Wednesday, March 30, 2022

Trash of the Count’s Family (#56) / Ep. 76--78




Pembuat Onar di Keluarga Count

Chapter 56: Sedang Berpikir (4)

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Cale merasakan semua tatapan terpusat padanya, lantas bangkit perlahan.

Tadinya dia menyemangati Witira setelah melihatnya mengirim Toonka terbang, tetapi dia bergegas mengeluarkan perisainya karena dia tidak ingin para kesatria terluka.

Karena hal itu, bagian dalam perisai sengaja terarah ke arah Cale, bukan para kesatria. Untungnya, para kesatria tidak terluka, tetapi meski tidak sengaja, pada akhirnya dia juga menyelamatkan Toonka.

Cale tampak tenang saat beranjak berdiri, tetapi kakinya mati rasa karena terlalu lama berjongkok.

"Ah."

Saat mencoba berdiri, wajah Cale merengut. Dia tersandung gara-gara kaki kirinya mati rasa.

"Tuan muda Cale!"

Amiru bergegas menghampiri dengan ekspresi terkejut. Paseton, yang sama terkejutnya, meraih lengan Cale. Namun, Cale mendorong Paseton menjauh dan berdiri tegak. Raut wajah Amiru tampak panik saat berlari ke Cale.

“Tuan muda Cale! Anda tidak perlu menggunakan kekuatan Anda! Kenapa Anda melakukannya?"

Mengapa? Sebenarnya Cale tidak ingin melakukannya.

Tapi jika regu investigasi terluka segalanya akan menjadi rumit. Berkat Cale, masalahnya tidak bertambah gawat, tetapi seandainya tadi Toonka melukai para kesatria di wilayah itu, segalanya akan menjadi jauh lebih ruwet. Cale tidak bisa membiarkan itu terjadi karena Toonka harus kembali ke Kerajaan Whipper pada waktu yang tepat.

‘Kalau tidak begitu, aku yang akan rugi.’

Amiru memeriksa keadaan Cale dengan prihatin sekaligus kecewa.

“Dan kenapa Anda begitu basah kuyup seperti ini? Apakah Anda baik-baik saja? Anda sedang dalam pemulihan, apa yang akan Anda lakukan jika Anda masuk angin?! Tuan muda Cale! Anda ini benar-benar!"

Kata-kata Amiru membuat Paseton dan Witira tersentak. Ini terutama berlaku untuk Witira, yang menggigit bibirnya dan memeriksa keadaan Cale juga. Dia ingat bagaimana ekornya tadi membuat Cale basah kuyup, dan teringat ekspresi di wajah Cale sebelumnya ketika dia mendongak ke atas sambil berjongkok.

Pada saat itu, Cale mulai berbicara kepada mereka bertiga. Suaranya pelan dan terdengar sangat lelah.

"Bukankah tidak apa-apa, toh tidak ada yang terluka?"

Suaranya tidak terdengar hangat, seolah-olah dia sedang frustrasi. Dia jelas sedang frustrasi. Pakaiannya yang basah kuyup tidak terasa nyaman, dan sekarang dia ingin menjauh dari para pembuat onar ini dan beristirahat.

Paseton menundukkan kepalanya sementara Witira melihat sekeliling. Dia bisa melihat garis pantai yang telah dia hancurkan beberapa saat lalu, dan menggigit bibirnya sekali lagi. Amiru ragu-ragu sejenak lantas mulai berbicara.

“…Tuan muda Cale, sangat sulit untuk memahamimu. Sangat sulit."

Cale hanya bisa terdiam setelah melihat bahwa situasi yang mirip dengan insiden alun-alun kota akan terjadi lagi. Semuanya menjengkelkan.

Amiru berpaling dari Cale dan melihat ke arah kedua anggota Suku Paus. Tatapannya ke arah mereka tampak tenang, tapi juga marah.

"Dan Anda siapa?"

Ini adalah bagian dari Kerajaan Roan, tapi ini adalah wilayah keluarganya. Amiru tidak berniat membiarkan begitu saja insiden seperti itu terjadi di wilayah Ubarr.

"Dan Bob."

Amiru menatap tajam ke arah Toonka, yang berdiri melongo di sampingnya.

"Siapa kamu?"

Tak satu pun dari ketiganya menjawab pertanyaan Amiru. Toonka sepertinya mengkhawatirkan sesuatu, sementara Paseton memikirkan apa yang harus dikatakan. Sedangkan Witira, dia hanya bisa menundukkan kepala setelah melihat apa yang telah dia lakukan.

