulia.”

Ditinggal sendirian di kamarnya, Rashta mendengus saat dia memeriksa kalung Evely dengan cermat.

Hal ini menyebabkan suasana hatinya yang baik memudar. Rashta melemparkan kalung itu ke tanah dan menginjaknya beberapa kali.

***

Sementara itu, Rivetti mendapati dirinya dalam situasi di mana dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Dalam perjalanan pulang dari berkumpul dengan teman-temannya, dia melihat pemandangan yang mengerikan. Adegan kerumunan orang mengikutinya sambil berpura-pura menjadi orang yang lewat.

Dia mencoba melarikan diri ketakutan, tetapi kehilangan kesadaran setelah diserang oleh seseorang.

Ketika dia bangun, dia dikurung di kandang tempat hewan liar biasa disimpan. Tiba-tiba, dia melihat seorang pria yang sangat jahat tertawa dan memberikan uang kepada pria lain yang berjubah.

“Pelanggan kami senang menghancurkan martabat bangsawan yang angkuh. Mereka sangat populer. Namun, mereka menjadi budak kotor setelah beberapa tahun. Cari aku lagi lain kali kamu perlu menjual bangsawan lain.”

Rivetti bergidik ketakutan. Budak kotor? Kemana penculik ini membawaku?

Ketika penculik itu pergi, pria jahat itu memandang Rivetti seolah-olah dia adalah sepotong emas besar dan berkata sambil tersenyum.

“Sepertinya seseorang memiliki dendam yang dalam terhadapmu.”

"Tolong, tolong bantu aku, aku akan memberimu uang sebanyak yang kamu inginkan!"

“Bukankah aku akan mendapatkan lebih banyak uang dengan menjualmu daripada yang bisa kamu berikan kepadaku?”

"Tidak, itu tidak benar!"

"Selain itu, bagaimana aku tahu kamu akan menepati janjimu jika aku melepaskanmu?"

Pria jahat itu menyeringai dan pergi.

Rivetti, yang dikurung dalam sangkar gelap, memanggil ayah dan saudara laki-lakinya sambil menangis. Tapi tidak mungkin mereka bisa mendengarnya dari rumah mereka yang nyaman.

Rivetti menghabiskan empat hari penuh ketakutan. Selama waktu ini, dua belas orang berjubah datang satu demi satu untuk melihatnya, mendiskusikan harga dengan pria jahat itu dan kemudian pergi.

Sangat menyakitkan saat menyaksikan di depan matanya sendiri ketika mereka dengan tenang menegosiasikan harganya. Rivetti menyadari betapa kejam dan tidak berperasaannya manusia. Tidak ada yang mencoba menyelamatkannya meskipun jelas kalau dia telah diculik.

Dan pelanggan terakhir yang datang pada hari keempat membeli Rivetti. Dia bertanya berapa banyak yang ditawarkan orang lain, dan tanpa ragu-ragu menawarkan dua kali lipat jumlah tertinggi.

Rivetti terpaksa mengikuti pelanggan terakhir ini, dengan kedua tangan terikat erat di belakang punggungnya dan disumpal.

Dia tidak bisa mengingat seberapa lama dia menangis selama perjalanan di kereta. Akhirnya, kereta berhenti di depan sebuah rumah yang sederhana dan indah. Rivetti dulu memimpikan rumah besar seperti itu, tetapi bahkan tempat ini berada di luar imajinasinya.

Namun, ketika pelanggan terakhir ini melepas jubah yang menutupi tubuhnya, Rivetti berhenti menangis dan matanya melebar. Di bawah jubahnya dia mengenakan seragam Kesatria Pengawal Istana.

Dia menyingkirkan jubah itu dan dengan sopan meminta maaf kepada Rivetti.

"Maaf aku membuatmu takut, Nona Rivetti."

Dia melepaskan tali yang mengikat tangan Rivetti dan melepaskan penutupnya lantas melangkah mundur lagi.

Menatap kesatria itu, Rivetti bertanya di antara isak tangisnya,

"Kamu siapa?"

“Namaku Oreleo, anggota Kesatria Pengawal Istana. Yang Mulia memerintahkanku untuk menyelamatkan Lady Rivetti.”

"Yang Mulia?"

Terkejut, mata Rivetti semakin melebar. Mengapa dia sekarang menyebut Kaisar Sovieshu? Tidak, bagaimana Kaisar Sovieshu tahu kalau aku telah diculik?

Jika itu adalah anak dari seorang Grand Duke, Kaisar dapat langsung memerintahkan para kseatrianya untuk menyelamatkannya, tetapi Rivetti tahu kalau keluarganya tidak memiliki status seperti itu. Karena itu, dia tidak percaya kalau nama Sovieshu muncul begitu saja.

Sementara Rivetti kebingungan, kesatria itu berkata,

"Nona Rivetti, Rashta adalah pelaku penculikanmu."

***

[Baca Remarried Empress Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://novelutopia.com/ 


<<<

Chapter 288          

>>>             

Chapter 290

===

Daftar Chapters