Pada saat itu, Amiru mendengar suara.

“Hacchiii!”

Hidung Cale gatal dan membuatnya bersin. Dia mendorong rambut yang jatuh di wajahnya ke belakang lantas mendongak. Dia tidak memeduulikan apa pun yang di hadapannya dan mengabaikan semua tatapan yang terfokus padanya lantas berbicara.

"Ayo kita kembali dulu."

Tidak ada yang bisa mengatakan tidak padanya.

***

Cale menjelaskan seluruh situasi sebelum keluar dari kediaman Amiru dan melihat tiga orang di belakangnya. Witira, Paseton, dan Toonka. Dia kemudian melakukan kontak mata dengan Amiru, yang baru saja keluar di belakang mereka.

Dia melihat Cale sebelum berbicara dengan tegas kepada Toonka.

“Kau harus pergi besok. Kau harusnya berterima kasih satu-satunya hukumanmu hanyalah diusir dari wilayah kami.”

Amiru menuntut agar Toonka meninggalkan wilayahnya besok. Karena sudah sangat jelas bahwa dia bukan seorang nelayan, dan karena dialah biang kerok pertempuran itu.

“Kalian berdua akan menerima hukuman yang sama jika kalian menyebabkan masalah lagi di wilayahku.”

Kedua Paus bersaudara itu membungkuk ke arah Amiru dengan ekspresi tenang. Cale mengamati kedua kakak-beradik yang tidak mengungkapkan hubungan mereka dengan sang Raja Paus, lantas menoleh.

"Tuan muda Cale, Anda sepertinya masuk angin, jadi silakan masuk ke dalam."

"Baiklah."

Tatapan Amiru berubah tajam saat dia berpaling ke Toonka.

"Kau membalas kemurahan hati kami dengan tindakan seperti itu."

Cale dengan lembut mulai berbicara.

“Itulah mengapa Anda mengusirnya.”

Mengusir Toonka. Itulah yang Cale suruh Amiru lakukan.

"Tuan muda Cale, Anda benar-benar ..."

Amiru sudah mendengar dari Paseton bagaimana Cale menyelamatkan hidupnya, serta bagaimana Cale tidak bersalah, tetapi malah terseret ke dalam kekacauan.

"Nona muda Amiru, itu tidak seberapa."

Ekspresi wajah Cale tampak lemah lembut.

– Bukankah tadi kamu tanya apa aku bisa mengalahkan Toonka?

Seperti biasa, Cale mengabaikan si Naga Hitam.

Setelah memberi tahu Amiru berulang kali kalau dia baik-baik saja, Cale mengalihkan pandangannya ke arah Toonka. Toonka juga menatap Cale. Sejak tadi eskpresi wajah Toonka tampak kosong, tidak, itu lebih menyerupai ekspresi yang rumit.

Kekuatan kuno.

Itu adalah satu-satunya jenis kekuatan yang diakui oleh non-penyihir, yang berfokus pada kekuatan fisik, sebagai kekuatan. Itu karena mereka menganggap kekuatan seseorang yang diturunkan dari generasi ke generasi adalah sebuah berkah.

Cale menatap Toonka dengan datar.

Dia adalah bajingan gila yang akhirnya menjadi pahlawan, tetapi juga menunjukkan tanda-tanda penghancuran diri di jilid ke-5.

Kedua Paus itu mendekati Cale, dan Witira dengan hati-hati bertanya.

"Apakah tidak apa-apa kami pergi bersamamu?"

“Kalian kan tidak punya tempat yang bisa dikunjungi. Aku bisa memberi kalian tempat bermalam.”

Cale naik ke kereta dan memerintahkan Paus kakak-beradik itu untuk mengikutinya. Dia kemudian menutup pintu kereta dan mulai berpikir.

Setidaknya Toonka akan kembali ke Kerajaan Whipper.

Cale, tidak, gaya Kim Rok Soo adalah tidak menciptakan hubungan yang mendalam dengan seseorang yang tidak bisa dia ajak berkomunikasi. Ini berbeda dengan menghindari seseorang untuk menghindari masalah yang rumit.

‘Apa aku perlu menghubungi putra mahkota?’

Bagaimana reaksi putra mahkota jika Cale mengatakan mereka harus membawa kembali “sarang berisi madu” yang tersisa di Kerajaan Whipper? Dia bisa menebak tanggapan putra mahkota karena mereka mirip satu sama lain.

Putra mahkota akan sangat senang.

Cale bermimpi membawa “sarang” itu kembali dan menjalani kehidupan santai yang menyenangkan di masa depan.

Cale perlu menyapa wakil kepala pelayan Hans, Beacrox, Wakil Kapten, sepuluh anak Serigala, On, dan Hong begitu dia kembali.

Mulanya Hans mendekati Cale seperti biasanya, tetapi mulutnya ternganga setelah melihat si Paus bersaudara. Lantas dia segera menenangkan dirinya dan mulai mendekati Cale lagi.

“Tuan muda, apakah Anda baik-baik saja? Saya sudah dengar apa yang terjadi.”

"Aku baik-baik saja. Oh, dan antarkan kedua orang ini ke sebuah kamar.”

Cale menyerahkan kedua Paus bersaudara itu ke Hans lantas berpaling ke Beacrox. Beacrox, yang berpakaian sempurna, seperti biasa, mulai mengerutkan kening begitu dia melihat Cale. Melihat Cale tampak berantakan oleh debu bebatuan dan air laut yang sudah mengering, Beacrox menoleh ke arah Maes dan mulai berbicara.

“Panaskan airnya.”

"Baik."

Maes merespons dengan tenang lantas mendekati Cale.

“Tuan muda, saya dengar Anda terseret ke dalam pertempuran mereka dan hampir terluka.”

Cale memandang ke arah Maes, serta anak-anak Serigala lainnya yang memandanginya, dan menjawab dengan santai.

"Tidak juga. Aku tidak akan mungkin terluka.”

"… Saya mengerti."

Anak-anak Serigala yang sangat cerdas dan polos itu terlihat tenang, tidak seperti diri mereka yang biasa. Cale tidak terlalu mengindahkannya dan terus memperhatikan anak-anak, yang dengan cepat bergegas pergi untuk memanaskan air mandi, lantas melihat kembali ke Beacrox. Beacrox mulai berbicara begitu mereka bertatapan.

"Tuan muda, silakan mandi dulu."

Cale tahu kalau Beacrox tidak tahan dengan penampilan dekil Cale, jadi dia menganggukkan kepalanya. Dia hendak menuju kamar mandi tetapi sebuah suara memanggilnya.

"Tuan muda."

"Ada apa?"

Itu Paseton dan Witira. Paseton yang memanggilnya, tetapi Witira yang pertama berbicara.

"Bolehkah kami mengunjungi Anda setelah Anda beristirahat sebentar?"

Raja Paus. Karena mereka adalah anak-anaknya, keduanya memiliki peringkat yang hampir sama dengan bangsawan kerajaan. Namun, mereka berdua menyembunyikan fakta bahwa mereka terkait dengan Raja Paus. Sejujurnya, tidak ada alasan untuk menyembunyikannya. Toh manusia tidak akan tahu kalau mereka adalah bangsawan. Sangat jarang menemukan orang yang bahkan tahu tentang keberadaan Siluman Paus.

"Datanglah besok."

Cale menjawab singkat lantas berbalik. Dia bisa mendengar suara Naga Hitam di kepalanya. Naga Hitam cerewet sekali sejak tadi.

- Kamu bersin! Apa kamu bisa beraksi malam ini? Bukankah seharusnya kamu istirahat? Kenapa kamu begitu lemah hingga membuatku sangat khawatir?! Manusia! Ini sangat membuat frustrasi!

‘Akulah yang justru frustrasi.’

Cale memutuskan untuk memanfaatkan fakta bahwa tidak ada yang percaya kalau dia benar-benar sehat. Dia mengatakan kepada semua orang agar tidak mendatanginya malam ini karena dia butuh istirahat, lalu berujar ke Naga Hitam.

"Ayo pergi."

“…Untuk saat ini, aku akan menurutimu.”

On dan Hong mengantar mereka pergi saat Cale menuju ke pulau Ubarr dengan Naga Hitam.

Hari ini adalah hari yang dia butuhkan untuk memperpanjang umur pusaran air ini agar bertahan setahun lagi.

– Aku tidak paham kenapa kamu melakukan ini padahal kamu sedang tidak sehat. Otak naga cerdasku ini tidak bisa mengerti.

Cale dengan santai menanggapi omelan seorang anak berusia 4 tahun.

"Aku harus melakukannya hari ini."

Penyihir wilayah akan tiba besok, membuat Cale lebih sulit untuk bergerak. Dia harus mengurus genangan air dan pusaran air itu hari ini.

Cale melihat lampu-lampu di pulau tengah masih menyala dan mendarat di pulau yang lebih jauh. Ini lokasi pusaran air terkuat kedua, bukan, ini sekarang menjadi pusaran air paling kuat.

"Hahh."

Dia lalu menghela napas.

– Mengapa bajingan itu berenang di sini? Tunggu, kenapa bajingan itu ada di sini? Aku tidak mengerti.

Cale bisa mendengar suara cemas Naga Hitam. Tidak ada seorang pun di pulau tempat Cale dan Naga Hitam mendarat. Namun, ada seseorang di pusaran air di depan pulau.

Pusaran air itu bergejolak kuat sehingga kita tidak mungkin bisa melihat orang yang ada di dalamnya saat terbang di udara.

"Dia pasti benar-benar orang gila."

Malam itu gelap, karena bulan baru saja menyelesaikan siklusnya. Cale mulai berpikir setelah melihat Toonka, yang melompat ke pusaran air pada malam seperti itu. Cale ingin tahu apa yang dipikirkan bajingan gila itu.

Pada saat itu, Toonka melompat keluar dari pusaran air dan bergegas ke pulau itu.

"Sudah kuduga! Sudah kuduga!"

Toonka terus menatap Cale seraya mendekat.

“Aku tahu kamu bukan sekadar orang biasa. Aku tahu aku mencium bau orang kuat di dekatku. Apa kamu penyihir? Bagaimana kamu bisa terbang melintasi langit?”

Mata Toonka mulai bergetar setelah mengucapkan kata penyihir. Dia berencana melawan Cale jika dia mengatakan dirinya seorang penyihir, dan membunuh Cale jika dia lemah. Menurut Toonka, penyihir adalah racun bagi dunia. Dia terus berjalan cepat menuju Cale.

“Apa kamu mengabaikanku karena kamu penyihir bercelana mewah? Hmm?"

Toonka melihat Cale menghela napas. Cale melihat ke arahnya lantas menjawab dengan santai.

"Aku sedang berpikir."

Cale sedang berpikir bagaimana menghadapi si bego ini.

'Apa sebaiknya aku menghajarnya atau memanfaatkannya?'

Itulah yang dipikirkan Cale. Cale mengamati Toonka, yang sepertinya ingin bergegas dan menyerangnya.

"Memangnya apa yang kamu pikirkan hingga mengabaikanku?"

Cale selesai berpikir tepat saat Toonka mengucapkan kata-kata terakhir itu. Dia lalu segera beraksi.

‘Akan kulakukan dua-duanya.’

Bum!

“Ugh!”

Toonka, yang tidak siap, terlempar dan mendarat di air. Pusaran air mengelilingi tubuh Toonka.

"Apa yang sedang terjadi?!"

Toonka, yang memiliki ketahanan sihir yang tinggi, merasa sulit menghadapi angin ini. Angin dan air yang berputar tanpa henti dari laut menyedot Toonka bagaikan rawa.

Cale menciptakan pusaran air di kedua tangannya sembari mendekati Toonka.

Ceplas. Ceplas.

Terdengar suara Cale yang melangkah ke dalam air.

Dia kemudian menatap Toonka, yang tersedot ke laut oleh serangan mendadak. Tidak peduli seberapa tinggi seseorang, akan selalu ada kesempatan untuk memandang mereka dari atas (memandang rendah).

"Penyihir tidak bisa memiliki kekuatan kuno."

Toonka bisa merasakan angin di sekitarnya menghilang ketika dia mendongak ke Cale.

“Bob, prajurit sepertimu seharusnya mengerti maksudku, kan?”

Kekuatan yang diturunkan dari manusia yang menciptakan kekuatan itu.

Toonka pernah mendengar tentang kekuatan kuno, tetapi ini pertama kalinya dia melihat itu digunakan. Dia terdiam beberapa saat lantas akhirnya mulai berbicara.

“…Kalau begitu kamu bukan penyihir?”

"Benar."

Toonka mengajukan pertanyaan lain setelah mendengar tanggapan Cale yang tegas, tapi juga sangat lugas.

“Lalu bagaimana kamu tahu tentang faksi non-penyihir?”

Toonka merasa bangsawan di depannya ini semakin aneh semakin sering dia bertemu dengannya.

'Ya. Dia memang aneh.’

Bangsawan ini tidak peduli meski dia tidak menggunakan bahasa formal. Dia juga bekerja keras menyelamatkan orang lain padahal dia sendiri sedang sakit. Dia juga orang aneh yang memiliki aroma orang kuat di sekelilingnya, meskipun dia sendiri tidaklah kuat.

Seseorang yang terus memperlihatkan kekuatan unik setiap kali bertemu dengannya. Dia juga seseorang yang mencoba menyelamatkannya.

Ini pertama kalinya Toonka melihat orang seperti itu.

Namun, kata-kata Cale berikutnya lagi-lagi mengejutkan Toonka.

Cale tidak menjawab pertanyaan Toonka. Sebaliknya, dia mengajukan pertanyaannya sendiri.

"Apa kamu berpikir untuk menghancurkan Menara Sihir?"

"Apa? Apa katamu?"

Mata Toonka terbuka lebar karena terkejut. Ekspresinya seakan bertanya bagaimana Cale tahu tentang itu.

Menghancurkan Menara Sihir. Itu adalah salah satu tujuan dari faksi non-penyihir sejak awal. Cale terus berbicara.

"Jika kamu berencana melakukannya, tolong jangan terlalu dihancurkan."

Toonka tanpa sadar melontarkan pikirannya.

"...Bajingan gila, apa yang kamu bicarakan?"

“Ah, tapi tolong usir semua penyihir itu.”

Toonka akhirnya bisa membuat keputusan tentang Cale setelah mendengar apa yang Cale katakan. Cale mulai tersenyum sambil menatap Toonka.

Non-penyihir yang memenangkan Perang Saudara memimpin Kerajaan Whipper hingga berkembang sebelum akhirnya runtuh dengan cepat. Meskipun naluri alami melengserkan rasionalitas yang dikenal sebagai sihir, keberadaan tanpa rasionalitas tidak jauh berbeda dengan seekor hewan.

Rencana Cale adalah mengambil alih keuntungan yang pada akhirnya akan dilewatkan oleh hewan-hewan itu.

“Aku berencana untuk membeli Menara Sihir itu. Bagaimana menurutmu?"

Toonka mulai tersenyum seraya menatap Cale.

"Dasar bajingan gila."

Toonka telah mengambil keputusan tentang Cale.

***

[Baca Trash of the Count's Family Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/] 

Diterjemahkan dari https://eatapplepies.com/


<<<

Chapter 55                  

>>>             

Chapter 57

===

Daftar Isi 


Ingin memberi dukungan? Klik https://saweria.co/storylover


 

Tuesday, March 29, 2022

Kumo Desu Ga, Nani Ka? (#3)




Chapter 3: Dulunya Kukira “Appraisal” adalah Cheat Skill

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Aku seekor laba-laba.

Aku masih belum punya nama.

Apa yang tiba-tiba aku omongkan?

Aku hanya ingin mengatakannya karena aku belum punya nama.

Apa yang aku maksudkan?

Untuk menjelaskannya, aku perlu melihat menceritakan apa yang terjadi.

Aku tercengang setelah memastikan ukuran badanku.

Nah, bukankah itu normal?

Terlahir sebagai laba-laba saja sudah mengejutkanku, tapi justru, aku seekor monster.

Ini menyebalkan.

Orang yang normal pasti sudah putus asa dan bunuh diri.

Yah, aku belum terpikir ingin mati.

Tapi aku tidak bisa terus merasa sedih.

Jika di sini bukan Bumi dan ini dunia yang berbeda, maka aku tidak tahu betapa berbahayanya dunia ini.

Tidak ada jaminan bahwa tidak ada monster lain selain laba-laba raksasa itu.

Laba-laba raksasa itu mungkin panjangnya sekitar 30 meter dilihat dari ukuranku.

Bisakah seseorang mengalahkan makhluk itu?

Aku berdoa agar si pemilik jejak kaki tidak bertemu laba-laba raksasa itu.

Namun, lain halnya jika mereka memiliki senjata api berat.

Selain itu, ada kemungkinan ada sihir di dunia ini.

Jika benar begitu, apakah mereka bisa melawan laba-laba raksasa itu?

Aku tidak tahu.

Tapi laba-laba itu jelas terlihat seperti musuh yang tangguh, seperti bos monster dalam video game.

Atau malah, jika perkiraanku salah, aku akan mati.

Beberapa waktu yang lalu, aku berasumsi bahwa orang-orang akan bertarung dengan laba-laba raksasa itu, tetapi bukankah itu bagus?

Lagipula, aku mungkin anak dari laba-laba raksasa itu.

Aku adalah bayi monster.

Ah, hm.

Sekarang bukan waktunya bercanda.

Jika seseorang bertemu denganku, bukankah sudah jelas kalau aku akan dibunuh?

Itu mungkin saja.

Atau malah, kemungkinan aku terbunuh tinggi.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Meskipun aku menginginkan beberapa informasi tentang manusia, aku akan dibunuh jika mereka menemukanku.

Hm.

Ini buruk.

Semakin sedikit informasinya, semakin aku tidak mengerti.

Dunia macam apa ini?

Orang macam apa yang hidup di dunia ini?

Bagaimana mereka memperlakukan monster sepertiku di dunia ini?

Ada banyak hal yang ingin aku ketahui tetapi aku tidak tahu caranya.

Ah, jika ini adalah novel maka harusnya ada skill "Appraisal" sehingga aku bisa mengumpulkan informasi.

<< Saat ini Anda memiliki 100 skill point. Skill Appraisal [LV1] dapat diperoleh dengan menghabiskan 100 poin skill. Apakah Anda ingin mendapatkannya? >>

.... Beneran?

Tiba-tiba, aku mendengar suara yang terdengar seperti mesin di dalam kepalaku.

Oh, jadi begitu.

Ternyata ada.

Ada skill ‘Appraisal’!

Yuhu!

Aku senang sekali!

Entah bagaimana itu menjadi seperti reinkarnasi dunia yang berbeda!

Jawaban tentu saja YA!

<< Appraisal [LV1] telah diperoleh. Skill point yang tersisa 0.

Meskipun aku menghabiskan semua skill point-ku, poin seperti itu pasti akan meningkat saat aku naik level jadi aku tidak perlu mengkhawatirkannya.

Ngomong-Ngomong!

Aku harus memeriksa skill "Appraisal" milikku dengan menilai beberapa benda!

.... Bagaimana cara menggunakannya?

Nah, untuk saat ini, aku harus mencoba berfokus pada sebuah batu sambil mengucapkan "Appraisal" dalam benakku.

Mmmm!

Kurasa itu berhasil!

Informasi mengalir dengan cepat ke dalam kepalaku.

[ Batu ]

........Hmm?

Hah?

Itu saja?

Tidak, tidak, tidak,

Nggak mungkin begitu, kan?

Kemungkinan besar aku gagal karena ini pertama kalinya.

Mari kita coba lagi.

[ Batu ]

.........Eh?

Jangan bilang, hanya itu?

Tidak, tidak, tidak, tidak.

Pasti batu ini tidak memiliki nilai informasi. Jadi, aku yakin itu hanya batu biasa.

Sekarang, aku akan mencoba untuk menilai dinding.

Mungkin saja, aku bisa tahu tempat macam apa ini.

Aku akan merasa tenang jika ada nama dan penjelasan tentang gua itu setelah kunilai.

[ Dinding ]

...........

Aku tidak akan mengatakan apa-apa kali ini.

[ Appraisal LV1 ] . Karena ada kata LV jadi kupikir aku perlu lebih memikirkannya.

Dengan kata lain, skill tidak akan banyak berpengaruh di LV1.

Padahal aku ingin menaikkan LV, tapi aku tidak punya skill point untuk digunakan.

Uwaa!

Aku telah menyia-nyiakan semua skill point-ku!

Aku tidak tahu jenis skill apa yang ada selain "Appraisal" tetapi seharusnya ada skill yang jauh lebih berguna meskipun baru LV1!

Tidak, aku harus berpikir sebaliknya.

Jika "Appraisal" saja seperti ini, maka skill lain juga akan memiliki efek yang tidak berguna di LV1.

Mari kita berpikir seperti ini.

Kalau tidak, aku tidak akan bisa maju.

Haaa.

Nggak mungkin!

Apa sekalian saja aku menilai diriku sendiri?

[ Laba-laba

Tanpa nama ]

Hmm?

Seperti yang kuharapkan bahwa laba-laba muncul setelah kunilai tapi ... tanpa nama?

Hanya itu informasi yang ada. Tidak ada bedanya dengan di awal.

Tanpa nama.

Yah, aku punya nama di kehidupanku sebelumnya jadi apakah itu berarti aku yang sekarang sebagai laba-laba tidak punya nama?

Untuk saat ini, aku akan menyingkirkan skill "Appraisal" yang tidak berguna ini.

Atau malah, aku harus mengatakan skill "Appraisal" ini membuat segalanya menjadi lebih rumit.

Skill point.

Aku mungkin bisa memperoleh skill baru jika aku menyimpan beberapa poin.

Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkan poin.

Jika dunia ini menggunakan konsep LV, maka aku harusnya bisa mendapatkan poin dengan cara naik level.

Kalau seperti itu.

Dunia ini seperti game yang memiliki LV, skill dan poin.

Bukannya begini tidak masalah?

Paling-paling, aku hanya seekor monster laba-laba.

Aku tidak mungkin hidup layak. Ah. Pertama-tama, aku hanyalah seekor laba-laba. Aku mungkin harus hidup layaknya seekor laba-laba alih-alih seorang manusia.

Ngomong-ngomong, di dunia seperti game ini, karena terlahir sebagai laba-laba, aku harus menjalani hidupku sebagai laba-laba di dunia seperti ini bagaikan sedang bermain game.

Untuk saat ini, aku lapar.

***

[Baca Kumo Desu Ga, Nani Ka? Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://turb0translation.blogspot.com/ 


<<<

Chapter 002          

>>>             

Chapter 004

===

Daftar Chapters 


Ingin memberi dukungan? Klik https://saweria.co/storylover


Kumo Desu Ga, Nani Ka? (#2)




Chapter 2: Tampaknya Aku Seekor Monster

Penerjemah: Shira Ulwiya

 

Yah, aku enggan mengatakannya tapi aku memang bereinkarnasi menjadi laba-laba.

Meskipun aku menerima kenyataan bahwa aku laba-laba, apa yang harus aku lakukan sekarang?

Krauk! Krauk!

Anehnya, aku mendengar suara yang menakutkan.

Tidak baik berpaling dari kenyataan.

Di depan mataku, ada pasukan laba-laba yang mungkin bisa kuanggap sebagai saudara kandungku.

Suara itu hanya mungkin berasal dari mereka.

Aku menatap ke depan tanpa suara.

Krauk! Krauk!

Hogyaa!?

Apa yang mereka lakukan!?

Hah, mereka sedang makan apa?

Mereka memangsa satu sama lain!?

Satu-satunya yang bisa kulihat adalah perjuangan hidup-mati di antara saudara-saudaraku.

Tidak, tidak, tidak, tidak!

Ini buruk, ini sangat buruk!

Mengapa aku harus bertarung melawan saudara kandungku sendiri!?

Ah, itu demi makanan.

Mereka semua lapar.

Sebenarnya aku juga lapar.

Ha!?

Tidak, tidak.

Lagi-lagi aku lari dari kenyataan.

Di medan perang seperti itu, aku hanyalah seorang gadis lugu yang akan jatuh ke dalam cengkeraman pria dalam sekejap mata.

Ini hanya perumpamaan!

Bertarung atau melarikan diri?

Satu-satunya cara untuk melewati situasi ini adalah dengan mundur dari pertempuran.

Haruskah aku bertarung?

Mustahil.

Aku pencinta damai.

Tidak mungkin aku bisa bertarung dengan kelompok yang sadis seperti itu.

Ah! Penampilanku saat ini sama dengan mereka.

Ya.

Jika aku punya waktu memikirkan hal-hal yang tidak berguna, lebih baik aku melarikan diri

ZUN!

Sekarang apa lagi!?

Terdengar sebuah suara dan getaran dari belakang.

Ketika aku berbalik, ada seekor laba-laba raksasa.

Oh! Apakah itu ibu?

Atau itu ayah?

Entahlah.

Justru sekarang aku bingung.

Bukankah laba-laba itu terlalu BESAR!?

Ukurannya mungkin sepuluh kali lipat dariku.

Memangnya ada laba-laba sebesar itu di Bumi?

Kres, Krauk.

Ah.

Laba-laba raksasa itu menusuk laba-laba yang lebih kecil dengan kakinya lalu memakannya.

Seolah-olah sedang makan camilan.

Ibu, tega-teganya...!

Sepertinya ia tidak berpikir rasional.

Aku harus melarikan diri dari sini. Tujuanku saat ini hanya bertahan hidup!

Aku melarikan diri dengan kecepatan penuh.

Setelah lelah berlari bahkan sampai aku tidak bisa bergerak lagi, aku akhirnya bisa tenang.

Tidak ada laba-laba yang mengejar di belakangku.

Ah, kupikir aku akan mati.

Sama sekali tidak lucu jika aku mati begitu baru lahir.

Sekarang setelah menyadari situasiku, aku memikirkan berbagai hal.

Saat ini aku adalah laba-laba.

Itu fakta yang harus kuterima.

Yah, mana ada manusia yang bisa melompat melampaui tinggi badannya sendiri dengan mudah dan berlari menaiki dinding.

Apa yang aku bicarakan?

Ini cerita tentang pelarianku.

Dengan begitu banyaknya laba-laba di tempat itu, mustahil bisa melarikan diri dengan berlari lurus.

Jika aku harus mengumpamakannya, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu saat ada obral.

Sungguh tindakan yang sembrono!

Yah, aku bahkan belum pernah menerobos kerumunan demi barang obralan.

Pokoknya, ketika aku kabur tadi, aku melompat dan berlari di dinding seperti ninja dan melarikan diri dari kepungan laba-laba.

Ketika tadi aku berlari, aku merasa aneh karena jumlah kakiku banyak tetapi entah bagaimana aku berhasil menggerakkannya dengan baik tanpa tersandung.

Apa itu yang disebut naluri alami?

Hm, yah, bagus sih kalau bisa menggerakan tubuh semauku.

Jadi jika aku laba-laba, lalu laba-laba super besar apa yang aku lihat tadi?

Hm.

Kalau coba kutebak, apa itu benar-benar ibu atau ayahku?

Aku tidak tahu banyak tentang ekologi laba-laba tetapi orang tua yang memakan anaknya sendiri seharusnya ada di alam liar.

Yah, laba-laba adalah ras yang memangsa satu sama lain begitu mereka baru lahir, sehingga tidak aneh jika orang tua memakan anaknya sendiri.

Jika laba-laba raksasa itu adalah orang tuaku, apa aku akan jadi sebesar itu suatu hari nanti?

Memikirkannya saja membuatku sakit kepala.

Tidak, laba-laba adalah serangga berguna yang membantu orang lain. Bukankah itu lebih baik daripada diriku di kehidupan sebelumnya?

Huh, aneh sekali, entah kenapa aku sekarang merasa sedih.

Ah, tidak, tidak.

Mari kita kembali ke pemikiran yang tadi.

Membandingkan diriku dengan laba-laba besar itu terlalu berlebihan.

Karena aku tidak tahu seberapa besar ukuran tubuhku.

Jika ukuran tubuhku hanya sebesar ujung jari, maka itu bagus.

Jika demikian, maka aku dapat memahami ukuran laba-laba raksasa itu.

Meski begitu, setidaknya ia seukuran tarantula.

Namun, jika ukuranku lebih besar lagi maka laba-laba raksasa itu seharusnya merupakan jenis baru yang belum ditemukan di bumi.

Kalau itu benar spesies baru yang belum ditemukan sih bukan masalah, tetapi aku mengalami reinkarnasi seperti dalam cerita fantasi sehingga berpikir optimis untuk saat ini mungkin tidak tepat.

Untuk mengkonfirmasinya, aku harus mencari tahu sesegera mungkin badanku sebesar apa.

Apakah ada yang bisa aku bandingkan dengan ukuran badanku?

Aku melihat sekeliling.

Sepertinya aku berada di dalam gua yang agak besar.

Meskipun tidak ada cahaya, pemandangannya bagus meskipun redup.

Aku melihat sekeliling dengan gelisah.

Oh, I-Ini!

Aku melihat jejak kaki orang di tanah.

Oh!

Jejak kaki beberapa orang terlihat jelas!

Dengan kata lain, itu berarti seseorang barusan datang ke sini.

Itu berarti ada manusia di dunia ini.

Aku sangat tersentuh ketika aku tahu ada seseorang di sini.

Sebaliknya, aku menyadari fakta yang mengerikan.

Tubuhku jauh lebih besar dari jejak kaki orang itu.

Hm.

Dengan asumsi bahwa tinggi orang tersebut sekitar 170 cm, berarti panjang badanku sekitar 1 m.

Aah, hm.

Aku sudah sedikit menduganya sejak melihat laba-laba raksasa itu.

Bagaimana aku memikirkannya, aku bukan seekor laba-laba yang hidup di Bumi,

Dengan kata lain, ini adalah dunia yang berbeda dari Bumi dan tidak peduli seberapa positif aku berpikir, aku pastilah seekor monster....Terima kasih banyak!

***

[Baca Kumo Desu Ga, Nani Ka? Bahasa Indonesia di https://shiraulwiya.blogspot.com/]

Diterjemahkan dari https://turb0translation.blogspot.com/ 


<<<

Chapter 001          

>>>             

Chapter 003

===

Daftar Chapters 


Ingin memberi dukungan? Klik https://saweria.co/storylover